Narasi

Resolusi 2025: Mewaspadai Propaganda Radikal HTI dan Wahabi Berkedok Purifikasi

Salah satu bentuk propaganda yang perlu diwaspadai di tahun 2025 adalah upaya kelompok radikal seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Wahabi yang menyusup ke tengah masyarakat dengan dalih purifikasi akidah. Istilah ini, yang berarti pemurnian keyakinan atau ajaran agama, kerap digunakan untuk menutupi agenda tersembunyi mereka, yaitu menggiring umat menuju paham yang radikal, intoleran, dan menolak keberagaman keyakinan. 

Di balik retorika “pemurnian akidah”, kelompok-kelompok seperti HTI dan Wahabi sering menyebarkan doktrin yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin, Pancasila, dan budaya lokal yang menjunjung tinggi keberagaman. Karena itu, di tahun 2025 ininmeningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak terjebak dalam propaganda radikal ini, yang berpotensi memecah belah bangsa dan melemahkan persatuan sangatlah penting. 

HTI, meskipun telah dilarang secara resmi oleh pemerintah Indonesia, masih tetap aktif bergerak di bawah radar, menggunakan berbagai strategi untuk menyebarkan paham khilafah sebagai sistem pemerintahan ideal. Mereka sering membungkus agenda politik ini dengan narasi keagamaan, seperti pentingnya kembali kepada Islam yang “murni” dan menerapkan syariat secara kaffah. Dalam praktiknya, HTI memanfaatkan isu-isu sosial dan politik, seperti ketimpangan ekonomi atau ketidakadilan hukum, untuk menanamkan ideologi mereka. 

Mereka mengklaim bahwa semua masalah tersebut hanya dapat diselesaikan melalui penerapan khilafah, sembari menyalahkan sistem demokrasi dan pemerintah yang dianggap tidak sesuai dengan Islam. Narasi ini sering kali dikemas secara emosional, menargetkan kaum muda, mahasiswa, dan masyarakat yang merasa terpinggirkan. Akibatnya, banyak individu yang akhirnya terpengaruh tanpa menyadari bahwa agenda HTI tidak hanya bertentangan dengan Pancasila, tetapi juga tidak mencerminkan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Sementara itu, kelompok Wahabi, yang sering kali mengklaim sebagai penjaga “kemurnian” Islam, turut berperan dalam menyebarkan paham radikal melalui purifikasi akidah. Dengan pendekatan yang eksklusif, mereka menolak tradisi keagamaan lokal, seperti ziarah kubur, tahlilan, dan praktik-praktik keagamaan lain yang sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Wahabi sering kali mencap amalan-amalan tersebut sebagai bid’ah, syirik, atau bahkan kufur, yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang benar m

Sikap ini menciptakan polarisasi di tengah umat, memecah belah masyarakat, dan menanamkan bibit-bibit intoleransi. Lebih dari itu, Wahabi juga dikenal memiliki pandangan yang keras terhadap kelompok-kelompok yang berbeda, baik dari segi mazhab maupun keyakinan. Pendekatan semacam ini tidak hanya mengancam kerukunan umat beragama, tetapi juga mengikis nilai-nilai toleransi yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Propaganda HTI dan Wahabi memiliki kesamaan dalam hal strategi, yaitu menyasar kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam memahami agama secara mendalam. Mereka sering memanfaatkan media sosial, buku, dan kajian-kajian keagamaan sebagai alat untuk menyebarkan doktrin mereka. Melalui platform digital, mereka menyebarkan informasi yang tampak religius tetapi sesungguhnya dipenuhi dengan pemikiran radikal. 

Kajian-kajian seperti itu biasanya diadakan secara tertutup, dengan peserta yang direkrut secara selektif oleh mereka. Pendekatan ini membuat banyak orang merasa istimewa karena diajak bergabung dalam “kelompok eksklusif” yang dianggap memahami Islam dengan benar. Padahal, narasi yang disampaikan justru bertujuan mengisolasi mereka dari pemahaman Islam yang moderat dan membangun permusuhan terhadap pihak lain yang berbeda. 

Bahaya dari propaganda ini tidak dapat dianggap remeh, karena dampaknya dapat meluas ke berbagai aspek kehidupan masyarakat. Pertama, dari segi sosial, propaganda HTI dan Wahabi berpotensi menciptakan konflik horizontal di tengah masyarakat. Klaim mereka tentang kemurnian akidah sering kali membuat pengikutnya memandang kelompok lain sebagai musuh atau bahkan kafir yang harus dimusuhi atau bahkan diperangi.

Kedua, dari segi politik, agenda radikal HTI yang mendukung khilafah secara terang-terangan bertentangan dengan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. Jika ideologi ini terus berkembang, bukan tidak mungkin stabilitas politik dan keamanan nasional akan terganggu. Ketiga, dari segi budaya, penolakan Wahabi terhadap tradisi lokal dapat mengancam kekayaan budaya Nusantara yang telah lama menjadi identitas bangsa.

Oleh karena itu, hal ini harus menjadi kewaspadaan bersama. Dengan memahami ancaman propaganda HTI dan Wahabi yang berkedok purifikasi akidah, kita dapat bersama-sama melindungi nilai-nilai Islam yang damai dan sejalan dengan Pancasila. Mari jadikan tahun 2025 sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas kebangsaan, menanamkan pemahaman agama yang moderat, dan melawan segala bentuk radikalisme yang mengancam bangsa.

 

This post was last modified on 7 Januari 2025 2:50 PM

susi rukmini

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

2 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

2 bulan ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

2 bulan ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

2 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

2 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 bulan ago