Narasi

Belajar Al-Qur’an: Gemakan Ayat-Ayat Damai Al-Qur’an, Lawan Ekstrimisme

Belajar Al-Qur’an adalah sebuah tugas bagi setiap muslim. Kemudian  keharusan juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab Al-Qur’an adalah pedoman dan pandangan hidup bagi tiap-tap orang Islam. Lalu bagaimana kita belajar Al-Qur’an sedang kita tidak menguasai bahasa Al-Qur’an?

Nah, inilah masalah umum yang dihadapi oleh kebanyakan muslim khususnya di Indonesia. Sehingga mereka cenderung belajar Al-Qur’an lewat terjemahan. Bahkan banyak yang hanya belajar lewat terjemahan Al-Qur’an sudah berani berfatwa.  Padahal banyak sekali kualifikasi dan aspek-aspek keilmuan yang perlu dipahami sebelum memepelajari Al-Qur’an secara langsung

Berdasarkan esai yang ditulis Nur Solikhin yang dimuat di JalanDamai beberapa hari yang lalu menyebutkan, bila orang yang ingin mempelajari Al-Qur’an tidak cukup hanya lewat terjemahannya saja. Akan tetapi juga perlu melihat asbabunnuzul (sebab turunnya ayat Al-Qur’an). Serta banyak ilmu lainnya untuk menafsirkan sebuah ayat Al-Qur’an. Seorang mufasir tidak cukup dengan memahami artinya saja, melainkan harus menguasai ilmu bahasa Arab seperti, ilmu nahwu, shorof, isytiqaq, ilmu balaghah, lalu menguasai ushul fiqh, ushuluddin, ulumul Qur’an (qiraati, asbabun nuzul, nasikh mansukh, qashasul Qur’an), serta mengetahui hadits nabi yang berbicara tentang tafsir Al-Qur’an.

Memang cukup berat syarat bagi orang yang ingin mempelajari Al-Qur’an apalagi menjadi seorang mufasir. Sebenarnya kita punya alternatif lain untuk mempelajari Al-Qur’an. Salah satunya dengan belajar di pondok-pondok pesantren. Di sana banyak dikaji perihal Al-Qur’an, hadits nabi. serta kitab-kitab turats (kitab kuning klasik) karya ulama-ulama zaman dulu. Setidaknya di sana diajarkan ajaran-ajaran agama Islam yang santun dan damai dengan bersumber langsung dari Al-Qur’an, hadits nabi dan kitab kuning karya ulama-ulama terdahulu. Dan para guru, ustadz dan kyai yang membimbingnya pun berkompeten dan punya sanad keilmuan yang jelas.

Atau kalau tidak di pesantren kita bisa belajar dengan para guru, ustadz atau kyai yang benar-benar menguasai dan berkompeten keilmuan agamanya lewat mimbar-mimbar instan seperti pengajian umum, khutbah, ceramah umum, seminar, simposium. Bahkan bisa lewat video-video yang beredar di internet dan tulisan-tulisan para guru, ustadz atau kyai tadi. Ingat, kita harus benar-benar tahu latar belakang dan keilmuaan dari guru-guru, ustadz dan kyai tersebut. Dalam kitab Ta’limul Muta’alim kita disarankan untuk memilih guru saat hendak belajar. Karena para guru, ustadz dan kyai tadilah yang akan membimbing kita, membentuk akhlak, karakter dan pola pikir kita ke depan.

Gemakan Ayat-Ayat Damai

Setelah kita selektif belajar dengan para guru, ustadz dan kyai, selanjutnya kita harus mengamalkannya bahkan menyampaikannya pada orang lain. Entah secara lisan, tulisan atau lewat suri tuladan akhakul karimah. Nabi pernah bersabda yang artinya kurang lebih begini, sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.

Mari kita gemakan ajaran-ajaran seperti yang dibawa dan disampaikan oleh nabi. Ajaran-ajaran yang humanis, menentramkan dan penuh perdamaian. Ini sudah menjadi tugas kita sebagai manusia, warga negara yang baik dan umatnya Nabi Muhammad SAW. Jangan sampai kita hidup bagai pohon yang tidak berbuah. Statis dan jumud tidak dinamis.

Selain tugas kita sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW dan sebagai agen perdamaian, mengamalkan, mengajarkan dan menggemakan ayat-ayat damai adalah langkah kita sebagai counter attack terhadap narasi-narasi ekstrem dan radikal. Kalau kita hanya diam, para agen-agen gerakan ekstrem dan garis keras akan merasa mereka benar dan berkuasa. Sehingga lambat laun mereka akan berkembang menjadi besar.

Menggemakan dan menyampaikan ayat-ayat damai Al-Qur’an ada berbagai macam bentuknya. Bisa dengan lisan, tulisan, dan suri tauladan. Sama halnya kalau di dakwah ada tiga metodenya yaitu bil hikmah, bil mauidhatil hasanah dan adu argumen. Mari kita hiasi ruang publik, baik dunia nyata maupun dunia maya dengan kata-kata indah, akhlakul karimah, seruan akan perdamaian, serta ucapan-ucapan atau perbuatan yang mencerminkan Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Niscaya kita hidup di dunia bagaikan di surga.

Slamet Aan

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago