Keagamaan

Memahami QS Yunus Ayat 99, Menjadi Umat yang Toleran

QS Yunus ayat 99 dan Al-An’an ayat 35 adalah salah dua ayat yang memberikan tuntunan bagi umat Islam untuk menjadi lebih umat yang toleran dalam berinteraksi dengan sesama. Dalam konteks ini, toleransi bukanlah sekadar sikap pasif untuk menerima perbedaan, tetapi lebih merupakan sikap aktif untuk menghargai keberagaman di antara umat beragama.

Allah SWT mengatakan: “Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya” (QS. Yunus: 99). Ayat ini menegaskan bahwa jika Dia menghendaki, Dia dapat membuat semua manusia beriman tanpa terkecuali. Namun, Allah memilih untuk memberikan manusia kebebasan untuk memilih iman atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa keragaman keyakinan yang ada adalah bagian dari rencana-Nya.

Karena itu, dari ayat itu seharusnya kita bisa memahami bahwa memaksakan kehendak kepada orang lain adalah tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sebaliknya, umat Islam seharusnya mengedepankan sikap yang toleran dan menghormati kebebasan beragama setiap individu. Ini sejalan dengan prinsip-prinsip keadilan yang dipegang teguh dalam Islam.

Toleransi dalam Islam bukan hanya sebatas menghormati keyakinan agama orang lain, tetapi juga melibatkan sikap hormat dan pengertian terhadap perbedaan budaya, ras, dan latar belakang sosial yang ada dalam kehidupan bermasyarakat. Ini mencerminkan ajaran Islam sangat menjunjung tinggi keadilan, kedamaian, dan kasih sayang di antara umat manusia.

Allah SWT menciptakan manusia dalam beragam bentuk, warna, bahasa, dan keyakinan, dan ini adalah bagian dari kebijaksanaan-Nya yang tidak terbatas. Ketika Allah berfirman bahwa jika Dia menghendaki, Dia dapat membuat semua manusia beriman, itu menegaskan kekuasaan-Nya yang mutlak. Namun, Allah memberikan manusia kebebasan memilih, dan ini adalah ujian bagi umat manusia apakah mampu membaca petunjukNya.

Jadi, memaksakan keyakinan atau agama kepada orang lain jelas tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sejati. Agama yang diimani secara paksa tidak akan memiliki nilai atau makna yang sejati, karena keimanan sejati hanya dapat timbul dari hati yang tulus dan kesadaran yang penuh. Oleh karena itu, sikap memaksa atau memaksakan keyakinan kita kepada orang lain bertentangan dengan ajaran Islam yang menghormati kebebasan individu.

Sebaliknya, justru kita harus toleran terhadap segala macam perbedaan yang ada sebagai keniscayaan. Untuk menjadi umat yang toleran, umat Islam perlu mengembangkan sikap terbuka dan menghargai keberagaman dalam masyarakat. Ini berarti mengakui nilai-nilai positif yang terdapat dalam keberagaman dan belajar dari pengalaman serta pandangan orang lain. Sikap terbuka akan membantu mengurangi prasangka dan ketidakpercayaan terhadap yang berbeda, serta menciptakan ruang untuk dialog dan kerjasama antarumat beragama.

Untuk itu, pertama, umat Islam harus menghindari fanatisme dan ekstremisme dalam menjalankan ajaran agama. Fanatisme hanya akan memperburuk hubungan antarumat beragama dan merusak citra Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Umat Islam harus memerangi segala bentuk intoleransi dan ekstremisme dengan mengedepankan pesan perdamaian, kasih sayang, dan keadilan yang diajarkan dalam agama.

Kedua, umat Islam juga harus berperan aktif dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berdasarkan nilai-nilai keadilan sosial. Ini termasuk melindungi hak-hak minoritas, dan berpartisipasi dalam kegiatan lintasagama untuk memperkuat hubungan antarumat beragama yang ada di Indonesia. Melalui aksi nyata dalam mempromosikan perdamaian dan keadilan, umat Islam dapat menjadi agen perubahan positif dalam kehidupan masyarakat.

Dengan menerapkan nilai-nilai toleransi yang diajarkan dalam Islam, umat Islam dapat menjadi contoh yang baik bagi masyarakat dalam membangun hubungan yang harmonis. Keberagaman bukanlah suatu ancaman, tetapi sebuah anugerah yang harus disyukuri dan dijaga dengan penuh pengertian dan penghormatan. Dengan demikian, umat Islam dapat memenuhi peran mereka sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana diajarkan Al-Quran.

Farisi Aris

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

11 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

2 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

2 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago