Narasi

Kiai, Pesantren, dan Kemanusiaan

Tidak bisa dipungkiri, pesantren dari dulu memang menjadi salah satu alternatif untuk melahirkan generasi yang cerdas, santun, dan memiliki jiwa kemanusiaan. Di era penjajahan kita bisa mengenang sosok Kiai Hasyim Asyari. Merupakan salah satu tokoh ulama yang mempunyai sikap tegas terhadap penjajahan. Perlawanan yang dilakukan beliau tidak selalu secara fisik, tetapi juga dengan perlawanan kultural. Di mana segala sesuatu yang berkaitan dengan penjajah tidak mendapatkan kompromi.

Upaya tersebut dilakukan oleh santri dan kiai sebagai salah satu bentuk penolakan sekaligus ruang perlawanan kepada penjajah. Seperti misalnya kiai Hasyim Asyari melarang para santrinya dan masyarakat untuk menyerupai identitas penjajah Belanda seperti memakai celana, Jas, dan dasi. Bahkan dengan tegas, Kiai Hasyim Asyari mengharamkannya. Konteks pengharaman ini merupakan salah satu strategi perlawanan terhadap ketidakprikemanusiaan yang dilakukan penjajah kepada bangsa Indonesia pada masa itu.

Selain itu kita juga mengenal sosok Gus Dur, di era ini bisa dikatakan beliau bisa mengkonsep pesantren sebagai wadah untuk membangun kerukunan. Bagaimana toleransi beragama atau menghargai perbedaan menjadi yang paling atas untuk menjunjung kemanusiaan. Beliau menjadikan pesantren yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Yaitu menjadi Islam yang Rahmatal Lil Alamin. Pesantren menjadi tempat yang menyejukkan untuk merajut pentingnya perbedaan dan kerukunan. Terlebih di Indonesia juga mengadopsi berbagai keragaman dan perbedaan.

Melihat realitas pesantren yang demikian, sampai kapan pun pesantren akan memberikan sumbangsih dalam menciptakan generasi yang arif. Bisa dikatakan pesantren menjadi wadah untuk membingkai kerukunan dalam beragama dan bernegara. Hingga menciptakan Indonesia aman, damai dan menyenangkan dengan berbagai perbedaan yang ada. Dari sinilah, kemudian pesantren disinyalir bisa menjadi wadah untuk setiap orang dalam menimba ilmu. Yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah alternatif untuk menata bangsa yang arif dan negara yang penuh kedamaian. Hingga kemudian negara ini menjadi negara yang beradab dan terkenal dengan kebudayaannya yang menyenangkan dan membanggakan. Dengan kata lain, kebudayaan-kebudayaan tradisional yang ada di Indonesia tidak akan terasing, meskipun muncul banyak sekali kebudayaan modern.

Ketika sudah mencapai hal ini, pondok pesantren di Indonesia, pastinya akan bisa menciptakan generasi muda Islam berkarakter santun, cerdas  dalam berpikir dan tidak melakukan kekerasan-kekerasan yang mengatasnamakan agama. Penciptaan generasi yang santun inilah yang akan mengantarkan seseorang dalam memahami konsep perdamaian dan pentingnya kebersamaan. Sesuai dengan yang diajarkan Pancasila, pentingnya sebuah persatuan dan kemanusiaan.

Ada norma-norma kemanusiaan yang terkandung di dalam pendidikan pesantren. Selain sebagai tolak ukur memahami ideologi kemanusiaan, pesantren juga menjadi alternatif dalam penanaman nilai pengetahuan dan pemahaman yang klasik. Pemahaman yang sebenarnya bisa dijadikan alas untuk mengembangkan potensi pemikiran dan kepribadian seseorang dalam bertindak serta bertingkah laku. Di mana dengan bergesernya kemajuan zaman,  tentu pendidikan di pesantren juga sangat dibutuhkan dalam melahirkan generasi yang tawadhu serta memiliki keadaban dalam berinteraksi dengan orang lain.

Untuk itu, sudah seharusnya pesantren menjadi wadah untuk menjaga kerukunan dalam beragama dan bernegara. Melalui pendidikan pesantren kita akan menemukan kajian-kajian yang menyenangkan dan memanusiakan apabila direnungkan. Karena sejatinya setiap ajaran yang diwadahi atau dinaungi agama bertujuan untuk menyebarkan kebaikan-kebaikan yang bisa berguna bagi sesama. Sebagaimana yang terkandung dalam potongan surat al-Hujuraat ayat 13 yang mengatakan, sesungguhnya manusia diciptakan dari seorang laki-laki dan perempuan, supaya menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling kenal-mengenal.

This post was last modified on 19 Oktober 2020 2:06 PM

Sudiyantoro

Penulis adalah Penikmat Buku dan Pegiat Literasi Asli Rembang

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

1 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago