Ada satu hal yang jarang diakui anak muda: terkadang kita tidak sedang memperjuangkan sesuatu, melainkan sedang mencari tempat untuk berdiri. Tempat di barisan, di lingkaran pertemanan, atau di tengah orang-orang yang merasa memiliki musuh yang sama. Ketika semua orang bergerak ke satu arah, berhenti sejenak untuk bertanya justru terasa seperti pengkhianatan.
Kita baru saja melihatnya dalam aksi penolakan konser Andrea Bocelli di Jakarta. Selasa, 3 November 2026, konser di JIExpo Kemayoran berlangsung di tengah demonstrasi yang menolak kehadiran penyanyi tenor asal Italia itu. Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia telah menyatakan penolakan karena menilai rekam jejak Bocelli berkaitan dengan dukungan terhadap Israel.
Sikap tersebut merupakan pilihan politik-keagamaan yang dapat disampaikan melalui argumentasi, demonstrasi, maupun desakan kepada pemerintah. Namun, aksi di Kemayoran kemudian diwarnai ketegangan, perobohan pagar pembatas, dan pelemparan batu kepada petugas. Kepolisian melaporkan 33 orang mengalami luka, termasuk Habib Bahar bin Smith yang hadir dalam aksi tersebut.
Di sini kita perlu berhenti sejenak. Persoalannya bukan apakah solidaritas terhadap Palestina penting. Persoalannya adalah bagaimana solidaritas itu dijalankan, siapa yang menentukan arah tindakan, dan apakah mereka yang ikut bergerak masih memiliki ruang untuk berpikir sendiri.
Sebab, sebuah perjuangan dapat memiliki tujuan moral yang kuat, tetapi cara memperjuangkannya tetap dapat kehilangan batas. Membela korban genosida tidak otomatis membenarkan setiap tindakan yang dilakukan atas nama pembelaan tersebut. Ketika pagar dirusak, petugas dilempari, atau massa berusaha menerobos batas keamanan, kita tidak sedang melihat argumentasi yang semakin kuat. Kita sedang melihat bagaimana emosi kolektif dapat mengambil alih penilaian individual.
Ketika Identitas Lebih Kuat daripada Argumentasi
Pada 1950-an, psikolog Solomon Asch melakukan eksperimen yang terkenal tentang konformitas. Peserta diminta mencocokkan panjang garis. Jawabannya sederhana. Namun, ketika sejumlah orang di dalam kelompok sengaja memberikan jawaban keliru, peserta lain kerap ikut menyetujuinya. Mereka sebenarnya melihat sesuatu yang berbeda, tetapi tekanan kelompok membuat mereka meragukan penilaian sendiri.
Bayangkan jika yang dipertaruhkan bukan panjang garis, melainkan keyakinan agama, solidaritas Palestina, atau harga diri kelompok. Tekanan untuk mengikuti arus tentu jauh lebih besar.
Anak muda sering menjadi bagian penting dalam mobilisasi semacam ini. Mereka memiliki energi, keberanian, kemampuan mengorganisasi diri, dan solidaritas yang kuat. Namun, karakter tersebut juga dapat dimanfaatkan ketika sebuah gerakan menawarkan tiga hal sekaligus: identitas yang membanggakan, musuh yang dianggap jelas, dan peran kepahlawanan yang terasa mendesak.
Dalam kerumunan, seseorang tidak lagi merasa sekadar individu. Ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Seruan pemimpin terdengar seperti komando moral. Tindakan yang sebelumnya mungkin dianggap berlebihan menjadi terasa wajar ketika dilakukan bersama-sama.
Inilah yang membuat kerumunan berbahaya: bukan karena semua orang di dalamnya kehilangan akal, melainkan karena setiap orang dapat menyerahkan sebagian tanggung jawab berpikirnya kepada kelompok.
Ketika Tokoh Menjadi Kompas, Anak Muda Kehilangan Arah
Kehadiran tokoh agama dalam mobilisasi massa memiliki pengaruh yang tidak kecil. Bagi sebagian pengikut, figur tersebut bukan hanya pemimpin, melainkan sumber legitimasi moral. Apa yang disampaikan atau dilakukan tokoh dapat dipersepsikan sebagai sesuatu yang layak diikuti, bahkan sebelum diperiksa secara kritis.
