Narasi

Bencana dan Moral Pancasila

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) -Dwikorita Karnawati- terjadi dua kali gempa berbeda di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat 28 September 2018. Gempa pertama terjadi pukul 13.59 WIB dengan kekuatan 5,9 skala Richter dan tidak berpotensi tsunami. Sementara gempa kedua terjadi pukul 17.02 WIB dengan kekuatan 7,7 skala Richter. Pusat gempa berjarak 27 kilometer dari timur laut Kota Donggala dan berpotensi tsunami. Gelombang tsunami akhirnya terjadi dengan perkiraan tinggi gelombang mencapai 1,5-2 meter. Pantai Talise di Kota Palu dan Pantai Donggala menjadi daerah yang diterjang gelombang tsunami (tempo.co).

Akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, ratusan orang pergi untuk selamanya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Senin pukul 13.00 WIB, menyebutkan sebanyak 844 orang meninggal dan sebanyak 632 mengalami luka berat. Jumlah korban paling banyak berada di Palu yaitu 821 orang, Parigi Moutang sebanyak 12 orang, dan Donggala sebanyak 11 orang. Korban meninggal akibat reruntuhan bangunan setelah gempa dan akibat tersapu tsunami (kompas.com). Jika melihat proses evakuasi yang terus berlangsung dan sejumlah titik yang belum tersentuh tim penanganan bencana, jumlah korban tanpaknya akan terus meningkat. Baik korban meninggal maupun luka-luka. Seperti korban yang masih berada di dalam bangunan yang runtuh.

Peristiwa ini menjadi duka bagi kita semua. Meskipun Palu dan Donggala berada ratusan atau ribuan kilometer dari tempat kita berada, tetapi kita bisa merasakan kepedihan yang sama dengan para korban. Ada perasaan senasib dan sependeritaan dengan mereka. Maka tidak heran, setelah mendengar kejadian ini, banyak masyarakat berlomba-lomba untuk mengulurkan tangannya. Membantu para korban dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Di jalan-jalan, muncul kelompok-kelompok yang mengumpulkan donasi untuk Palu dan Donggala. Mereka berasal dari beragam komunitas. Misalnya OSIS SMA, ikatan mahasiswa daerah, organisasi keagamaan, BEM, dsb. Apresiasi perlu kita sematkan kepada mereka yang kecintaannya terhadap saudara sebangsanya begitu tinggi.

Selain itu, ada juga kelompok-kelompok yang langsung turun ke lapangan untuk membantu proses evakuasi hingga tahap rehabilitasi. Mereka bergerak secepat kilat tanpa perlu menunggu perintah. Semua dilakukan semata untuk menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Berbondong-bondong menjadi relawan kemanusiaan. Mereka yang berprofesi tenaga medis, membantu kesehatan korban bencana. Orang-orang dengan latar belakang pendidikan, membuat sekolah darurat. Para psikolog, membantu melakukan trauma healing. Bahkan mereka yang tidak memiliki kemampuan spesifik pun, dapat berkontribusi untuk meringankan beban saudaranya yang tertimpa musibah. Mereka semua melakukannya secara sukarela. Ada yang mengambil cuti kantor dan berangkat dengan biaya sendiri ke lokasi bencana bersama teman-temannya, ada yang rela menguras tabungannya dan disumbangkan ke wilayah terdampak, ada yang menyediakan rumahnya sebagai posko bencana, dsb.

Maka tidak heran, di setiap lokasi bencana, akan didapati beragam pihak yang membantu. Ada relawan berbasis profesi (dokter, psikolog, dsb), berbasis agama (Muslim, Katolik, dsb), berbasis suku (Padang, Jambi, dsb), dan lainnya. Semua menyatu dalam ikatan kemanusiaan. Kehadiran kelompok-kelompok yang beragam di lokasi bencana menunjukkan bahwa bangsa Indonesia benar-benar plural. Perbedaan etnis, kepercayaan, golongan, tidak menjadi hambatan untuk berbuat kebaikan. Sehingga menolong sesama, bukan hanya tanggung jawab milik kelompok tertentu saja. Semuanya dilibatkan secara aktif dan berada dalam koordinasi BNPB.

Bencana dan respons yang dilakukan masyarakat Indonesia menunjukkan moral Pancasila masih sangat lekat pada diri bangsa ini. Ada nilai kemanusian (seperti pada pasal 2) yang terus-menerus dijaga dan dipertahankan oleh bangsa ini. Bahwa ketika ada pihak lain yang terkena musibah, menjadi kewajiban bagi manusia lain untuk menolongnya. Selain nilai kemanusiaan, ada juga nilai persatuan (pasal 3). Negara ini ibarat satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Satu daerah mendapatkan ujian, maka daerah lainnya seolah merasakan hal yang sama. Hingga terjadi saling membantu dan menolong. Tolong-menolong adalah upaya kecil untuk menguatkan persatuan. Jika hal ini terus dirawat, maka akan makin meningkatkan kualitas bangsa Indonesia. Inilah salah satu hikmah yang bisa didapatkan dari gempa-tsunami di Palu dan Donggala. Dan kita berdoa, semoga Sulawesi Tengah dapat segera bangkit.

This post was last modified on 2 Oktober 2018 12:47 PM

Rachmanto M.A

Penulis menyelesaikan studi master di Center for Religious and Cross-cultural Studies, Sekolah Pascasarjana UGM. Jenjang S1 pada Fakultas Filsafat UGM. Bekerja sebagai peneliti.

Recent Posts

Ketika Pancasila Selalu Dipertentangkan dengan Agama

Seorang pastor Katolik umumnya dikenal melalui pelayanan keagamaan dan karya misionernya. Namun, Y.B. Mangunwijaya memilih…

4 jam ago

Kebencian Harusnya tidak Lahir karena Perbedaan

Pernahkah kita bertanya dalam benak kita pada kita sendiri, sejak kapan perbedaan terasa seperti ancaman?…

4 jam ago

TCC dan Pergeseran Pola Radikalisasi Anak Muda di Ruang Digital

Fenomena True Crime Community (TCC) belakangan mendapat perhatian setelah Densus 88 mengungkap 70 anak berusia…

4 jam ago

Membumikan Hari Kebangkitan Pancasila: Merawat Kebinekaan Melalui Ruang Deliberatif di Era Digital

Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati momentum bersejarah Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini bukanlah…

1 hari ago

Menggugat Sila Ketuhanan : Mengapa Kita Masih Sulit Membiarkan Orang Lain Meyakini Tuhan

Setiap 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Momentum ini seharusnya tidak hanya menjadi…

1 hari ago

Gotong Royong Digital: Wajah Baru Kolektivisme Pancasila di Ruang Siber

Sepanjang tahun 2025-2026, sejumlah wilayah di Indonesia dilanda bencana alam. Mulai dari banjir di Aceh…

1 hari ago