Narasi

Refleksi Akhir Tahun : Pentingnya Muhasabah Kebangsaan untuk Indonesia Harmoni

Tahun 2022 telah mencapai ujung perjalanannya. Sebentar lagi kita akan menapaki tahun 2023. Hendaknya pergantian tahun ini tidak berlalu begitu saja, tanpa makna. Hal terbaik yang harus kita lakukan adalah muhasabah (introspeksi) untuk memperbaiki wajah kita sendiri, wajah beragama kita dan wajah Indonesia.

Imam Ghazali mengingatkan kita akan pentingnya introspeksi diri, bahkan tidak hanya pada saat tutup tahun, namun setiap hari kita dianjurkan untuk “saktah” (diam sejenak) mengoreksi diri. Ia mengingatkan hal itu dalam karya monumentalnya, Ihya’ Ulumuddin (IV: 420).

Seyogyanya, setiap individu meluangkan waktu sejenak pada awal hari, membuat persyaratan sebagai nasihat untuk dirinya. Untuk menuntut dan mengadili dirinya, baik aktifitas maupun diamnya.

Lanjut Imam Ghazali, diakhir waktu hendaklah melakukan muhasabah (introspeksi). Hal ini penting supaya setiap individu memiliki kesempatan untuk menilai dan mengoreksi dirinya, baik disaat diam maupun disaat melakukan berbagai aktifitas. Orang yang baik, kata Imam Ghazali, adalah mereka yang melakukan muhasabah pada pagi dan sore hari, awal dan akhir pekan dan di awal dan akhir tahun.

Al Qur’an mengingatkan: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. al Hasyr: 18).

Ayat di atas mengingatkan kita akan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri supaya hari esok lebih baik dari hari sebelumnya, supaya tahun depan kita hidup lebih baik dan lebih berkualitas dari tahun kemarin. Lebih baik dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

Muhasabah Kebangsaan Menuju Indonesia Aman dan Damai

Dalam konteks keindonesiaan hari ini, introspeksi terhadap kondisi bangsa merupakan hal penting. Sebab, sampai tahun ini fenomena radikalisme masih subur dan akut. Paham keagamaan radikal bertumbuh dan bergerak secara massif. Hal ini berakibat menumbuh suburkan intoleransi sehingga tenun kebangsaan terurai.

Islam yang sedari awal kehadirannya memproklamirkan diri sebagai agama penuh welas asih yang menebarkan kerahmatannnya untuk alam semesta, di tangan kelompok radikal berubah wajah menjadi agama yang bengis, penghancur dan pembunuh. Mereka menggugat Pancasila, dituduh bertentangan dengan ajaran Islam. Menuduh Indonesia sebagai negara thagut karena tidak memakai al Qur’an dan hadits sebagai sumber hukum secara formal.

Ayo bangun dan sadar, cuci muka, ingatkan diri kita, saatnya tersadar bahwa Indonesia dengan kebhinekaannya merupakan kodrat Tuhan. Renungi, Indonesia adalah nikmat besar bagi bangsa Indonesia. Negara yang selama ini damai, harmonis, penuh toleransi juga nikmat yang harus disyukuri. Saatnya kita introspeksi supaya tersadar bahwa segala kekerasan atas nama agama yang berpotensi mengoyak tenun kebangsaan harus segera diakhiri.

Kita diam sejenak, bermuhasabah, supaya kita menjadi dewasa dan menilai setiap perbedaan dengan lapang hati, karena kita memang tak sama dan tidak harus sama. Agama, keyakinan dan madhab yang kita pilih adalah pilihan terbaik menurut kita, tapi tidak boleh dipaksakan kepada orang lain. Kita harus bangga, karena kita bhineka tapi mampu untuk tunggal eka.

Di akhir tahun ini, kita berpikir sejenak, dulu dunia memuji kita karena kemampuan membangun persatuan dalam kemajemukan; kekuatan membangun toleransi dalam perbedaan agama, suku serta golongan; berhasil merawat persaudaraan sebangsa secara baik; dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”. Tapi kini, semuanya terancam rusak, maka tugas kita semua untuk merajut kembali tenun kebangsaan yang telah terurai.

Kita renungkan, betapa hebatnya Pancasila. Di samping tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal ajaran Islam, Pancasila yang disarikan dari nilai-nilai dasar para leluhur Nusantara mampu mempersatukan semua kebhinekaan. Pancasila mampu merangkum semua keragaman di Indonesia. Oleh karenanya, Indonesia menjadi negara yang damai dalam perbedaan yang melingkupinya.

Mari, renungkan dan introspeksi, sudah saatnya melakukan taubat nasional. Karena selama ini kita telah berusaha merusak negara dengan paham radikal yang sejatinya hanya “membungkus kebatilan dengan kemasan agama”. Belum terlambat untuk tidak dikatakan sebagai pengkhianat di negara ini.

Setelah kesadaran itu tumbuh dalam jiwa kita, selanjutnya memanjatkan doa akhir tahun: “Ya Muhawwilal Ahwal, Hawwil Halana ila Ahsanil Ahwal”. Duhai Tuhanku, wahai dzat yang mengubah keadaan, ubahlah keadaan kami kepada sebaik-baiknya keadaan.

This post was last modified on 28 Desember 2022 12:01 PM

Faizatul Ummah

Recent Posts

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

2 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

2 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

7 hari ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

7 hari ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 minggu ago

Peta Jalan Penanggulangan Terorisme-Jurnal Jalan Damai Vol. 1. No. 10 Desember 2025

Salam Damai, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal…

4 minggu ago