Dalam aksi penolakan konser Andrea Bocelli, kehadiran Habib Bahar bin Smith menjadi salah satu perhatian publik. Ia terlihat berada di tengah massa dan terlibat dalam situasi yang memanas di sekitar pagar pembatas.
Anak muda yang datang dengan niat membela Palestina mungkin tidak semuanya memiliki tujuan yang sama. Tetapi dalam kerumunan yang semakin emosional, niat awal tidak selalu menentukan tindakan akhir. Di titik inilah mobilisasi massa perlu dikritisi. Anak muda dapat menjadi pelaku tindakan, tetapi sekaligus menjadi objek mobilisasi.
Sejarah intelektual Islam memberikan pelajaran yang menarik. Imam Malik menolak gagasan menjadikan kitabnya sebagai satu-satunya rujukan bagi seluruh negeri. Penolakan itu lahir dari kesadaran bahwa pengetahuan tidak dimonopoli satu orang dan bahwa perbedaan pendapat memiliki ruangnya sendiri.
Imam Syafi’i juga memperlihatkan keberanian mengubah pendapat ketika menemukan argumentasi yang lebih kuat. Perubahan pandangan bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari perjalanan ilmu.
Keduanya mengajarkan bahwa kesetiaan kepada kebenaran tidak selalu berarti kesetiaan kepada kelompok atau figur. Bahkan, dalam tradisi keilmuan Islam, penghormatan kepada guru tidak menghapus kewajiban murid untuk menimbang argumentasi.
Bandingkan dengan budaya digital dan mobilisasi massa kita hari ini. Kritik terhadap tokoh sering dianggap serangan terhadap komunitas. Pertanyaan terhadap seruan kelompok dicurigai sebagai ketidaksetiaan. Seseorang lebih mudah mendapatkan tepuk tangan karena keberaniannya mengikuti arus daripada karena kemampuannya mempertanyakan arah arus tersebut.
Saya tidak sedang mengajak anak muda menjauhi demonstrasi. Demonstrasi adalah bagian dari demokrasi. Solidaritas terhadap Palestina juga merupakan ekspresi kepedulian kemanusiaan yang memiliki tempat penting dalam kehidupan publik.
Yang perlu ditolak adalah anggapan bahwa semakin besar kerumunan, semakin benar tuntutannya; semakin keras suara, semakin kuat argumentasinya; atau semakin terkenal tokoh yang memimpin, semakin tidak perlu tindakan itu diperiksa.
Pada akhirnya, kedewasaan bukan diukur dari seberapa berani seseorang berada di barisan terdepan, tetapi dari seberapa mampu ia menjaga akal sehat ketika semua orang di sekitarnya sedang kehilangan ketenangan.
Anak muda tidak seharusnya menjadi tenaga bagi kerumunan yang berpikir untuk mereka. Mereka harus menjadi individu yang berpikir, bahkan ketika memilih berdiri bersama orang banyak. Sebab, perjuangan yang kehilangan akal sehat bukan lagi pembelaan terhadap kebenaran, melainkan kemungkinan lahirnya ketidakadilan baru.
Ruang publik digital hari ini tengah menghadapi krisis kesabaran. Di tangan generasi muda yang tumbuh…
Saya ingin menguji tesis apakah vigilantisme atau main hakim sendiri mempunyai korelasi dengan aksi esktremisme…
Wajah propaganda radikal ekstremisme di era algoritma tidak lagi selalu tampil garang dengan simbol-simbol kekerasan…
Akhir pekan lalu, Sabtu-Minggu, 30-31 Oktober 2026 saya berkesempatan menghadiri Festival Toleransi di Salatiga. Sebuah…
Polemik Herri Pras (nama asli Heri Prasetiawan) dengan pendukung Ustaz Adi Hidayat (UAH) dan Ustaz…
Lanskap sosial Indonesia kontemporer kerap diwarnai oleh serangkaian fenomena sosial yang sekilas tampak tidak saling…