Narasi

Konsep Persaudaraan Antar Agama Dalam al-Quran

Di antara agama-agama yang ada di dunia, Yahudi, Nasrani, dan Islam memiliki penganut paling banyak dan juga paling sering terlibat konflik dalam sejarah. Padahal, pembawa tiga agama tersebut bermuara pada satu figur: Ibrahim. Karena kesamaan itulah, penganut ketiga agama tersebut berebut klaim sebagai ahli waris millah Ibrâhîm. Millah Ibrâhîm (Abrahamic Religion) di sini bermakna kepercayaan dan praktik hidup yang dijalankan oleh Ibrahim.

Thabathaba’i, melalui tafsirnya, al-Mîzân mencoba memberi pemahaman utuh akan arti persaudaraan agama-agama. Dalam pandangannya atas millah Ibrâhîm, ia menangkap dan menawarkan ideal moral al-Qur’an yang dapat dijadikan jembatan hubungan agama-agama yang ada di dunia, terutama agama Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Agama Islam, dalam bentuk aslinya, juga merupakan penyempurnaan logis dari agama-agama Semit. Di Eropa dan Amerika, kata “Semit” memiliki konotasi Yahudi, dan mengingatkan kita pada pada penyebaran orang Yahudi di kedua benua ini. Karakteristik Semit yang sering dirujuk, termasuk dalam bentuk hidung yang khas, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Semit. Karakteristik itu merupakan karateristik yang membedakan orang Yahudi dari suku Semit yang lainnya, dan hal ini karena adanya perkawinan silang antara bangsa Hitti-Hurrian dengan bangsa Ibrani. Suku Hitti-Hurrian merupakan bangsa kuno di Anatolia yang membangun kerajaan di Asia Barat dan Timur pada milineum sebelum masehi.

Mengikuti millah Ibrâhîm berarti mempraktikkan dan mengikuti jejak-langkahnya dalam hal faith (iman)  dan sekaligus praktik empiriknya (syariat). Maka, pengikut millah Ibrâhîm bukan saja se-iman dengan Ibrahim, tetapi juga menjalankan tuntutan imannya, yang lazim dikenal dengan Islâm, yakni pasrah dalam menerima dan menjalankan semua perintah Allah secara total .

Dalam dunia Islam juga berkembang bahwa seorang muslim memiliki darah keturunan suku Ibrani. Seperti yang disebutkan sebelummnya, suku Ibrani ini kemudian melahirkan beberapa suku. Tetapi dalam perjalanannya, suku-suku ini tidak memiliki iktikat yang bagus untuk saling berdampingan satu sama lain, melainkan melakukan perperangan demiki menguasai satu suku ke suku lain.

Maka, millah Ibrâhîm di satu sisi bersifat terbuka atas berbagai keyakinan dan praktik keagamaan yang selaras dengan pengertian tersebut, meski secara genealogis tidak bermuara pada Ibrahim. Di sisi lain, ia bersifat tertutup atas iman dan praktik keagamaan yang tidak selaras meski masih memiliki hubungan genetis dengan Ibrahim. Jadi, persaudaraan agama-agama terjalin bukan karena hubungan genetis, tetapi karena hubungan imani dan syar’i.

Millah Ibrâhîm dalam pengertian tersebut dapat dijadikan paradigma untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an tertentu –misalnya ayat inna al-dîna ‘inda Allâh al-islâm, yang oleh satu kelompok dipahami secara eksklusif, namun oleh kelompok lain dipahami secara inklusif. Ayat-ayat  al-Qur’an, mesti diingat, merupakan satu-kesatuan utuh yang tidak boleh dipahami secara parsial (juz’iyyah). Di samping itu, kita juga mesti memahami al-Qur’an secara kontekstual dengan menelusuri latar historis ayat  sambil menelisik ideal moralnya.

Selain itu dalam, Al-Quran juga menekankan  untuk menjaga ukhuwah. Bila menelisik secara jauh kata ukhuwah, maka terdapat beberapa kosa kata yang berkenaan dengan bahasan ini. Yaitu kata ukhuwah sendiri yang berarti persaudaraan, ikhwah yang berarti saudara seketurunan, serta ikhwan yang memiliki makna saudara tidak seketurunan.

Sementara di dalam Al-Qur’an, kata ‘akhu’ yang berarti saudara digunakan untuk menyebut saudara kandung atau seketurunan (QS 4:23), saudara sebangsa (QS 7:65), saudara semasyarakat walau berselisih paham (QS 38:23), serta saudara seiman (QS 49:10). Al-Qur’an tidak hanya menyinggung perihal ukhuwah insaniyah atau persaudaraan kemanusiaan (antar sesame manusia), tetapi juga memasukkan binatang dan burung ke dalam kategori umat layaknya umat manusia (QS 6:38) sebagai saudara semakhluk atau sesama makhluk Allah (ukhuwah makhluqiyyah).

Terlepas dari itu, ketika kita membaca dan meresapi secara menyeluruh Al-Quran dalam tafsir al-Mizan, maka kita akan menemukan persaudaraan yang cukup luas. Persaudaraan yang tidak hanya sebatas seiman, tetapi persaudaraan yang mewujudkan perdamaian sesama manusia bahkan kepada alam.

Melihat lebih dalam ajaran Islam yang lebih mendalam melalui al-Quran, tatkala ada seorang muslim yang menganut ajaran Muhammad Saw. melalui al-Quran masih menggunakan amarah dan kekerasan, maka patut dipertanyakan keislamannya seperti apa. Sebab ajaran Islam ajaran rahmat bagi siapa saja.

Novita Ayu Dewanti

Fasilitator Young Interfaith Peacemaker Community Indonesia

Recent Posts

AI Berfatwa Moderasi, AI juga Berfatwa Ekstremisme

Pada 2023, jemaat sebuah gereja di Furth, Bavaria, Jerman, mendengarkan khotbah 40 menit yang dibawakan…

2 hari ago

Tirani Algoritma dan Ekstremisme digital: Membumikan Etika Digital, Menjaga Nalar Kritis

Kebisingan di lini masa media sosial belakangan ini telah menjadi realitas keseharian yang tak terhindarkan.…

2 hari ago

Mengapa Dakwah Membutuhkan Ilmu sekaligus Literasi Media

Di ruang digital, pesan keagamaan tidak hanya bersaing dengan ceramah lain, tetapi juga dengan potongan…

2 hari ago

Dari Sanad ke Startup: Jihad Intelektual Santri di Abad Algoritma

Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari menyerukan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan sebagai kewajiban…

3 hari ago

Memahami “Santri” sebagai Kata Sifat

Setiap tanggal 22 Oktober, lini masa kita akan dipenuhi sarung, peci, dan foto lama di…

3 hari ago

Tirakat Digital: Amalan Santri Melawan Radikalisasi Daring

Peringatan Hari Santri selalu membawa kita pada ingatan historis tentang keberanian, ketangguhan fisik, dan kedalaman…

3 hari ago