Memahami “Santri” sebagai Kata Sifat

Memahami “Santri” sebagai Kata Sifat

- in Narasi
2
0
Memahami “Santri” sebagai Kata Sifat

Setiap tanggal 22 Oktober, lini masa kita akan dipenuhi sarung, peci, dan foto lama di serambi pondok. Hari Santri selalu menghadirkan kehangatan semacam itu, sekaligus memunculkan pertanyaan sederhana yang jarang dijawab tuntas soal siapa sebenarnya yang layak disebut santri.

Jawaban paling lazim bertumpu pada riwayat dan penampilan. Santri adalah orang yang sedang atau pernah mondok, dan biasanya terlihat dari busananya. Jawaban ini tidak salah, tetapi menyimpan jebakan.

Jawaban termudah bertolak dari pakaian dan riwayat. Santri adalah orang yang pernah mondok, dan itu tampak dari busananya. Jawaban ini bekerja seperti kartu identitas. Sekali dimiliki, ia tersimpan di dompet dan dikeluarkan saat perlu. Padahal kartu identitas hanya menerangkan siapa kita di atas kertas, bukan bagaimana kita menjalani hidup.

Ada pembacaan menarik tentang bagaimana santri disebut sebagai “sifat”, bukan label. Sifat berarti watak, yakni kecenderungan batin yang membentuk cara seseorang bersikap. Kata sifat menjawab pertanyaan “bagaimana orang ini?”, bukan “apa gelarnya?”.

Ketika orang berkata seseorang “santri banget”, yang dirujuk jarang soal sarungnya atau pecinya, melainkan kerendahan hatinya, kesabarannya, atau kemampuannya mendengar lama sebelum bicara.

Perbedaan label dan sifat itu penting, sebab label bisa dipinjam, sedangkan sifat tidak. Seseorang dapat berbusana religius lengkap, tetapi tutur katanya menusuk dan sikapnya merendahkan orang lain.

Sebaliknya, alumnus pesantren yang kini bekerja di bank, rumah sakit, atau kampus mungkin tampil tanpa atribut apa pun, namun cara ia memperlakukan orang lain memperlihatkan didikan pesantren. Siapa yang lebih layak disebut santri? Jawaban yang jujur semestinya tidak bergantung pada modal-modal simbolik.

Sifat juga bukan benda mati. Di pesantren, watak dibentuk lewat pengulangan, antre mandi, berbagi lauk yang terbatas, bangun sebelum subuh, tunduk pada jadwal bersama, belajar berbeda pendapat dalam forum diskusi.

Kebiasaan ini menghasilkan watak yang ikhlas, tawadu’, sederhana, mandiri, guyub. Semuanya adalah kebiasaan yang diasah hingga menjadi karakter, dan karena itu bisa terus tumbuh atau justru luntur, tergantung dirawat atau tidak. Di situlah letak sifat yang hidup, jauh dari sekadar simbol.

Sebagian orang mungkin keberatan, bukankah sifat terlalu abstrak dan mudah diklaim siapa saja? Jawabannya ada pada ujiannya. Watak tidak diuji di bangku sekolah, melainkan dalam situasi di kehidupan. Ketika tersinggung di kolom komentar, ketika ada peluang menang dengan cara curang, ketika orang yang berbeda keyakinan butuh tempat duduk di dekat kita. Sifat santri adalah apa yang tetap muncul saat tak ada yang melihat.

Pembacaan ini juga bermakna kebangsaan. Tanggal 22 Oktober merujuk pada Resolusi Jihad 1945, ketika para kiai dan santri menyatakan pembelaan terhadap republik yang baru lahir. Mereka dikenang karena keberanian, keikhlasan, dan kesetiaan pada tanah air.

Watak ini diwujudkan dalam tindakan, bukan karena seragamnya. Warisan semacam itu tidak berpindah lewat busana. Ia hanya diwariskan lewat karakter yang dirawat dari generasi ke generasi.

Di zaman ketika simbol keagamaan mudah dipasang dan dipamerkan di media sosial, kemampuan membedakan label dari watak kian mendesak. Atribut bisa dikenakan siapa saja, termasuk mereka yang menjadikan citra religius sebagai kendaraan kepentingan yang jauh dari kasih sayang.

Watak hanya bisa dibuktikan lewat perilaku yang konsisten. Kalau kita santri, mari bertanya, “sifat apa dari pesantren yang masih kita rawat di tempat kerja, di rumah, dan di medsos?”.

Facebook Comments