Narasi

Refleksi Hari Sumpah Pemuda 2024: Membangun Resiliensi Pemuda Masa Kini untuk Menjaga Ketahanan Ideologi Pancasila

Pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya, bangsa Indonesia memperingati Sumpah Pemuda, sebuah momentum bersejarah yang melambangkan kesatuan dan persatuan pemuda dari berbagai daerah, bahasa, dan suku dalam satu cita-cita nasional. Hari Sumpah Pemuda bukan hanya sekadar perayaan tahunan, melainkan kesempatan untuk merefleksikan kembali semangat yang menginspirasi persatuan bangsa pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan.

Di tahun 2024 ini, refleksi Sumpah Pemuda memerlukan pendekatan yang berbeda, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan modern yang semakin kompleks. Pemuda Indonesia masa kini menghadapi arus digitalisasi dan perubahan sosial yang berlangsung cepat, yang tidak hanya memberikan peluang, tetapi juga ancaman terhadap ketahanan ideologi bangsa, yaitu Pancasila. Oleh karena itu, membangun resiliensi pemuda menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan mereka mampu menghadapi tantangan tersebut dan menjaga ketahanan ideologi Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Resiliensi atau ketahanan diri adalah kemampuan individu atau kelompok untuk bangkit dari berbagai tekanan dan tantangan, serta kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi yang berubah. Dalam konteks ini, resiliensi pemuda berarti menguatkan kemampuan mereka untuk tetap teguh pada nilai-nilai Pancasila meskipun dihadapkan pada pengaruh-pengaruh eksternal yang potensial mengikis jati diri bangsa sebagai bangsa yang damai.

Globalisasi, misalnya, membawa berbagai macam ideologi dan budaya dari luar yang dapat mempengaruhi pola pikir generasi muda. Sering kali, kebebasan informasi dan akses terhadap dunia luar memudahkan masuknya ideologi ekstrem yang berpotensi bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Sebut saja penyebaran radikalisme di dunia maya, misalnya.

Tanpa adanya filter yang tepat, pengaruh ini dapat membuat pemuda kehilangan arah dalam menentukan mana yang sesuai dengan nilai kebangsaan dan mana yang tidak. Resiliensi pemuda dibutuhkan agar mereka mampu memilah-milah informasi dan menyaring pengaruh-pengaruh yang datang dari luar, sekaligus mempertahankan identitas kebangsaan mereka yang berlandaskan Pancasila. Sehingga nilai-nilai Pancasila tetap lestari dan terjaga selamanya.

Di tengah berbagai dinamika yang terjadi, peran pemuda sebagai penjaga ideologi Pancasila tidak bisa dianggap remeh. Pemuda memiliki potensi besar sebagai penggerak perubahan yang membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Dengan membangun resiliensi, mereka tidak hanya menjaga diri mereka sendiri dari pengaruh buruk, tetapi juga mampu menginspirasi dan mempengaruhi lingkungan sekitar untuk bersama-sama menjaga nilai-nilai kebangsaan. Sumpah Pemuda adalah bukti sejarah bahwa pemuda memiliki kekuatan besar untuk merajut persatuan dan menjaga keutuhan bangsa. Hari Sumpah Pemuda 2024 mengingatkan bahwa tugas pemuda saat ini tidak jauh berbeda dengan tugas pemuda di masa lalu, yaitu menjaga persatuan dan kesatuan, serta memperjuangkan nilai-nilai bangsa.

Ini artinya, di tengah dinamika global yang terus berubah, Indonesia tetap membutuhkan peran generasi pemuda yang tidak hanya cerdas dan kreatif, tetapi juga tangguh dan memiliki prinsip kuat dalam menjunjung nilai-nilai Pancasila. Karena itu, dalam hal ini, membangun resiliensi pemuda ibaratnya adalah seperti investasi jangka panjang yang akan menentukan masa depan bangsa ke depan: yakni, bangsa yang bersatu, rukun, dan damai.

Pemuda yang resiliens akan mampu menghadapi tantangan dengan kepala tegak, serta menjadi penggerak utama dalam mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. Dengan semangat Sumpah Pemuda, mari kita bersama-sama membangun generasi muda Indonesia yang tangguh dan siap menjaga ketahanan ideologi Pancasila, demi kejayaan bangsa.

Helliyatul Hasanah

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

1 minggu ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

1 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

2 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

3 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 bulan ago