Narasi

Dakwah Nusantara dengan Kearifan Lokal

Dakwah Islam di Nusantara memiliki sejarah panjang yang membedakannya dari ekspansi Islam di belahan dunia lain. Jika di beberapa kawasan Islam datang dengan kekuatan militer atau pengaruh politik, maka di Nusantara, Islam hadir lewat jalan damai, melalui interaksi budaya, perdagangan, dan dakwah sufistik yang akomodatif terhadap kearifan lokal.

Pendekatan ini bukan hanya strategi dakwah, melainkan wujud penghormatan terhadap realitas sosial dan budaya masyarakat setempat. Para penyebar Islam di Nusantara, seperti Wali Songo di Jawa, tidak serta-merta mengganti kebudayaan lokal dengan budaya Arab, tetapi melakukan proses taqdim al-din (penyampaian agama) secara bijak dan bertahap. Islam yang mereka dakwahkan membaur dalam tradisi masyarakat, seperti wayang, gamelan, seni ukir, dan upacara-upacara adat.

Hal ini sejalan dengan prinsip Islam itu sendiri yang rahmatan lil ‘alamin, membawa rahmat dan kebaikan untuk seluruh alam. Nabi Muhammad SAW tidak diutus untuk menghapus budaya, tetapi untuk menyempurnakannya dengan nilai-nilai tauhid, keadilan, dan akhlak mulia. Dalam konteks itu, kearifan lokal menjadi wahana dakwah, bukan halangan.

Islam yang Membumi

Salah satu kunci keberhasilan dakwah Islam di Nusantara adalah kemampuannya untuk membumi. Islam tidak dibawa dengan wajah yang asing, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Strategi ini menghasilkan Islam yang inklusif, toleran, dan bersahabat. Sebagaimana dikatakan Gus Dur, Islam Indonesia adalah “Islam yang ramah, bukan Islam yang marah.”

Kita bisa melihat bagaimana Islam mengadopsi dan mengislamkan tradisi setempat. Upacara selametan, tahlilan, atau peringatan Maulid Nabi dengan tabuhan rebana dan syair-syair pujian adalah contoh asimilasi budaya yang menghasilkan bentuk ekspresi Islam khas Nusantara. Ini bukan bid’ah atau penyimpangan, tetapi bagian dari dialektika budaya dan agama yang memperkaya spiritualitas umat.

Namun, dakwah dengan pendekatan lokal ini menghadapi tantangan serius di era globalisasi dan derasnya arus purifikasi agama. Gelombang dakwah transnasional yang membawa paham salafisme wahabi cenderung menolak tradisi lokal dengan alasan tidak sesuai dengan “Islam murni.” Padahal, justru pendekatan tekstual dan rigid inilah yang sering melahirkan sikap intoleran, bahkan radikal.

Sebaliknya, Islam Nusantara menunjukkan bahwa kesalehan tidak harus identik dengan penolakan terhadap budaya. Justru, dalam lokalitas, nilai-nilai universal Islam dapat dimaknai lebih hidup. Kearifan lokal seperti musyawarah, gotong royong, dan tepo seliro (tenggang rasa) sangat sejalan dengan prinsip-prinsip Islam tentang ukhuwah, keadilan, dan kasih sayang.

Dakwah Kontekstual

Kontekstualisasi menjadi kata kunci dalam dakwah era kini. Umat Islam di Indonesia harus menyadari bahwa dakwah tidak bisa hanya mengulang teks secara literal tanpa memahami konteks sosial-budaya masyarakat. Dakwah bukan sekadar menyampaikan ayat dan hadits, tetapi juga memahami siapa yang didakwahi, dengan bahasa dan pendekatan yang tepat.

Pendekatan kultural ini tidak mengurangi kemurnian ajaran Islam. Sebaliknya, ia memperluas jangkauan dakwah agar bisa diterima secara luas oleh berbagai lapisan masyarakat. Ulama-ulama besar Indonesia seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, dan KH Ahmad Sanusi telah membuktikan bahwa Islam bisa disampaikan dengan cara yang santun dan mengakar dalam budaya lokal.

Dalam menghadapi tantangan intoleransi dan disintegrasi sosial, dakwah berbasis kearifan lokal justru menjadi jalan tengah yang memperkuat harmoni. Dakwah seperti ini tidak menimbulkan resistensi, karena tidak mengebiri identitas budaya yang telah melekat dalam masyarakat. Sebaliknya, ia menjadi jembatan antara agama dan tradisi, antara keyakinan dan ekspresi budaya.

Kita perlu menumbuhkan kembali kesadaran bahwa kearifan lokal bukan warisan masa lalu yang harus ditinggalkan, tetapi aset spiritual dan sosial yang harus dirawat. Melalui pendekatan dakwah yang inklusif dan membumi, Islam bisa menjadi kekuatan yang menyatukan, bukan memecah; membangun, bukan merusak; membebaskan, bukan menakut-nakuti.

Dakwah Nusantara adalah warisan berharga yang membuktikan bahwa Islam bisa hadir dengan damai dan menyatu dengan kebudayaan. Dalam era digital dan globalisasi seperti sekarang, semangat dakwah berbasis kearifan lokal perlu terus dikembangkan, bukan ditinggalkan. Kita tidak hanya memerlukan dai yang pandai berceramah, tetapi juga bijak dalam memahami realitas sosial. Dengan begitu, Islam tetap bisa menjadi lentera peradaban, bukan alat konflik.

This post was last modified on 2 Agustus 2025 12:40 PM

mawaddah

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

1 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago