Analisa

Urgensi Sekolah Damai: Benteng Terakhir di Tengah Gelombang Intoleransi, Perundungan dan Kekerasan Pelajar

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), beberapa tahun terakhir aktif menyelenggarakan program Sekolah Damai di berbagai daerah. Meski pelaksanaannya belum massif karena keterbatasan anggaran, gagasan ini muncul dari keprihatinan yang mendalam: paham intoleransi, perundungan dan kekerasan kini mulai menyentuh kalangan pelajar, terutama akibat interaksi intens mereka dengan media sosial dan game online yang sarat dengan muatan kekerasan.

Berbagai kasus kekerasan di luar negeri yang melibatkan pelajar menunjukkan pola yang sama — keterpaparan massif terhadap narasi kebencian di dunia digital. BNPT menyadari betul bahaya ini. Program Sekolah Damai pun lahir sebagai upaya preventif untuk membangun lingkungan pendidikan yang tahan terhadap infiltrasi ideologi radikal dan ekstrem. Tragedi di SMAN 72 Jakarta Utara baru-baru ini seolah menjadi validasi nyata dari kekhawatiran tersebut: pelajar kini menjadi target baru penyebaran ideologi kekerasan yang sulit terdeteksi karena beroperasi dalam ruang maya.

Sekolah Damai tidak sekadar program, tetapi paradigma pendidikan baru yang menumbuhkan budaya saling menghargai, empati, toleransi, dan penyelesaian konflik tanpa kekerasan. Dalam konsep ini, setiap warga sekolah—guru, siswa, hingga tenaga kependidikan—berperan aktif menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan inklusif. Sekolah damai bukan hanya menata perilaku siswa, tetapi mentransformasi budaya sekolah secara keseluruhan.

Para guru dan kepala sekolah menjadi role model serta fasilitator perdamaian. Melalui pembelajaran karakter, mediasi konflik, dan pendidikan sosial-emosional, siswa dilatih untuk menghormati perbedaan, menyelesaikan masalah melalui dialog, dan menumbuhkan empati terhadap sesama. Sekolah yang damai berfungsi sebagai benteng utama dalam mencegah kekerasan—baik fisik maupun psikis—sekaligus menumbuhkan iklim belajar yang sehat dan memotivasi.

Kekerasan di kalangan pelajar SMA sering kali memiliki akar kompleks. Minimnya pendidikan karakter, lemahnya pengendalian emosi, dan budaya kompetitif yang tidak sehat sering melahirkan perilaku agresif seperti tawuran antar sekolah. Kondisi ini diperburuk oleh kurangnya komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua, serta pengaruh negatif media sosial yang kerap menormalisasi kekerasan dan intoleransi. Masuknya paham ekstremis melalui konten digital membuat sebagian remaja melihat kekerasan sebagai ekspresi identitas dan keberanian.

Fenomena ini memperlihatkan adanya ketimpangan dalam sistem pendidikan kita yang masih terlalu menekankan aspek kognitif, sementara aspek afektif dan sosial-emosional kurang diperhatikan. Padahal, pendidikan sejati adalah proses membentuk manusia yang utuh—cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan bermoral secara sosial.

Membangun Sekolah Damai: Langkah-Langkah Strategis

Mewujudkan sekolah damai membutuhkan komitmen kolektif antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat. Beberapa langkah penting dapat dilakukan:

Pertama, integrasi pendidikan perdamaian dalam kurikulum. Nilai-nilai empati, toleransi, dan antikekerasan dapat dimasukkan ke dalam pelajaran seperti PPKn, Pendidikan Agama, dan kegiatan ekstrakurikuler.

Kedua, pelatihan sosial-emosional dan mediasi konflik. Guru dan siswa perlu dibekali kemampuan mengelola emosi, menyelesaikan konflik, dan berkomunikasi secara asertif agar tidak mudah terprovokasi.

Ketiga, penguatan peran guru dan konselor sekolah. Guru harus menjadi figur pendamping yang membantu siswa menghadapi tekanan sosial dan emosional, bukan hanya pengajar akademik.

Keempat, penciptaan iklim sekolah yang inklusif dan aman. Tidak boleh ada diskriminasi atas dasar agama, suku, gender, atau latar belakang sosial. Setiap siswa harus merasa diterima dan dihargai.

Kelima, kolaborasi dengan orang tua dan komunitas. Pendidikan damai tidak berhenti di sekolah. Orang tua dan lingkungan sekitar harus ikut membangun suasana sosial yang positif melalui pola asuh dan interaksi yang humanis.

Sekolah Damai pada akhirnya merupakan strategi jangka panjang untuk membentuk generasi muda yang berkarakter, berempati, dan berjiwa toleran. Di tengah meningkatnya fenomena kekerasan pelajar, sekolah damai menjadi kebutuhan mendesak—sebuah ruang yang tidak hanya melahirkan siswa cerdas secara akademik, tetapi juga matang dalam nalar moral dan kemanusiaan.

Dengan menanamkan nilai-nilai perdamaian sejak dini, sekolah dapat menjadi tempat yang aman, humanis, dan membebaskan. Di sana, perbedaan bukan sumber konflik, melainkan kekuatan untuk tumbuh bersama. Di era di mana radikalisme dan kekerasan dapat tumbuh dari layar gawai, Sekolah Damai adalah benteng terakhir bagi masa depan bangsa.

Suaib Tahir

Suaib tahir adalah salah satu tim penulis pusat media damai (pmd). Sebelumnya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi timur tengah. Selain aktif menulis di PMD juga aktif mengajar di kampus dan organisasi

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago