Pustaka

Belajar dari Febri Ramdani, Perihal 3 Bukti Khilafah Bukanlah Solusi

Judul Buku      : 300 Hari di Bumi Syam: Perjalanan Seorang Mantan Pengikut ISIS

Penulis            : Febri Ramdani

Tahun              : Januari 2020

Terbitan          : Milenia

Tebal               : 392 Halaman

ISBN               : 978-623-9164-83-6

Selama ini, telah begitu banyak penjelasan secara komprehensif tentang bahayanya gerakan khilafah bagi bangsa ini, namun hanya berakhir usang ke dalam tuduhan islamophobia saja. Dari kondisi yang demikian, Saya rasa kita tidak sekadar butuh fakta argumentatif, melainkan butuh fakta experientatif (bukti pengalaman) akan bahayanya khilafah bagi bangsa dan negara.

Dalam konteks ini, Saya rasa kita perlu belajar dengan sosok Febri Ramdani. Siapakah Febri Ramdani itu? Mengapa dia menulis buku 300 Hari di Bumi Syam: Perjalanan Seorang Mantan Pengikut ISIS? Tentu jawabannya, dia adalah aktor/orang yang pernah hijrah ke negeri Syam bergabung passing over dengan ISISdi bawa bendera Khilafah namun berakhir come back dengan penyesalan.

Febri Ramdhani adalah fakta sejarah, dia adalah saksi mata tentang bahayanya khilafah bagi bangsa dan negara. Sebagaimana, ada 3 bukti yang dijelaskan di dalam buku yang ditulisnya tersebut perihal bahayanya ideologi khilafah dan khilafah bukan sebuah solusi melainkan (kemudharatan) yang harus kita hindari berdasarkan (pengalamannya) bergabung dengan ISIS.

Pertama, Febri Ramadani menjelaskan bahwa antara janji manis yang disampaikan tentang khilafah dengan fakta yang disuguhkan sangatlah tidak sesuai. Berbagai macam janji kesejahteraan, solusi hidupkan sosial yang mapan dan hidup dalam kebenaran ajaran-Nya jika hijrah ke negeri khilafah.

Namun, setelah dirinya sampai di bumi Syam, justru yang dilihat bukanlah kota-kota yang megah, alam yang indah, bangunan yang indah dan orang-orang yang hidup dalam kenyamanan. Akan tetapi, dirinya disuguhkan dengan sebuah pemandangan kota mati, penuh kehancuran, suara tembakan tak bisa dikendalikan, mayat berjejer di jalanan dan bom bunuh diri terus menjajal.

Kondisi yang demikianlah membuat Febri Ramdani menyesal telah meninggalkan negaranya sendiri (Indonesia) yang dianggap “negara kafir” dan dianggap tidak menjalankan ajaran-Nya. Padahal, Indonesia inilah baginya yang benar-benar merepresentasikan nilai keislaman yang meniscayakan kemaslahatan, kenyamanan dan kedamaian.

Jauh berbeda dengan kondisi hidup dengan kelompok ISIS di negeri Syam yang mengklaim menegakkan negara agama. Di sana, Febri Ramdani diperlihatkan kebiadaban kelompok ISIS tidak sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.

Kedua, negara dengan sistem khilafah yang “katanya” penuh dengan kenyamanan justru berakhir dengan ketakutan. Karena, Febri Ramdani bukan bertemu dengan orang-orang yang senang gembira menikmati hidupnya. Melainkan, bertemu dengan orang-orang yang menangis, menderita dan menyesali hidupnya karena dipenuhi dengan kezhaliman, penyiksaan dan berada dalam kehancuran.

Dari sinilah Febri Ramdhan di dalam buku tersebut menekankan satu kesadaran bahwa ideologi khilafah bukan sebuah solusi yang dianggap sebagai sistem bernegara sesuai dengan ajaran-Nya. Sebab, negara dalam penguasaan ISIS di Syam itu hancur lebur, dari yang asalnya kota hidup yang menjadi kota mati dipenuhi dengan peperangan berkecamuk dan bom bunuh diri menjadi makanan sehari-hari yang dinikmati oleh Febri Ramdani.

Ketiga, Febri Ramdani menyadari betul bahwa ajakan hijrah menegakkan negara khilafah itu bukan sebuah perintah agama melainkan praktik politik yang dimanfaatkan kelompok ekstrimis demi sebuah kekuasaan. Itu adalah fakta yang terjadi di Syam dengan membawa dalih kebenaran-Nya menzhalimi, membantai, menghancurkan tatanan dan menzhalimi orang-orang yang tidak patuh terhadap komplotan tersebut.

Febri Ramdani menyadari bahwa sebagai pemahaman keliru jika  Qs An-Nisa’:97 dipahami sebagai ajakan untuk menegakkan khilafah seperti pengalaman pahit yang dialami selama di Syam itu. Karena, sangat tidak mungkin ajaran agama merusak tatanan. Sebab, seluruh umat manusia diciptakan sebagai khalifah/pengganti untuk merawat tatanan bukan menghancurkan tatanan itu sendiri.

Dari tiga hal ini kita bisa memahami bahwa ajakan menegakkan khilafah itu pada hakikatnya bukan sebuah solusi, melainkan ilusi yang nantinya akan melahirkan sikap anarki. Tentu, hal yang paling terakhir pesan penting dari Febri Ramdani adalah jangan mudah terlena dengan ajakan-ajakan khilafah yang dianggap solusi bagi problem kebangsaan. Sebagaimana, Febri Ramdani adalah fakta sejarah yang menjadi korban “terlena” dalam bujuk rayuan provokatif menegakkan negara khilafah itu.

This post was last modified on 25 November 2022 4:25 PM

Amil Nur fatimah

Mahasiswa S1 Farmasi di STIKES Dr. Soebandhi Jember

Recent Posts

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

4 hari ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

4 hari ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 minggu ago

Peta Jalan Penanggulangan Terorisme-Jurnal Jalan Damai Vol. 1. No. 10 Desember 2025

Salam Damai, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal…

4 minggu ago

Agama Cinta Sebagai Energi Kebangsaan Menjinakkan Intoleransi

Segala tindakan yang membuat kerusakan adalah tidak dibenarkan dan bukan ajaran agama manapun. Kita hidup…

2 bulan ago

Bagaimana Menjalin Hubungan Antar-Agama dalam Konteks Negara-Bangsa? Belajar dari Rasulullah Sewaktu di Madinah

Ketika wacana hubungan antar-agama kembali menghangat, utamanya di tengah menguatnya tuduhan sinkretisme yang dialamatkan pada…

2 bulan ago