Narasi

Verifikasi Sebelum Donasi: Belajar dari Kasus ACT dan Syam Organizer

Kecamuk konflik Israel-Hamas telah menewaskan 11.800 ribu korban jiwa dari pihak Palestina. Kekejaman perang ini telah membuat rakyat Palestina kehilangan segalanya. Kondisi inilah yang membuat rasa kemanusiaan kita terpanggil, untuk memberikan bantuan/donasi/infaq kita untuk mereka di sana.

Akan tetapi, verifikasi sebelum donasi itu penting sekali. Yaitu memastikan lembaga donasi itu secara resmi, ter-verifikasi dan amanah benar-benar untuk rakyat Palestina. Verifikasi sebelum donasi ini menjadi penting demi menghindari (modus kelompok radikal) yang memanfaatkan modus donasi kemanusiaan, yang justru dijadikan pendanaan kelompok radikal-teroris.

Belajar dari Kasus ACT dan Syam Organizer

Kita perlu belajar dari dua kasus ACT dan Syam Organizer. Pada tahun 2021 yang lalu, Datasemen Khusus 88 antiteror Polri telah mengungkap lembaga Yayasan Syam Organizer ini terafiliasi dengan terorisme Jamaah Islamiah (JI). Lembaga yang aktif dalam penggalangan dana kemanusiaan mengatasnamakan (rakyat Palestina) ternyata digunakan sebagai pendanaan kegiatan terorisme.

Begitu juga dengan kasus lembaga penggalangan dana bantuan kemanusiaan (ACT). Tim Densus 88 pada Kamis (7/7/22) juga pernah mengungkap aliran dana dari rekening Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) ke kelompok teroris Al-Qaeda hingga mencapai Rp.52,9 Miliar. Semua uang itu hasil dari penggalangan dana berdalih bantuan kemanusiaan untuk Palestina.

Banyak masyarakat yang merasa kecewa setelah pengungkapan kasus ACT dan Syam Organizer itu. Masyarakat kecewa telah menyalurkan donasi yang ternyata digunakan kegiatan terorisme. Jadi di sinilah pentingnya verifikasi lembaga penggalangan dana sebelum melakukan donasi itu.

3 Tips, Agar Bantuan Kemanusiaan Kita Bebas dari Jeratan Kelompok Radikal

Pertama, mengusahakan agar amal kemanusiaan kita disalurkan kepada lembaga resmi pemerintah. Ini merupakan tips penting guna menghindari modus-modus penggalangan dana terhadap kelompok ekstrimis yang memanfaatkan banyak bantuan kemanusiaan. Karena kekuatan kelompok ekstrimis-radikal ketika pendanaan mereka terus mengalir deras.

Misalnya, memilih menyalurkan bantuan amal kemanusiaan kita terhadap lembaga tepercaya pemerintah. Seperti lembaga Komite Nasional Untuk Rakyat Palestina (KNRP). Tentu ada beberapa lembaga bantuan kemanusiaan lain yang bisa dipercaya dan dipastikan benar-benar membantu kemanusiaan.

Jadi, memilih pihak yang tepat dalam menyalurkan amal kemanusiaan kita penting. Karena ini menjadi satu jalan bagi kita untuk semakin memperlemah kelompok ekstrimis-radikalis. Dengan menutup segala celah arah pendanaan mereka yang kerap memanfaatkan berbagai macam modus bantuan kemanusiaan.

Gerakan transparan kelompok ekstrimis radikal itu terus kuat karena mereka memiliki dana yang luar biasa. Bahkan, gerakan-gerakan aksi teror seperti dalam menjalankan aksi teror. Tentu yang menjadi kekuatan penting mereka adalah dana operasional teror itu.

Sehingga, ketika kita memiliki inisiatif untuk berhati-hati dalam memilih penggalangan dana. Lalu menyalurkan dana amal kemanusiaan kita ke pihak lembaga yang resmi dan tepercaya. Maka, di situlah kita juga berperan penting dalam membunuh masa kekuatan kelompok ekstrimis radikal melalui pemacetan pendanaan mereka.

Kedua, jangan mudah percaya dengan banyaknya penggalangan dana di sosial media yang tidak jelas. Jadi, jangan mudah muncul rasa iba dan tergesa-gesa untuk membangun kesadaran philanthropies di sosial media. Karena kita tidak tahu, apakah bentuk penggalangan dana tersebut untuk kemanusiaan atau untuk memperkuat kelompok ekstrimis.

Karena telah begitu banyak fakta kejadian di balik modus penggalangan dana. Ternyata, dana-dana yang mengalir itu digunakan untuk kepentingan kelompok jihadis. Maka, di sinilah tips bagi kita untuk tidak mudah terjebak ke dalam modus-modus penggalangan dana yang disebarkan di sosial media dan pentingnya selektif. 

Ketiga, hindari kelompok yang meminta sumbangan dana untuk orang yang dianggap jihad perang suci di Palestina. Sebagaimana di sosial media, begitu banyak narasi/propaganda yang mencoba merangsang rasa iba terhadap kondisi Palestina saat ini. Berbagai macam propaganda ajakan jihad yang diklaim sebagai peperangan suci di Palestina.

Propaganda semacam ini kerap meminta pendanaan terhadap orang-orang yang berperang di luar negeri sana. Dengan klaim, “jika tidak bisa ikut jihad berperang, maka setidaknya bisa memberi sumbangan untuk mereka yang sedang jihad berperang”. Lalu muncul berbagai macam bentuk penggalangan dana untuk para pejuang jihad di Palestina.

Modus demikian sejatinya harus kita hindari. Karena ini sama-halnya menjadi modus paling transparan dalam memanfaatkan bantuan amal kemanusiaan kita digunakan untuk memperkuat kelompok ekstrimis di luar negeri. Sebab, bantuan amal kemanusiaan itu untuk masyarakat sipil yang menjadi korban di balik kecamuk perang.

Maka, dari tiga tips inilah perlu kita aplikasikan. Utamanya dalam menyikapi berbagai macam penggalangan dana mengatasnamakan kemanusiaan. Pentingnya selektif, hati-hati, jangan teperdaya dengan pihak yang tidak jelas. Karena ini adalah jihad kita, agar amal kemanusiaan kita tidak disalahgunakan kelompok radikal-ekstrimis dan juga demi melemahkan kekuatan mereka.

This post was last modified on 17 November 2023 12:52 PM

Nur Samsi

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago