Categories: BudayaPeradaban

Runtuhnya Peradaban Irak-Syria

Nama Irak dan Syiria belakangan tahun terakhir menjadi bulan-bulanan internasional. Konflik bersenjata masih belum mau hengkang dari dua negeri yang dulu pernah dikenal sebagai kawasan Mesopotamia.

Diambil dari ambil dari bahasa Yunani, Mosopotamia itu sendiri berarti sebuah kawasan yang berada “di antara sungai-sungai”. Dalam catatan sejarah, peradaban kawasan ini telah dimulai sejak tahun 5000 SM. Sebelum bangsa Arab mendominasi, Bumi Mesopotamia pernah menjadi hunian favorit bangsa-bangsa besar ternama seperti Sumeria, Akkadia, Babilonia, dan Asyur.

Pada masa Kuno, Kejayaan peradaban kawasan ini tergambar di masa Raja Hammurabi. Dia adalah raja besar paling berpengaruh dalam sejarah Babilonia dan berkuasa pada 1792-1750 SM. Di masanya, Hammurabi menciptakan aturan perundangan yang memuat segala aspek terkait hak dan kewajiban negara secara tertulis yang dikenal dengan Codex Hammurabi. Aturan ini juga memuat hak-hak dasar manusia yang wajib mendapat perlindungan negara.

Di masa Arab Islam kawasan Irak dan Syiria diambil alih pada masa al Khulafa’ al Rasyidun (para pemimpin tercerahkan). Kekuasaan politik Arab Islam di dua wilayah itu terjadi bersamaan dengan memudarnya dominasi politik Bizantium dan Persia. Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib, pernah menggeser ibukota dari Madinah ke satu kawasan yang kini menjadi salah satu propinsi di Irak, Kufah.

Di masa monarki Arab Islam pertama, Dinasti Umayyah, Damaskus di wilayah Syiria menjadi ibukota kerajaan selama hampir satu abad. Sementara dinasti monarki Arab Islam kedua, Abbasyiah, memindahkan ibukota dari Damaskus Syiria ke Baghdad Irak. Baghdad menjadi ibukota selama 5 Abad hingga jatuh ditangan Hulagu Khan dari kerajaan Mongol.

Berbagai peradaban besar di atas mewariskan jutaan peninggalan berharga bagi generasi berikutnya. Keilmuan yang lahir dari penjuru Mesopotamia, terlebih di wilayah yang kini dikenal sebagai Irak dan Syiria tetap menjadi fondasi dasar untuk keilmuan modern di masa sekarang. Tak mengherankan jika julukan cradle of civilization ‘Buaian Peradaban’ melekat untuk wilayah ini.

Ironisnya, jejak kejayaan peradaban wilayah ini kini mengalami proses pemusnahan akibat teror mencekam dari sekelompok orang yang mengatasnamakan agama dan masyarakat Irak dan Syiria. Dengan sangat tega sejumlah situs dan manuskrip kuno, museum, artefak, masjid, dan makam bersejarah para tokoh besar dibombardir dan dimusnahkan. Padahal, peninggalan peradaban itu tak hanya merepresentasikan peradaban satu bangsa saja melainkan milik banyak bangsa dan peradaban kemanusiaan.

Tak pelak tak ada pilihan lain bagi seluruh manusia untuk menghentikan pemusnahan massal peradaban yang dilakukan dengan cara kekerasan tersebut. Seluruh ajakan dan buaian surga atas nama apapun yang diserukan mereka harus tak bisa dipercaya. Bagaimana mungkin kita menyerahkan peradaban besar umat manusia kepada segelintir orang yang menjadikan kekerasan sebagai basis keyakinannya?!

This post was last modified on 1 April 2015 9:54 AM

Imam Malik

Adalah seorang akademisi dan aktifis untuk isu perdamaian dan dialog antara iman. ia mulai aktif melakukan kampanye perdamaian sejak tahun 2003, ketika ia masih menjadi mahasiswa di Center for Religious and Sross-cultural Studies, UGM. Ia juga pernah menjadi koordinator untuk south east Asia Youth Coordination di Thailand pada 2006 untuk isu new media and youth. ia sempat pula menjadi manajer untuk program perdamaian dan tekhnologi di Wahid Institute, Jakarta. saat ini ia adalah direktur untuk center for religious studies and nationalism di Surya University. ia melakukan penelitian dan kerjasama untuk menangkal terorisme bersama dengan BNPT.

Share
Published by
Imam Malik

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago