Narasi

Ulil Albab dan Sesat Pikir Bencana di Indonesia karena Anti Khilafah

Gerakan pengusung khilafah di Indonesia bertambah gila, gempa yang baru saja mengguncang tanah air kita dikatakan karena NKRI anti Khilafah. Suatu asumsi yang sangat tidak berdasar dan sangat dipaksakan. Hal ini semakin memperjelas kiblat gerakan pengusung khilafah yang semata untuk kepentingan membuat onar di negeri yang damai. Bukan hanya gempa, tetapi setiap kali ada musibah di tanah air mereka akan berteriak “NKRI diazab karena anti khilafah”.

“Khikafah adalah solusi dari setiap problem keagamaan dan kebangsaan”. Itu kata pengasong khilafah. Sebuah nalar dari manusia “otak reptil”. Pertama, karena tidak semua bencana apabila dilihat dari kaca mata agama adalah musibah, bisa sebagai ujian dari Allah. Alasan kedua, musibah bisa terjadi karena kerusakan alam dan karena fenomena alam sebagai kodrat ilahi.

Solusi dari setiap musibah atau bencana alam yang terjadi adalah introspeksi diri terhadap kealfaan dan kelemahan kita. Bagi orang yang beragama introspeksi itu berupa kealfaan terhadap perintah Tuhan dan gelimang dosa yang selama ini banyak dikerjakan. Dan, dalam konteks kehidupan berbangsa adalah bagaimana menjadi warga negara yang baik. Melakukan antisipasi pra gempa maupun pasca gempa. Dalam hal ini adalah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan fenomena alam.

Oleh karena itu, jika dicermati lebih detail, gerakan pengusung khilafah yang mengatakan khilafah solusi setiap problem umat dan bangsa, tidak lain dan tidak bukan isinya adalah agitasi, propaganda dan retorika politik dengan bungkus dakwah/agama.

Slogan yang selalu diulang-ulang “Khilafah solusinya” adalah narasi manusia berotak reptil serta tidak mencerminkan ciri manusia Ulil Albab dalam semangat ayat al Qur’an. Mengatakan bahwa sumber permasalahan yang mendera bangsa ini karena tidak menghidupkan khilafah, adalah cara berpikir manusia yang tidak beragama dan tidak memiliki rasa kemanusiaan.

Menjadi Manusia Ulil Albab supaya tidak tertipu narasi sesat “khilafah solusinya”.

Al Qur’an menyatakan “Mereka memiliki hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah) ” (Al A’raf: 179).

Dalam penghujung ayat ini, manusia yang tidak menggunakan akal, mata dan telinganya disebut binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Artinya, segala kelebihan yang dimiliki oleh manusia, seperti akal pikiran, mata dan telinga adalah untuk memahami kebesaran Allah melalui ayat-ayat atau tanda kekuasaannya.

Mengklaim bahwa Khilafah solusi segala problem adalah termasuk ciri manusia yang tidak menggunakan akal, mata dan telinga. Musibah adalah fenomena alam yang memiliki banyak hikmah. Manusia beragama menilainya sebagai cobaan atau bisa jadi adalah adzab Allah. Andaipun itu merupakan adzab, tidak berarti adzab itu ditujukan kepada semua penduduk. Sebab, hanya gara-gara satu orang saja adzab bisa turun menimpa semua manusia. Tetapi, teguran semacam ini tidak berlaku bagi umat Nabi Muhammad. Hal seperti itu biasa terjadi pada umat sebelum Nabi Muhammad.

Oleh karenanya, segala musibah yang terjadi di Indonesia murni fenomena alam atau akibat kerusakan alam akibat ulah tangan-tangan jahat yang mengeksploitasi alam secara sembarangan.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman, “Maka berpikirlah, wahai orang-orang yang berakal budi”. (Al Hasyr: 2).

Seseorang yang tidak berpikir secara baik sejatinya telah membawa dirinya ke dalam kubangan kesalahan. Mengatakan, setiap bencana karena negara anti khilafah, merupakan bentuk atau contoh manusia yang tidak berpikir secara baik.

Orang seperti itu, pada satu sisi telah tercerabut dari akar sejarah (pengetahuannya) dan disisi lain tidak mengimajinasikan masa depan (pemikirannya) dengan baik dalam kehidupannya. Mereka menebar kegelisahan pada diri orang lain. Bagaimana tidak, mereka selalu membenturkan agama dengan kepentingan duniawi. Sebab penegakan khilafah sebetulnya bukan solusi, tapi bencana besar bagi kehidupan beragama dan berbangsa.

Slogan “khilafah solusinya” dan “NKRI diazab karena anti khilafah” adalah bencana bagi bangsa Indonesia yang lebih besar dari bencana gempa yang terjadi. Karena akibat dari gerakan pemaksaan sistem khilafah akan menyebabkan rusaknya pondasi persatuan bangsa Indonesia, perdamaian berubah pertikaian, dan bangsa ini akan tinggal nama.

Yakinlah, ada bencana hebat mengancam bangsa Indonesia yang dampaknya lebih buruk dari pada gempa, banjir, tsunami dan bencana alam yang lain, yakni bencana kemanusiaan yang disebabkan sekelompok orang yang giat menyuarakan tegaknya khilafah di Indonesia. Karena sejatinya gerakan itu hanya ingin merusak kehidupan beragama di Indonesia yang harmonis, serta merusak negara Indonesia. Mereka adalah sekelompok manusia yang lebih senang melihat umat manusia bertikai dari pada melihat kedamaian dan ketentraman.

This post was last modified on 1 Desember 2022 2:35 PM

Faizatul Ummah

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

15 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago