Narasi

Informasi Hoax dan Tantangan Kebhinnekaan

SEJAK internet hadir beberapa tahun silam, harus diakui, dunia tak lagi sepi. Berbagai informasi, baik yang positif maupun negatif, siapa pun bebas mengaksesnya. Selagi terkoneksi dengan internet, di mana pun dan kapan pun kita bisa berselancar di dunia maya. Apakah informasi itu fakta atau bohong, itu tergantung dengan kita, apakah mau telusuri terlebih dahulu atau tidak.

Kemudahan mendapatkan informasi tersebut ditopang dengan keberadaan smartphone yang hampir semua orang memilikinya. Melalui telepon genggam canggih itu siapa saja bisa mengakses web, portal, media sosial, dsb. Dengan berbagai kemudahan itu juga setiap orang di era digital adalah kantor berita. Ia bisa membuat beragam informasi atau berita, juga berhak menentukan informasi mana yang mau dishare atau tidak.

Alih-alih akan menyebarkan informasi yang sudah terkonfirmasi kebenarannya, malah di antara kita kadangkala ikut menyebar informasi hoax. Istilah hoax berasal dari kata hocusyang berarti mengecoh atau menipu. Informasi hoax berarti informasi yang bohong atau menipu. Istilah informasi hoax sebenarnya sudah lama, tetapi dengan keberadaan internet yang makin canggih bisa memudahkan netizen untuk menyebar informasi itu dan terkecoh.

Informasi hoax seolah mendapatkan momentum emas. Apalagi di tengah kian tumbuh pesatnya pengguna media sosial. Asosiasi Pengguna Internet Indonesia (APJII) dalam surveinya yang dilakukan pada tahun 2016 menyebutkan, pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta atau kisaran 51,8 persen. Dan, sebanyak 129,2 juta orang (97,4 persen) menggunakan medsos.

Dengan mudah dan kadangkala tak disadari, netizen mengirimkan informasi hoax kepada teman-temannya yang selanjutnya secara berantai dikirimkan lagi oleh teman-temannya. Begitupun seterusnya. Bahkan, informasi bohong itu bisa bertahan lama selagi tak ada konfirmasi kebenarannya. Ini bahaya dan jelas bisa mengancam kebhinnekaan yang sudah lama dibangun di republik ini.

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu kita pernah menjumpai berita berjudul “Amin Rais: Saya akan Memimpin Semua Rakyat Pisah dari Indonesia Bila Ahok Tak Ditangkap”. Berita itu sempat jadi heboh di dunia maya, apalagi mengingat tokoh yang diberitakan itu bukanlah sembarang orang. Sebagaimana diketahui, Amin Rais adalah mantan Ketua MPR RI dan Ketua Umum PP Muhammadiyah. Sepak terjang dan integritasnya saya rasa tak ada yang meragukannya.

Beruntung, berita hoax itu segera ada yang menelusurinya. Republika..co.id sempat menelusuri judul serupa di Google, dan menemukan adanya belasan media daring bukan mainstream atau abal-abal yang memberitakan hal itu (Republika, 28/11). Berita hoax itu mencatut dari Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara ketika mantan ketua umum PP Muhammadiyah, Amien Rais menghadiri acara milad ke-107 Muhammadiyah di Graha ITS Surabaya pada Ahad (22/11).

Hasil penelusurannya, ditemukan ada satu paragraf yang diubah kalimatnya dan diselipkan pernyataan yang dibuat sendiri oleh situs abal-abal itu. Tulisan aslinya “Menurut Amien, jika sampai Presiden Jokowi terlambat, maka sama saja dengan membunuh sejarah Indonesia. Bangsa ini, kata Amien, sedang gonjang-ganjing. “Bangsa ini tarung, pecah. NKRI juga bisa bubar,” ujarnya”.

Dengan maksud tertentu, tulisan itu dalam situs abal-abal berubah menjadi “Menurut Amien, jika sampai Presiden Jokowi terlambat, maka sama saja dengan membunuh sejarah Indonesia. Bangsa ini, kata Amien, sedang gonjang-ganjing. “Jangan sampai saya yang akan memimpin semua rakyat Indonesia pisah dari Indonesia, bila Ahok tidak segera ditangkap,” ujarnya”.

Berita hoax itu tentu bisa mengancam kebhinnekaan. Gagasan Bhinneka Tunggal Ika itu bisa tercerabut dari akar bangsa Indonesia yang telah lama diajarkan dan dipedomani oleh masyarakat Indonesia. Bisa dibayangkan jika informasi hoax itu terus bergulir di ruang maya, banyak netizen akan tertipu dan celakanya bisa termakan provokasi tak produktif. Itu tentu juga bisa merembet ke ruang nyata.

Selain berita hoax Amin Rais di atas, di media sosial juga banyak kita jumpai informasi hoax lainnya yang ternyata bisa mengancam keberlangsung kebhinnekaan kita. Ini menjadi tantangan serius bagi kebhinnekaan kita. Ini juga menjadi pelajaran berharga bagi kita kala masuk di dunia maya agar kita senantiasa mawas diri.

Hal-hal semacam ini perlu kita waspadai apalagi jika informasi hoax itu tak ditelusuri terlebih dahulu dan netizen asal sebar. Informasi hoax bisa merugikan, baik itu untuk yang menyebar informasi itu maupun pihak-pihak yang terkait dengan isi informasi hoax. Penyebar informasi hoax bisa dianggap bodoh sama orang. Pihak-pihak yang terkait itu bisa rugi, baik rugi ekonomi, kredibilitas, dsb, karena telah beredar dan masyarakat percaya dengan informasi bohong atau menipu tersebut.

Terhadap informasi hoax dan di balik banyaknya informasi yang bisa diperoleh dari internet, memang benar kita perlu lebih hati-hati. Oknum yang tak menginginkan Indonesia damai dan sejahtera akan mencari segala cara untuk menguasasi dan merusak Indonesia. Baik melalui dunia nyata maupun dunia maya, putra-putri Indonesia akan diadu domba sehingga hanya sibuk bertengkar dan lupa mengurusi negaranya. Informasi hoax yang disebar di internet adalah salah satu cara mereka untuk memuluskan aksinya itu. Wallahu a’lam.

M. Samsul Arifin

M. Samsul Arifin, adalah Peneliti Komunikonten, Institut Media Sosial dan Diplomasi. Pernah nyantri selama 6 tahun di Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan. Menyelesaikan kuliah di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Menulis buku dan artikel di berbagai media massa, nasional maupun lokal. Akun twitter @MSamsul193194.

Recent Posts

Konsep Islam Menentang Tiga Dosa Besar Dunia Pendidikan

Lembaga pendidikan semestinya hadir sebagai rumah kedua bagi peserta didik untuk mendidik, mengarahkan dan membentuk…

4 jam ago

Pemaksaan Jilbab di Sekolah: Praktir yang Justru Konsep Dasar Islam

Dalam tiga tahun terakhir, kasus pemaksaan hijab kepada siswi sekolah semakin mengkhawatirkan. Misalnya, seorang siswi…

4 jam ago

Memberantas Intoleransi dan Eksklusivisme yang Menjerat Pendidikan Negeri

Dua tahun lalu, seorang siswi SDN 070991 Mudik, Gunungsitoli, Sumatera Utara, dilarang pihak sekolah untuk…

4 jam ago

Riwayat Pendidikan Inklusif dalam Agama Islam

Indonesia adalah negara yang majemuk dengan keragaman agama, suku dan budaya. Heterogenitas sebagai kehendak dari…

1 hari ago

Hardiknas 2024: Memberangus Intoleransi dan Bullying di Sekolah

Hardiknas 2024 menjadi momentum penting bagi kita semua untuk merenungkan dan mengevaluasi kondisi pendidikan di…

1 hari ago

Sekolah sebagai Ruang Pendidikan Perdamaian: Belajar dari Paulo Freire dan Sekolah Mangunan Jogjakarta

Bila membicarakan pendidikan Paulo Freire, banyak ahli pendidikan dan publik luas selalu merujuk pada karya…

1 hari ago