Keagamaan

Berkenalan dengan Ayat Toleransi di Bangku Sekolah

Sejak Saya menempuh pendidikan SD, SMP dan SMA. Saya hanya memiliki pemahaman sempit bahwa non-muslim itu Kafir dan musuh umat Islam. Modal pemahaman sempit yang semacam ini membuat saya acuh dan enggan bersaudara dengan mereka. Bahkan, sering-kali muncul rasa alergi, penuh kebencian serta memiliki prinsip bahwa mereka adalah musuh umat Islam yang harus kita perangi.

Di masa itu, Saya belum mengetahui bahwa itu pemahaman yang keliru. Sebab, Saya belum memahami bahwa ada ayat di dalam Al-Qur’an yang menerangkan bahwa non-muslim yang tidak memerangi kita adalah saudara dalam kemanusiaan. Artinya apa? ini adalah satu fakta yang saya alami. Bahwa ayat toleransi di lembaga pendidikan itu masih terasa “asing” untuk dikenal oleh generasi muda.

Maka, dari semua pengalaman yang Saya miliki ini merupakan satu paradigma. Betapa pentingnya memperkenalkan ayat-ayat toleransi (sejak dini) entah dari tingkat SD, SMP dan SMA dan bahkan ke jenjang bangku kuliah. Sebab, salah satu faktor toleransi dianggap bukan ajaran agama karena generasi muda tidak memahami. Bahwa ada ayat yang memerintahkan sikap toleran itu dan non-muslim yang tidak memerangi kita adalah bukan musuh kita.

Tugas penting ini tentu dimiliki oleh seorang guru di bangku sekolah. Misalnya, memperkenalkan Qs. Al-Baqarah: 256. Bahwa “Tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam, sesungguhnya telah jelas perbedaan antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat”. Untuk memperkuat pemahaman anak di bangku sekolah dalam urusan agama yang tidak boleh memaksa dan agar mereka menghargai perbedaan agama.

Lalu, memperkokoh anak dengan memperkenalkan mereka atas satu prinsip iman. Bahwa, seperti yang ada dalam Qs. Al-Kahfi:29. “Dan katakanlah (Muhammad) “Kebenaran itu datang dari Tuhan; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir”. Agar, mentalitas pemuda semakin bisa menerima perbedaan itu sebagai Sunnatullah yang harus dijaga dengan baik.

Tentu, ada begitu banyak ayat-ayat toleransi di dalam Al-Qur’an yang sebetulnya perlu diperkenalkan di bangku sekolah. Mengapa? karena ini adalah kebenaran dalam beragama yang bisa saling menghargai dan hidup damai tanpa berpecah-belah serta menjunjung tinggi kemanusiaan. Supaya, pemahaman non-muslim itu musuh dan perlu diperangi bisa tereliminasi dengan pemahaman keagamaan yang eksklusif berdasarkan nilai Al-Qur’an itu sendiri.

Misalnya, anak-anak muda di bangku sekolah perlu diperkenalkan dengan Qs. Al-An’am:108. Bahwasanya “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan”.

Ayat ini sebagai satu kebenaran etis atas generasi muda. Bahwa, prinsip agama itu tidak membenarkan sikap arogan, anarkis dan intolerant seperti merusak atau merobohkan rumah ibadah agama lain. Tanamkan prinsip ini kepada anak-anak di bangku sekolah. Agar, spirit toleransi mereka tak sekadar berada dalam pikiran. Melainkan kokoh dalam kebenaran Iman yang dimiliki oleh dirinya dalam beragama yang inklusif itu.

Tentu tidak sekadar menghargai, melainkan sikap pro-aktif bersaudara dan hidup saling membantu dalam kebaikan dan kemanusiaan sangatlah penting. Sebagaimana, seorang guru perlu memperkenalkan ayat Qs. Al-Mumtahanah: 8 “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”.

Perkenalkan anak-anak di bangku sekolah tentang semua keragaman sebagai kehendak-Nya. Seperti memperkenalkan Qs. Al-Hujurat:13, “Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku  agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha mengetahui, Maha teliti”.

Mendidik anak agar bisa saling menghargai itu penting sejak dini. Dengan menanamkan basis keimanan yang kokoh bahwa toleransi itu ada dan dibenarkan dalam Al-Qur’an. Agar, mereka di dalam tatanan bangsa ini bisa merawat keragaman itu. Tidak saling mengganggu dan hidup dalam prinsip iman kita masing-masing seperti yang termaktub dalam Qs. Al-Kafirun:6. “Untukmu agamamu dan untukku agamaku”.            

Tentu, ada begitu banyak ayat-ayat toleransi di dalam Al-Qur’an itu. Semua yang Saya sampaikan di atas merupakan bukti-bukti kebenaran Al-Qur’an tentang kesejatian toleransi. Untuk diperkenalkan kepada generasi Muda agar mereka menanamkan sikap, pikiran dan tindakan yang tolerant dan harmonis berdasarkan “rasa keimanan” yang mendalam.

This post was last modified on 2 Mei 2023 3:24 PM

Sitti Faizah

Recent Posts

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

2 hari ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

2 hari ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

5 hari ago

Peta Jalan Penanggulangan Terorisme-Jurnal Jalan Damai Vol. 1. No. 10 Desember 2025

Salam Damai, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal…

3 minggu ago

Agama Cinta Sebagai Energi Kebangsaan Menjinakkan Intoleransi

Segala tindakan yang membuat kerusakan adalah tidak dibenarkan dan bukan ajaran agama manapun. Kita hidup…

1 bulan ago

Bagaimana Menjalin Hubungan Antar-Agama dalam Konteks Negara-Bangsa? Belajar dari Rasulullah Sewaktu di Madinah

Ketika wacana hubungan antar-agama kembali menghangat, utamanya di tengah menguatnya tuduhan sinkretisme yang dialamatkan pada…

1 bulan ago