Narasi

HSN 2025; Rekognisi Peran Santri dalam Melawan Radikalisme Global

Hari Santri Nasional (HSN) 2025 hadir bukan hanya sebagai ajang peringatan sejarah, tetapi sebagai momentum rekognisi atas peran strategis santri dalam melawan radikalisme yang kini bertransformasi menjadi ancaman global. Ketika tema besar “Jihad Santri: Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia” diusung, ia secara tidak langsung menegaskan bahwa jihad kaum santri bukan hanya perjuangan lokal menjaga tanah air dari ancaman disintegrasi, tetapi juga perjuangan universal untuk melawan radikalisme transnasional. 

Di tengah meningkatnya gerakan ideologis yang mengatasnamakan agama untuk merusak tatanan dunia, santri dengan tradisi moderasinya memiliki legitimasi moral sekaligus kapasitas intelektual untuk tampil sebagai aktor penting dalam menata ulang peradaban global yang lebih damai. Radikalisme global bukan sekadar fenomena kekerasan fisik, tetapi juga perang narasi, infiltrasi ideologi, dan propaganda digital yang menyasar anak muda lintas negara, termasuk santri. Kelompok ekstrem seperti ISIS, Al-Qaeda, Jamaah Islamiyah, hingga jaringan teror lone wolf, kini tidak lagi hanya bergerak secara konvensional. 

Di era digital, mereka kini mengedarkan ideologi melalui media sosial, game online, kanal telegram, dan forum daring yang dibungkus dengan narasi jihad semu, klaim keislaman kaffah, dan glorifikasi syahid yang salah kaprah. Tantangan ini menuntut santri untuk tidak hanya tangguh secara spiritual, tetapi juga cerdas secara intelektual dan adaptif terhadap perkembangan teknologi agar mampu mematahkan logika ekstremisme-radikalisme. 

Rekognisi peran santri dalam melawan radikalisme global sesungguhnya telah tertanam dalam sejarah perlawanan mereka terhadap ideologi kekerasan. KH. Hasyim Asy’ari melalui Resolusi Jihad tahun 1945 menegaskan bahwa membela tanah air adalah bagian dari kewajiban agama, yang kemudian menjadi basis teologis bagi nasionalisme Islam di Indonesia. Nilai ini menjadikan santri sebagai entitas yang menjunjung tinggi cinta tanah air, sehingga secara otomatis menolak ideologi transnasional yang ingin menghapus konsep negara-bangsa. 

Pesantren sebagai ruang tumbuhnya santri juga telah membuktikan efektivitasnya dalam mencetak generasi yang tangguh terhadap infiltrasi radikalisme melalui pembelajaran ilmu agama yang berbasis sanad, tradisi bermadzhab, dan penghormatan terhadap ulama. Kurikulum pesantren yang mengedepankan tasawuf akhlaqi membentuk kepribadian santri yang jauh dari sikap ghuluw (berlebih-lebihan) dan takfiri (mudah mengkafirkan). 

Namun rekognisi global tidak akan berarti jika santri berhenti sebagai penjaga tradisi semata. Untuk melawan radikalisme global yang kini bersemayam di ruang digital, santri harus mengambil peran sebagai produsen narasi, penulis opini global, kreator konten keagamaan yang sejuk, akademisi internasional, bahkan diplomat moderasi Islam di level dunia.

Mereka yang menebar ide kebencian di platform digital harus dilawan oleh santri yang mampu memberikan hujjah ilmiah bahwa Islam tidak pernah mengajarkan pemaksaan kekuasaan global melalui kekerasan. Mereka yang membajak kalimat tauhid untuk bom bunuh diri harus dilawan oleh santri yang membawa kalimat tauhid sebagai energi cinta, kedamaian, dan kemanusiaan. Dan mereka yang berupaya merusak tatanan negara-bangsa harus dilawan oleh santri yang menegakkan nasionalisme sebagai mandat iman.

HSN 2025 harus dibaca sebagai deklarasi bahwa santri Indonesia kini telah siap memasuki panggung global sebagai benteng perlawanan terhadap radikalisme yang merusak wajah Islam di mata dunia. Rekognisi ini tidak hadir secara otomatis, tetapi harus dijawab melalui peneguhan identitas, penguasaan ilmu, dan keberanian menghadapi perang ideologi. 

Santri yang mampu membungkam radikalisme bukan hanya yang fasih membaca kitab kuning, tetapi juga yang piawai membaca arah zaman. Jika jihad santri masa lalu adalah mengusir penjajah dari tanah air, maka jihad santri hari ini adalah menjaga dunia dari penjajahan ideologi kebencian. Dengan semangat HSN 2025, santri bukan hanya penjaga NKRI, tetapi juga pengawal peradaban global yang damai dan penuh kasih.

Rusdiyono

Recent Posts

Dajjal, Perang, dan Imam Mahdi: Mengapa Kajian Akhir Zaman Laku di Kalangan Kelas Menengah Muslim Urban?

Ada fenomena menari yang terjadi di lanskap keislaman Indonesia kontemporer. Di tengah menguatnya kelompok kelas…

5 jam ago

Di Balik Konflik Saudi–Houthi: Bahaya Geopolitik dan Ekonomi yang Sering Disederhanakan Politisasi Agama

Konflik Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali memasuki fase kritis. Eskalasi yang semakin…

5 jam ago

Menjernihkan Simplifikasi Geopolitik: Merawat Solidaritas Kemanusiaan Tanpa Merobohkan Rumah Bangsa

Kepedulian generasi muda Indonesia terhadap gejolak geopolitik dunia, khususnya yang terjadi di dunia Islam, hari…

5 jam ago

AI Berfatwa Moderasi, AI juga Berfatwa Ekstremisme

Pada 2023, jemaat sebuah gereja di Furth, Bavaria, Jerman, mendengarkan khotbah 40 menit yang dibawakan…

3 hari ago

Tirani Algoritma dan Ekstremisme digital: Membumikan Etika Digital, Menjaga Nalar Kritis

Kebisingan di lini masa media sosial belakangan ini telah menjadi realitas keseharian yang tak terhindarkan.…

3 hari ago

Mengapa Dakwah Membutuhkan Ilmu sekaligus Literasi Media

Di ruang digital, pesan keagamaan tidak hanya bersaing dengan ceramah lain, tetapi juga dengan potongan…

3 hari ago