Categories: Kebangsaan

Be Yourself: Menjadi Diri Sendiri Dengan Kritis Terhadap Informasi

Masih teringat jelas dalam kepala saya pesan Menkopolhukam pada malam gelar budaya yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Jogja tanggal 30 Oktober 2015 lalu, malam itu ia meminta generasi muda agar menjadi dirinya sendiri atau “ Be Yourself” . Ungkapan ini sangat sederhana akan tetapi memiliki makna yang sangat tinggi dan luas. Seseorang hanya akan memahami makna kata ini jika ia telah mengalami suka duka dan pahit manisnya perjalanan hidup untuk bisa bertahan.

Be yourself atau jadilah diri anda sendiri berarti setiap orang harus bekerja keras untuk menunjukkan eksistensinya dan tidak tergantung atau mengandalkan orang lain untuk menunjukkan dirinya sendiri. Seseorang yang ingin menjadi dirinya sendiri berarti ia harus berusaha keras dan bekerja untuk membekali dirinya atas segala kemungkinan yang akan dibutuhkan dalam menghadapi pertarungan hidup.

Menurut Menkopolhukam bahwa hati dan intelektualitas merupakan unsur penting untuk menjadi diri sendiri karena dengan dua hal tersebut seseorang akan menjadi dirinya sendiri dan akan mampu menjadi tauladan yang baik. Seseorang tidak akan mampu menjadi pemimpin yang baik jika tidak memiliki ketauladanan yang baik.

Untuk menjadi diri sendiri seseorang harus memiliki sesuatu yang orang lain tidak miliki. Ilmu pengetahuan, pengalaman, kecerdasan dan keterampilan menjadi sangat penting bagi seseorang untuk menjadi dirinya sendiri karena dengan hal tersebut seseorang akan mampu mengaktualisasi diri dengan lingkungan sekitarnya dan akan mampu menyikapi perkembangan apapun yang terjadi di sekitarnya dan tidak akan mudah diombang-ambing dengan tren apapun yang berkembang di lingkungannya.

Di era informasi yang begitu canggih seperti saat ini, usaha untuk menjadi diri sendiri sepertinya akan sangat sulit, terlebih karena berbagai jenis opini dan berita yang belum jelas kebenarannya bertebaran di mana-mana, hal itu sangat mungkin mendobrak identitas kita dan cara pandang kita. Karenanya tidak heran jika belakangan kita jumpai orang-orang yang sbelumnya pendiam tiba-tiba berubah menjadi pendendam dan pelaku kekerasan, atau juga sebaliknya.

Karenanya usaha untuk menjadi diri sendiri harus pula diimbangi dengan sikap kritis terhadap informasi, karena tidak semua informasi berisi kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Sikap kritis terhadap informasi ini perlu untuk selalu ditingkatkan mengingat saat ini arus informasi begitu deras tanpa pernah tahu mana yang benar dan mana yang tidak.

Seseorang harus mampu mencerna dan memahami berbagai informasi yang diterima, jangan terlalu mudah untuk percaya begitu saja. Be yourself merupakan sebuah karakter yang bukan saja akan menunjukkan eksistensi seseorang secara positif, tetapi juga akan mengamankan seseorang dari berbagai pengaruh negatif yang berdampak terhadap dirinya sendiri dan masyarakat di sekitarnya. Semoga kita semua menjadi orang-orang yang memiliki diri sendiri dan tidak muda terprovokasi oleh banyaknya bualan yang kerap disembunyikan dibalik bentuk agung bernama “Informasi’.

Suaib Tahir

Suaib tahir adalah salah satu tim penulis pusat media damai (pmd). Sebelumnya adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi timur tengah. Selain aktif menulis di PMD juga aktif mengajar di kampus dan organisasi

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

2 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

2 bulan ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

2 bulan ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

3 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

3 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

3 bulan ago