Narasi

Logika Sesat Kelompok Pengasong Ideologi Khilafah dalam Memahami Bencana

Alih-alih ikut berduka dan prihatin atas bencana alam yang terjadi, kelompok pengasong ideologi khilafah justru membuat penyataan yang tidak bersimpatik. Bencana alam, yang keterjadiannya tidak ada  yang bisa mencegah, justru dikait-kaitkan dengan khilafah. Menurut mereka (pengusung ideologi khilafah) bencana alam itu terjadi karena negeri ini tidak menerapkan sistem khilafah.

Pernyataan itu sungguh aneh dan tidak logis. Secara saintis, bencana alam seperti gempa, banjir, dan yang lainnya terjadi karena adanya pergerakan alam yang tidak seimbang (ketidakseimbangan alam). Jadi, tidak ada kaitannya dengan menerapkan khilafah atau tidak.

Jika memang benar terjadinya gempa dan bencana alam yang terjadi di negeri ini itu disebabkan oleh karena kita tidak menerapkan khilafah, seharusnya bukan kita yang hanya tertimpa bencana. Tetapi semua negara-negara yang ada di dunia ini. Sebab, diakui atau tidak, nyaris di dunia ini tidak ada negara yang benar-benar menerapkan khilafah sebagai sistem politik kenegaraan.

Karena itu, pernyataan kelompok pengasong khilafah yang menyatakan bencana alam terjadi karena tidak menerapkan sistem khilafah adalah irasional, alias tidak memiliki dasar pemikiran dan pijakan teologis yang kokoh. Bahkan, bisa dikatakan, pernyataan dan ungkapan itu sesat dan menyesatkan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh lengah sehingga mudah termakan oleh propaganda dan hasutan kelompok pengasong ideologi khilafah itu.

Dalam hemat penulis, pernyataan irasional itu memang sengaja dihembuskan di tengah suasana duka untuk memanipulasi pikiran masyarakat yang tengah tertimpa musibah. Secara psikologis, pikiran  teologis masyarakat biasanya akan sangat aktiv dalam keadaan tertimpa musibah dan atau berada dalam suasana duka. Nah, inilah yang hendak dimanipulasi oleh pengasong ideologi khilafah. Pikiran teologis masyarakat yang muncul secara murni dari kesadaran terdalam itu hendak diarahkan atau digiring ke arah yang politis, yakni ke soal sistem ketatanegaraan kita.

Dengan melakukan manipulasi pikiran ini, harapannya masyarakat menjadi yakin bahwa   khilafah adalah sistem ketatanegaraan yang tepat agar senantiasa selamat dari bencana alam. Dan, di samping itu, tentu saja, juga melemahkan keyakinan masyarakat akan keparipurnaan sistem negara Pancasila yang kita anut.

Sebab, dengan berhasil memanipulasi kesadaran teologis masyarakat di tengah bencana, hal itu akan mengubah pandangan dan pikiran masyarakat. Bahkan, boleh jadi, masyarakat akan berpikiran bahwa sebab dari bencana alam ini adalah karena kita menerapkan negara Pancasila. Bukan negara khilafah.

Dengan kata lain, tujuan dari manipulasi pikiran teologis masyarakat di tengah gempa ini tak lain adalah mengajak masyarakat untuk berimajinasi bahwa khilafah adalah solusi. Sedangkan Pancasila adalah masalah.

Karena itu, pun bencana yang sedang kita alami cukup memilukan. Mari tetap rawat rasionalitas kita. Bahwa anggapan yang mengatakan bencana yang sedang kita alami ini karena negara kita tidak menerapkan khilafah sama sekali tidak benar. Secara teologis, bencana adalah ujian darinya yang harus kita lalui dengan sabar. Atau, bisa juga, ia adalah sebentuk peringatan bagi kita untuk berbenah memperbaiki pola dan tata cara hidup.

This post was last modified on 30 November 2022 2:11 PM

Farisi Aris

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago