Narasi

Diam Berarti Tenggelam: Urgensi Pemuda Pesantren Membanjiri Ruang Digital dengan Paham Moderat

Ada satu istilah, bahwa diam di tengah kemungkaran, berarti tenggelam dalam kemudharatan. Sebagaimana, pemuda/i pesantren yang sudah lulus dan terjun ke masyarakat tidak boleh diam dan membiarkan segala kemungkaran di ruang digital itu terus mewabah.

 Pemuda/i pesantren adalah generasi bangsa yang secara mayoritas memiliki pemahaman keagamaan yang condong moderat. Banyak paham radikal di ruang digital menjalar sebagai virus. Akan tetapi, kekeliruan terbesar ketika mereka memilih diam dan bahkan menjauhi dengan alasan dunia digital memiliki ragam kemudharatan.

Memang betul, banyak kemudharatan di ruang digital. Lantas, apakah membiarkan kemudharatan itu terjadi sebagai kekeliruan? Dalam konteks yang demikian, Saya terkadang kurang sepakat. Jika pemuda/i pesantren justru didoktrin untuk menjauhi ruang digital, karena dianggap tempatnya segala dosa.

 Justru, di situlah letak jihad yang paling fundamental pemuda/i pesantren hari ini. Untuk memberantas kemudharatan dengan membanjiri paham-paham moderat di dalamnya. Sebab, paham radikal di ruang digital itu hanyalah segelintir, tetapi berisik dan konsisten. Sedangkan pemuda/i yang mayoritas anti paham radikal justru diam.

 Diam berarti tenggelam membiarkan kemudharatan itu terjadi. Karena, peran pemuda/i pesantren memang dirasa kurang mendominasi dakwah-dakwah di ruang digital. Sehingga, media digital diisi orang-orang yang hanya ingin menghancurkan bangsa ini. Dengan membawa semacam motif dakwah ekslusif, memecah-belah, penuh sentimen dan merobek kebinekaan bangsa ini.

Kontribusi Pemuda/i Pesantren di Ruang Digital

Di situlah jihad pemuda/i pesantren kini sangat diperlukan. Tentu, jihad ini pada dasarnya tidak melulu harus menjadi seorang pendakwah. Artinya, keterlibatan seorang pemuda/i Pesantren adalah memanfaatkan dirinya secara personal memiliki kesadaran dan tanggungjawab menebar paham agama yang moderat sekaligus memerangi paham radikal.

Setiap pemuda/i pesantren pasti miliki akun media digital, entah seperti Facebook, Instagram, Youtube, Tiktok dll. Semua platform ini perlu diisi oleh pemuda/i pesantren dengan beragam kata-kata, pesan atau-pun argument-argumen keagamaan yang moderat. Ini adalah satu jalan pemuda/i pesantren untuk tidak diam dan menjajal ruang-ruang digital sebagai dakwah/jalan jihad mereka.

Sistem mendominasi ruang-ruang digital dengan paham moderat sejatinya akan membangun semacam “daya tangkal”. Di tengah arus pemahaman radikal yang walaupun mereka sedikit, tapi mereka konsisten di media dan begitu berisik. Dengan pemahaman keagamaan yang mendalam, tentu pemuda/i pesantren perlu bergerak di ruang digital.

Ada ratusan dan bahkan ribuan pemuda/i lulusan pesantren setiap tahunnya pulang ke rumahnya masing-masing. Tetapi, justru diam dan lebih memilih menjauhi ruang digital dengan alasan banyak kemudharatan di dalamnya. Ini pikiran yang keliru sebab, sama halnya membiarkan kemudharatan dibiarkan dalam diam.

Pemuda/i pesantren mendominasi bagaimana nilai-nilai toleransi itu penting untuk dibangun. Membangun fondasi teologis agar paham inklusif dan bisa menerima kemajemukan dalam persatuan di ruang digital sebagai trend, pola beragama dan membudaya. Seperti halnya efektivitas Habib Ja’far di media sosial mampu membuat pola beragama di ruang digital bisa lebih terkonstruksi ke dalam nilai kasih-sayang.

Jadi, jila para pemuda-pemudi aktif dan konsisten menebar paham agama yang moderat di media sosial. Atau, menjadi Cyber Scurty mandiri. Memerangi paham-paham keagamaan yang radikal dengan menebar paham moderat. Niscaya, kita bisa menjadikan ruang digital sebagai platform digital yang bisa memperkokoh persatuan.

Sebab, hal yang problematik ketika pemudi/i pesantren yang sudah terjun ke masyarakat. Tetapi diam dan membiarkan kemudharatan di ruang-ruang digital semakin mewabah. Ini merupakan kekeliruan yang sangat besar dan pemuda/i harus mendominasi menjejal ruang-ruang digital menebar paham moderat memberantas paham radikal.

This post was last modified on 14 Juni 2023 12:57 PM

Sitti Faizah

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

1 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago