Narasi

Media Sosial; Solusi Menuju Perdamaian

Damai tidaknya tatanan sosial di Indonesia bergantung pada bagaimana cara mengelola media sosial. Seperti yang kita ketahui, media sosial merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang hidup pada masa sekarang. Masyarakat lebih mudah mengakses segala kebutuhan dengan keberadaannya. Seperti, kebutuhan informasi, bisnis, edukasi, maupun lainnya. Maka sangat penting kemudian untuk memeliharanya agar terhindar dari penyalahgunaan berupa pemalsuan informasi, penipuan dan hal buruk lainnya.

Dari sini, kita sebagai penikmat media sosial dituntut sadar untuk berhati-hati dalam mengelola akun yang dimiliki, karena pengaruhnya sangat besar terhadap konstruk pemikiran masyarakat. Jika kita menggunakan akun kita dengan baik, membagikan tulisan, gambar, video yang bermanfaat untuk masyarakat, maka keamanan dan ketertiban akan terjamin. Sebaliknya, kalau kita ceroboh menyebarkan penipuan dan berita hoaks, siap-siap menjumpai kericuhan.

Faktanya, informasi-informasi yang tersebar di media sosial, baik hari ini maupun tahun-tahun sebelumnya banyak mengandung kepalsuan atau hoaks. Hal ini membuat masyarakat—yakni yang kita sebut-sebut sebagai netizen—resah. Mengingat banyak terjadinya konflik kesalahpahaman yang berujung perpecahan akibat menelan berita palsu, banyak netizen mengeluh telah mendapat kerugian. Tidak hanya kerugian berbentuk materi, tetapi juga kehormatan/reputasi, terutama bagi tokoh-tokoh yang diberitakan dengan data palsu.

Seperti beberapa tahun lalu, Raffi Ahmad dituding melakukan perselingkuhan dengan artis cantik, Ayu Ting Ting. Kabar ini sempat heboh di beberapa media dan televisi sehingga menimbulkan kegelisan terhadap para fans-nya. Padahal dalam kehidupan nyata, Raffi mengakui kejadian itu tidak benar dan hanyalah ulah media yang mengada-ada. Istrinya , Nagita Slavina pun mendukung pernyataan Raffi. Bahkan dia menambahkan bahwa dalam pikirannya tak pernah terbesit bahwa Suaminya akan melakukan itu karena dia  mengetahui betul bahwa Raffi dengan Ayu Ting Ting hanyalah berteman akrab.

Kasus lain menimpa calon gubernur Jakarta, Ahok pada tahun 2016 yang lalu. Banyak media ribut-ribut memperbincangkan tindakan Ahok yang dianggap telah menistakan Agama Islam dalam penyampaikan pidatonya di Kepulauan Seribu. Lapisan masyarakat yang menjunjung tinggi citra Agama Islam menjadi geram menyaksikan video terkait penyampaian Ahok tentang Surah Al-Maidah ayat 51. Dalam video tersebut, Ahok memang tampak melecehkan satu butir ayat itu. Padahal video tersebut sudah terpotong dan tidak lengkap. Akan tetapi, beberapa pekan kemudian, datang berita susulan terkait verifiasi Ahok setelah dilakukan jumpa pers.

Tidak hanya itu, masih banyak yang lainnya. Namun, dari sini kita melihat betapa dahsyatnya dampak pemberitaan suatu kasus di media. Kejadian diatas setidaknya menjadi suatu gambaran dari penyalahgunaan media sosial yang mengakibatkan munculnya kemarahan dan kebencian. Hal semacam ini memperlebar garis disintegrasi pada masyarakat dan mengganggu keharmonisan. Kemungkinan besar mereka akan sulit untuk didamaikan lagi. Memang beginilah akibat media sosial yang disalah-gunakan.

Jika hal ini, maka Indonesia hanya akan diisi kericuhan dan peperangan saja. Tidak akan ada hubungan harmonis dalam kehidupan sebangsa. Pertumpahan darah terjadi di mana-mana dan boleh jadi dalam hitungan dekade ke depan, Indonesia akan bubar seperti yang pernah digaungkan Prabowo Subiyanto. Sungguh mengerikan jika hal ini terjadi.

Mengingat sebagian besar konflik di Indonesia berasal dari cara pemberitaan suatu peristiwa yang tidak benar lewat media sosial, maka menjadi tuntutan sendiri bagi ‘kaum yang sadar’ untuk menanggulanginya. Pusat perhatian kita kali ini mesti lebih ke isi media sosial. Sebisa mungkin, atas nama ‘kesadaran’, kita menghindari penyebaran berita yang kebenarannya diragukan atau memang salah sama sekali. Alangkah baiknya kita terlebih dahulu mendalami berita yang beredar di media sosial secara tuntas agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dengan ini kita dapat menyikapi suatu permasalahan dengan ringan kepala.

Ketika isi media sosial bersih dari hal-hal buruk semacam itu, maka kemungkinan besar atmosfer masyarakat Indonesia akan tenang kembali, konflik-konflik dengan sendirinya akan berkurang, perdamaian dan keharmonisan akan terbangun. Setelah itu, tugas selanjutnya adalah menjaga dan mempertahankan perdamaian dan keharmonisan tersebut agar tetap terjalin.

Michael Shinoda

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago