Narasi

Karena Kau Manusia, Sayangi Manusia

Budi pekerti berarti bersikap dan berperilaku yang baik. Sifat yang baik tentunya akan mendatangkan kebaikan juga, begitu pun sebaliknya, sesuatu yang buruk akan mendatngkan yang buruk. Oleh sebab itu kita sangat perlu untuk menjungjung tinggi nilai-nilai budi pekerti yang luhur. Ada pun ajaran budi pekerti, menuntut kita agar selalu berbuat kebaikan,  berbuat baik antara manusia dengan tuhannya, dan manusia dengan manusia. Contoh berbuat baik kepada sesama manusi yaitu dengan bersikap toleransi.

Sejak dulu Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi sikap toleransi bahkan terhadap perbedaan. Nabi Muhammad telah mencontohkan kepada ummatnya bagaimana bersikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari, berintraksi kepada sesama manusia. Bahkan Nabi Muhammad Saw menganjurkan kepada setiap ummatnya untuk bersikap toleransi sebagaimana sabdanya.” orang-orang penyayang akan disayang oleh yang maha penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu.” Tidak ada alasan bagi kita sebagai ummat islam untuk tidak mewujudkan  pada tindakan yang nyata yaitu saling mengasihi antar sesama.

Al-quran sangat memuliakan setiap ummat Islam bahkan kepada Agama lainnya dangan gagasan keselamatan bagi seluruh ummat manusia. Dengan demikian, sepatutnya rasa toleransi harus selalu ditumbuhkan pada saat ini dengan adanya berbagai macam pluralisme keagamaan.

 Berbicara tentang kedamaian, tampaknya memang kelihatan sangat sederhana. Namun, dalam perakteknya sulit untuk diimplementasikan. Dan faktanya sudah banyak sekali orang-orang yang menjadi korban dari tindak kekerasan, disebabkan hanya berbeda pendapat, dan berbeda aliran. Menurut  Sudarto (2014), dalam kontek masyarakat Indonesia, demokrasi tidak hanya sebatas pluralisme politik, tetapi juga pluralisme agama, etnis, dan budaya. Dengan demikian, harus menjadi cita-cita bersama bahwa pluralisme politik harus berjalan seiring dengan pluralisme yang lain, yakni agama, etnis, budaya, golongan, serta penghayatan, dan ketaatan kepada hukum.

Baca juga : Membumikan Nilai Agama Sebagai Rahmat bagi Semua Bangsa

Gus Dur adalah salah satu Ulama Indonesia yang mengajarkan betapa sangat pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusian seperti adanya rasa toleransi antar sesama. Jadi, apa pun bentuk yang dilakukan manusia, jika dapat merugikan serta membahayakan manusia lainnya sekalipun mengatas namakan agama, harus dicegah dan dilawan. Maka dari itu Gus Dur selalu mewanti-wanti kepada kita bahwa setiap manusia harus ditempatkan di tempat yang istimewah dalam kehidupan ini tampa harus melihat agama yang dianut. “walaupun atas nama agama (termasuk Islam), setiap kegiatan yang menyebabkan kegiatan kemanusiaan mengalami kemunduran, haruslah dihilangkan.” Dan lagi Gus Dur manegaskan, “Agama jangan jauh dari kemanusiaan. Tuhan menghormati kemanusiaan.” Jika tuhan saja menghormati manusi selayaknya kita sebagai hambah tuhan wajib memulikan segala ciptaan tuhan termasuk manusia itu sendiri.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa Tuhan yang Maha Esa menciptakan manusia dengan berbagai kondisi dan kelebihan. Tidak ada ciptaan Allah yang sama persis, semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada yang ahli dalam bidang ilmu kimia, tapi tidak ahli dalam bidang ilmu hukum, ada yang pandai dalam bahasa inggris, tapi tidak pandai dalam bidang otomotif.  Pada hakikatnya manusia diciptakan sebagai mahluk sosial dan salah satu tujuan pokok syariat  Islam adalah menjaga kemaslahatan bersama. Pada  kenyataanya, sering kita lihat perbedaan justru dianggap sebagai ancaman besar bagi suatu kelompok yang ditekuninya. Dan ketika keberagaman dinggap ancaman maka timbulah perpecahan antar sesama manusia.

 Kita tahu bahwa setiap agama mengajarkan sikap yang luhur dan sepatutnya sikap  luhur ini menjadi perinsip hidup bagi kita semua. Sebab, jika nilai-nalia keluhuran yang diajarkan oleh setiap agama sudah terwujud dengan baik maka sebuah agama akan sangat berarti dan bermartabat. Dan pemeluknya pun menjadi aman, tentram, dan menjadi orang yang betul-betul menghargai kebesaran serta keagungan tuhannya.

This post was last modified on 26 Desember 2018 6:01 PM

Fariz Ekalaya

View Comments

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

19 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago