Narasi

Masjid : Tempat Bermunajat Bukan Menghujat

Rumah ibadah tempat suci yang dibangun untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Setidaknya,  kita senantiasa untuk memakmurkannya. Selain sebagai tempat kegiatan spiritual untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Swt, masjid juga berfungsi untuk kegiatan positif yang lain, misal penddika dan kegiatan sosial. Jangan sampai  masjid dialih fungsikan untuk menyampaikan, ujaran kebencian, provokasi yang memecah belah umat.

Masjid merupakan tempat membangun peradaban dan aset yang berperan penting dimasyarakat. Membangun Masjid gampang namun memakmurkannyalah yang lebih penting. Masjid merupakan tempat perdamaian, Jangan sampai dijadikan tempat penyampaian yang tidak baik. Masjid tempat bersesuci bukan tempat  mencaci. Masjid tempat bermunajat bukan tempat hujat.

Hal ini sejalan dengan cita-cita lahirnya Islam, yakni ajaran yang membawa pesan indah, kesejahteraan lahir batin. Hidup dalam kebahagian kedamaian, serta menjauhi pertengtangan terlebih pertengkaran yang menjurus kepada konflik dan peperarangan.

Sayangnya , semakin kesini harapan tersebut bertolak belakang. Sesama muslim kerapkali muncul perselisihan dan pertengkaran. Perbedaan pendapat seringkali berujung permusuhan. Masalah kecil saja menjadi ramai dan dibesar-besarkan. Padahal Islam tidak mengajarkan untuk saling bermusuhan hanya karena berbeda pendapat.

Baca juga : Rumah Ibadah; Rumah Damai Tanpa Politisasi

Di sinilah dalam Islam dikenal istilah ijtihad. Konsekuensi logis orang yang melakukan ijtihad adalah salah atau benar, namun keduanya tetap memperoleh pahala karena hasil ijtihad itu.

Orang yang cerdas dan menguasai Islam secara menyeluruh, tidak akan meributkan dan mempersoalkan perbedaan pendapat, sepanjang perbedaan itu hanya  masalah furuiyah. Allah memperingatkan kaum muslimin untuk menjauhi pertengkaran yang akan menyeret ke jurang permusuhan dan pertentangan yang tidak pernah ada penyelesaiannya.

Saat ini yang perlu kita lakukan ialah merajut kembali persatuan umat dan kemaslahatan bangsa. Maka di sinilah peran masjid perlu dihadirkan sebagai perekat solidaritas umatan, menguatkan sendi-sendi persaudaran yang hampir terputus gara-gara kepentingan politik.

Masjid merupakan instrumen permberdayaan umat yang memiliki peran sangat strategis dalam upaya peningkatan  kuliatas  dan mempererat persaudaraan. Untuk itu sudah selayaknya kita memanfaatkan masjid guna urung rembug dalam  memberdayakan masyarakat sekitaranya, agar kualitas keimanan, keislaman dapat ditingkatkan. Hal ini dalam upaya membangun kemaslahata umat agar tidak tercerai berai, saling berburu sangka akibat isu-isu politik murahan.

Masjid tentu saja ikon persatuan dan kesatuan umat, tidak boleh dijadikan “alat” bagi kepentingan politik tertentu atau ajang kegiatan politik bagi corong kelompok-kelompok tertentu yang haus akan kekuasaan. Hal ini tak saja mencemari kesucian masjid sebagai simbol solidaritas keumatan, namun secara tidak langsung, mencerabut fungsi masjid itu sendiri sebagai tempat pemberdayaan dan pendidikan umat.

Fungsi masjid sebagai perekat solidaritas sosial, penyatu beragam kepentingan, sekaligus memoderasi berbagai latar belakang aliran ideologi-keagamaan menjadi benar-benar terwujud. Masjid  menjadi simbol pemersatu umat Islam, bahkan umat-umat beragama lainnya, yang lebur dalam suasana perdamaian, persatuan, dan nyaris tanpa perbedaan.

Tidak ada lagi perdebatan soal politik-kekuasaan, atau saling menuduh kepada siapapun yang berbeda pandangan politiknya. Inilah wujud nyata dalam melakukan pembangunan umat lewat masjid. Biarkan masjid menjadi simbol persatuan dan kesatuan umat, steril dari berbagai remeh temeh politik kekuasaan, apalagi hujatan-hujatan yang mengundang perselisihan dan pertikaian.

Mari jadikan masjid sebagai lambang solidaritas umat, mengedepankan suasana berkemajuan dan berkesatuan dalam bingkai kenusantaraan yang toleran terhadap segala perbedaan. Sungguh, itulah fungsi masjid yang sebenarnya, tempat yang teduh untuk bermunajat kepada Tuhan, bukan mengumpat satu sama lain. Sehingga tercapai hubungan yang baik antara hamba dengan Tuhan sekaligus harmonis dengan sesama.

M Abdul Kholiq Suhri

View Comments

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

4 minggu ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

2 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

3 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

3 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 bulan ago