Narasi

Refleksi Sejarah; Persaudaraan Indah dari Rumah Ibadah

Rumah ibadah menjadi tempat umat beragama beribadah dan mendekatkan diri pada Tuhan. Sebagai tempat beribadah, sudah semestinya rumah ibadah dikondisikan agar selau sejuk, nyaman, tenang, dan damai.

Bagi umat Muslim, rumah ibadah yang berupa masjid memiliki cerita panjang. Tak sekadar tempat beribadah, masjid dalam sejarah peradaban Islam menyimpan banyak cerita. Di masjid, umat muslim berkumpul, membangun persatuan, mengadakan pembelajaran dan pendidikan, berdakwah, hingga bermusyawarah.

Di zaman Rasulullah Saw, masjid bahkan bisa dikatakan menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahuan. Lebih jauh, masjid bahkan menyimpan kisah tentang toleransi dan penghormatan pada umat beragama lain.

Sekitar tahun 631 M, Rasulullah Saw mendapatkan kunjungan dari para umat Kristen dari Najran. Seperti dikisahkan Ibnu Hisyam dalam al-Sirat al-Nabawiyat, sebagaimana dikutip Dedik Priyanto (2017), rombongan dari Najran tersebut berjumlah 60 orang dan 14 orang di antaranya merupakan pemimpin Kristen Najran.

Baca juga : Membumikan Falsafah Bangsa Melalui Rumah Ibadah

 Sesampainya di Madinah, rombongan Kristen dari Najran tersebut menuju ke masjid. Sebab, menurut informasi yang diterima, saat itu Rasulullah Saw memang sedang berada di masjid bersama para sahabat. Setelah bertemu, kalangan Kristen Najran berdiskusi dengan Rasulullah Saw dan kalangan Muslim.

Craig Considine, dalam bukunya Muhammad Nabi Cinta (2018), memberi keterangan bahwa dalam pertemuan tersebut, golongan Muslim dan Kristen secara terbuka mendiskusikan banyak hal. Mulai tentang pemerintahan, politik, hingga agama. Sampai kemudian, setelah diskusi diplomatik di antara kedua pihak, waktu kebaktian tiba. Kalangan Kristen Najran saling menoleh dan menanyakan tentang lokasi gereja terdekat. Namun, saat itu tidak ada gereja terdekat untuk melaksanakan ibadah.

Jadi, delegasi Kristen mulai berjalan keluar dari masjid untuk bersembahyang di jalanan Madinah. Apa yang dilakukan Rasulullah Saw?

Rasulullah Saw tak membiarkan kalangan Kristen Najran beribadah di jalanan yang padat dan berdebu. Beliau berkata kepada mereka, “Kalian adalah para pengikut Tuhan. Silakan berdoa dalam masjidku. Kita semua saudara sesama manusia”. Craig menulis bahwa memang tak ada rekaman atau transkip persisnya kata-kata yang dikatakan Nabi Muhammad Saw saat itu. Namun, pada intinya kelompok Muslim mengizinkan Masjid Nabawi, tempat suci umat Islam, digunakan sebagai tempat untuk beribadah dan kebaktian rombongan Kristen Najran.

 Craig Considine adalah seorang Nasrani yang begitu mengagumi Nabi Muhammad Saw. Pengajar di Rice University Amerika Serikat tersebut banyak mempelajari dan mendalami tentang Nabi Muhammad Saw dan Islam kemudian menyuarakan nilai-nilai dan ajaran persaudaraan dan perdamaian Islam di masyarakat Barat.

Kisah kunjungan rombongan Kristen Najran ke Madinah tersebut dinilai Craig memperlihatkan bagaimana Rasulullah Saw begitu menjaga persaudaraan dan hubungan baik dengan umat beragama lain. Peristiwa yang terjadi di masjid tersebut menjadi momentum penting tentang bagaimana hubungan baik antara dua komunitas keagamaan dibangun.

Kisah tersebut menggambarkan bagaimana masjid juga menyimpan kisah tentang penghormatan dan persaudaraan, tak sekadar antar umat Islam, bahkan dengan umat beragama lain. Kisah tersebut mesti menjadi refleksi yang menyadarkan kita semua hari ini, agar menjadikan masjid atau rumah ibadah sebagai tempat untuk merekatkan ikatan persaudaraan dengan sesama. Sejarah telah menarasikan kisah tentang masjid sebagai tempat dan pusat ilmu dan kebudayaan, juga tempat umat Islam membangun diplomasi dan persaudaraan dengan umat lain.

Hal tersebut penting diresapi, terutama hari-hari ini, untuk memastikan agar masjid selalu sejuk, nyaman, damai, dan jauh dari narasi-narasi kebencian yang memecah belah umat. Di tengah menguatnya persaingan politik, juga ancaman perkembangan radikalisme yang tidak jarang “memasuki” masjid lewat ceramah-ceramah, bahkan khotbah, masjid mesti ditegaskan kembali sebagai tempat yang harus dijaga kesuciannya. Yakni dengan menjaga kesejukan dan perdamaian demi kenyamanan orang-orang yang beribadah.

Masjid jangan sampai menjadi tempat menyuarakan kebencian yang memecah belah umat. Di samping menjadi tempat ibadah, masjid mesti menjadi tempat umat untuk belajar membangun dan menguatkan persatuan, juga merajut tali persaudaraan, toleransi, dan kasih sayang kepada sesama.

Sebagai tempat ibadah, sudah semestinya suasana dan nuansa aman, damai, dan tentram dijaga dalam masjid. Sebagai tempat mendekatkan diri pada Allah, sudah selayaknya juga masjid menjadi tempat kita berefleksi, bertafakur, dan berkontemplasi untuk terus berusaha menjadi umat yang lebih baik, umat yang bisa menjaga persatuan dan persaudaraan dengan sesama manusia. Wallahu a’lam..

This post was last modified on 21 Februari 2019 12:45 PM

Al Mahfud

Lulusan Tarbiyah Pendidikan Islam STAIN Kudus. Aktif menulis artikel, esai, dan ulasan berbagai genre buku di media massa, baik lokal maupun nasional. Bermukim di Pati Jawa Tengah.

View Comments

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago