Faktual

Film Jumbo; Pesan Implisit tentang Pengasuhan Berbasis Toleransi

Jumbo, film animasi karya komika dan animator Ryan Adriandhy tengah menjadi fenomena. Film yang naik tayang di bioskop sejak libur Lebaran itu hingga kini telah meraih 8 juta lebih penonton. Jumlah yang sangat fantastis dalam industry film tanah air. Apalagi, untuk film animasi yang secara pasar belum terbentuk di tanah air.

Film Jumbo menceritakan kisah tentang Don, anak yatim-piatu yang ingin mementaskan buku dongeng peninggalan orang tuanya. Namun, dalam perjalanannya ia banyak mendapat perundungan dari teman-temannya, karena bentuk badannya yang gemuk. Don pun dibantu oleh mahluk imajiner, yakni seorang peri bernama Meri.

Kisah hidup Don yang kerap menerima perundungan karena bentuk fisik adalah fenomena yang lazim terjadi di tengah masyarakat kita. Kelaziman tentu bukan bentuk normalisasi, melainkan kenyataan yang memang terjadi di sekitar kita. Betapa sebagian masyarakat masih kerap dengan mudahnya mengolok-olok kondisi fisik seseorang.

Bentuk tubuh, warna kulit, bahkan jenis rambut bisa menjadi bahan candaan yang mengarah pada perendahan martabat. Ironisnya, sebagian dari masyarakat masih kerap bersikap permisif pada perilaku tersebut dengan bermacam dalih. Alhasil, perilaku bullying terhadap anak pun kerap dinormalisasi dan dianggap wajar.

Dalam film Jumbo, penggambaran perundungan terhadap sang tokoh utama, yakni Don ditampilkan secara implisit maupun eksplisit. Secara implisit, pemilihan judul Jumbo itu sebenarnya menggambarkan tindakan perundungan verbal yang dialami Don. Dalam siniar di kanal YouTube Raditya Dika, Ryan sang sutradara menjelaskan bahwa pemilihan judul Jumbo ini memang menggambarkan adanya perundungan verbal yang dialami Don.

Tidak hanya secara implisit, perundungan yang dialami Don juga ditampilkan secara eksplisit. Adegan ketika Don direndahkan teman-temannya saat berniat mementaskan buku dongeng peninggalan orang tuanya adalah gambaran nyata bullying yang dialami tokoh utama tersebut. Dari film Jumbo ini kita menyadari bahwa praktik toleransi dan menyediakan ruang aman bagi anak itu menjadi hal yang urgen.

Anak-anak merupakan fase terpenting dalam pembentukan karakter manusia. Masa anak-anak adalah fase emas seseorang untuk menyerap informasi dan pengetahuan yang akan mengendap selamanya dalam alam bawah sadarnya. Masa anak-anak adalah pembentukan cetak biru pemikiran yang akan mempengaruhi cara pandangnya sampai dewasa hingga tua.

Anak-anak yang hidup dalam ruang aman yang menjunjung tinggi toleransi akan tumbuh menjadi pribadi yang inklusif dan menghargai perbedaan. Sebaliknya, ekosistem yang toxic, tidak menghargai perbedaan, dan permisif pada bullying hanya akan melahirkan generasi yang adaptif pada kekerasan. Maka, penting sekali membiasakan anak bersikap toleran demi terwujudnya ruang aman bagi anak.

Jumbo adalah film keluarga yang memang dibuat agar bisa ditonton oleh anak-anak maupun orang dewasa. Maka, menjadi tepat kiranya jika film ini dimanfaatkan sebagai media belajar bagi anak-anak tentang pentingnya bertoleransi terhadap sesama. Ada sejumlah pelajaran penting yang bisa diambil dari menonton film ini.

Pertama, pelajaran tentang pentingnya menghargai mimpi orang lain. Usaha Don mementaskan dongeng dari buku tinggalan orang tuanya adalah gambaran bahwa setiap manusia memiliki mimpi dan keyakinan. Setiap mimpi dan keyakinan itu valid sehingga tidak ada seorang pun yang berhak menyepelekan apalagi merendahkannya.

Kedua, pelajaran agar kita tidak mudah menghakimi apa yang menjadi keyakinan orang lain. Adegan ketika tokoh Atta merendahkan mimpi Don menggambarkan betapa pentingnya orang tua menanamkan empati pada anak sejak dini.

Ketiga, pelajaran agar para orang tua, guru, dan masyarakat pada umumnya mendukung terciptanya ruang aman bagi anak. Orang tua wajib membangun ekosistem sosial yang mendorong dan mendukung tumbuh-kembang anak agar steril dari perundungan dan segala bentuk kekerasan lainnya.

Arkian, menonton film Jumbo bukan sekadar hiburan. Namun, lebih dari itu Jumbo berhasil menghadirkan sebuah tontonan yang potensial sebagai sarana membangun toleransi dan komitmen mewujudkan ruang aman untuk anak-anak. Popularitas film Jumbo adalah momentum untuk mengajarkan anak-anak tentang pentingnya toleransi dan menghormati keyakinan orang lain.

Termasuk keyakinan dalam beragama. Anak-anak harus sejak dini diajarkan untuk menghargai setiap pilihan orang lain. Anak-anak harus diajarkan bahwa setiap pilihan termasuk pilihan agama itu merupakan hal yang valid dan tidak dapat diintervensi oleh siapa pun.

Pelajaran tentang toleransi, dan menghargai pilihan orang lain, apalagi untuk anak-anak memang idealnya disampaikan dengan cara-cara yang menghibur. Bukan melalui indoktrinasi. Menonton film Jumbo yang sarat pelajaran tentang toleransi kiranya bisa dijadikan sebagai alternatif untuk mendidik anak tentang pentingnya menghargai orang lain.

Nurrochman

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

1 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago