Narasi

Adu Domba di Media Sosial dan dalam Sejarah

Adu domba dan fitnah kian merajalela, lebih-lebih di jagat media sosial. Sebagai media sosial, informasi sering kali hanya singkat. Hal ini, bisa terjadi karena media sosial bukan alat untuk menggali informasi secara mendalam, namun sekadar media “tatap muka” sebagaimana orang berbincang dengan rekan. Namun demikian, dari “obrolan” yang ada di media sosial, banyak orang yang meyakini informasi yang didapat. Padahal, tidak sedikit dari mereka memanfaatkan media sosial sebagai pembentuk opini publik, yakni dengan mengirimkan potongan-potongan informasi dalam rangka menggiring pengetahuan komunikan ke arah tertentu.

Adu domba dan fitnah bukan saja terjadi pada masa sekrang. Nabi Muhammad Saw berpesan bahwa orang yang paling jahad di dunia adalah mereka yang bermuka dua, menghadap ke satu tempat dan tempat lain dengan wajah yang berbeda. Ia juga sempat mengabarkan kepada sahabat bahwa dua penghuni kubur yang baru saja dimasukkan sedang disiksa. Ia juga menjelaskan bahwa penyebabnya adalah, yang satu karena terbiasa tidak cebok sehabis buang air kecil (BAK), dan yang satunya pelaku fitnah.

Dalam sebuah riwayat juga diterangkan bahwa Nabi Muhammad Saw sempat memerintahkan para sahabat membongkar masjid yang biasa digunakan untuk adu domba. Masjid Ad-Dhirar yang sepintas terlihat lebih megah itu oleh Allah Swt tidak diberikan keberkahan. Terhadap pelaku adu domba dan masjid ini, Allah Swt mengabadikan di dalam al-Qur’an:

“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah, ‘Kami tidak menghendaki selain kebaikan.’ Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS. At-Taubah: 107).

Tukang fitnah ataupun adu domba, menurut Yahya bin Aktsam,  lebih jahat dari pada tukang sihir. Karena, tukang fitnah dapat berbuat dalam sesaat apa yang tidak dilakukan oleh tukang sihir dalam satu bulan. Perbuatan tukang fitnah lebih bahaya dari perbuatan setan. Sebab, setan hanya berbisik dan khayal bayangan. Tetapi, tukang fitnah langsung berhadapan dan berbuat.

Alkisah, ada seorang yang menjual budak dengan harga yang sangat murah hanya karena tukang adu domba. Sang pembeli pun dengan senang ceria membelinya, karena dia akan bisa memanfaatkan dengan baik. Tak di sangkanya, sesampai di rumah, budak tersebut langsung mengadu domba diri dan istrinya. Terhadap istrinya, budak tersebut berkata bahwa sang suami akan menikah lagi dengan wanita lain. Agar suaminya tetap pada dirinya, budak tersebut menyarankan agar istrinya mencukur jenggot bagian dalam suaminya dengan pisau cukur saat tidur.

Sementara, terhadap suami, budak tersebut berkata bahwa istrinya memiliki laki-laki lain dan menunggu kesempatan untuk bisa membunuh dirinya. Untuk itu, ia menyarankan agar sang suami pura-pura tidur untuk menunggu reaksi istri.

Alhasil, ketika sang istri mencoba mengacungkan pisau cukur ke arah jenggot bagian dalam, sang suami pun langsung mengira bahwa dirinya akan membunuhnya. Pisau tersebut pun diambil dan sekejap ia membunuh istri. Melihat kenyataan ini, sang suami pun dibunuh oleh keluarga istri. Kejadian ini bukan hanya menyisakan masalah keluarga, namun sampai perang antar suku, yakni suku dari istri dan dari suami.

Atas catatan sejarah semacam ini, mari kita selalu waspada akan bahaya adu domba. Sekarang, adu domba bukan saja terjadi di dunia nyata, namun juga melalui media maya, terutama di media sosial.

Wallahu a’lam.

Anton Prasetyo

Pengurus Lajnah Ta'lif Wan Nasyr (LTN) Nahdlatul Ulama (LTN NU) dan aktif mengajar di Ponpes Nurul Ummah Yogyakarta

Recent Posts

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 hari ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 hari ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

4 hari ago

Peta Jalan Penanggulangan Terorisme-Jurnal Jalan Damai Vol. 1. No. 10 Desember 2025

Salam Damai, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal…

3 minggu ago

Agama Cinta Sebagai Energi Kebangsaan Menjinakkan Intoleransi

Segala tindakan yang membuat kerusakan adalah tidak dibenarkan dan bukan ajaran agama manapun. Kita hidup…

1 bulan ago

Bagaimana Menjalin Hubungan Antar-Agama dalam Konteks Negara-Bangsa? Belajar dari Rasulullah Sewaktu di Madinah

Ketika wacana hubungan antar-agama kembali menghangat, utamanya di tengah menguatnya tuduhan sinkretisme yang dialamatkan pada…

1 bulan ago