Kebangsaan

Membendung Radikalisme di Dunia Maya

Terorisme merupakan kejahatan transnasional yang tidak kenal batas negara. Hubungan kuat antara jaringan teroris di dalam dan di luar negeri menempatkan terorisme sebagai persoalan kompleks yang membutuhkan penanganan komprehensif dan integratif antarlini.

Lima tahun belakangan, pemerintah telah berupaya cukup maksimal dalam memutus mata rantai jaringan tersebut. Sejauh ini upaya tersebut sudah mampu melokalisasi kekuatan dalam negeri dengan jaringan internasional. Meski demikian, perubahan lingkungan strategis baik skala nasional maupun internasional serta kemajuan teknologi dan informasi yang begitu kencang membuat pola dinamika terorisme pun berubah.

Pola transnasional terorisme justru semakin menemukan momentumnya ketika teknologi informasi seperti internet menjadi alat komunikasi populer di tengah masyarakat. Tak ayal, ancaman terorisme menjadi meningkat drastis karena teknologi dan informasi menyebabkan batasbatas negara menjadi semakin kabur. Sebuah kejadian di negara tertentu dapat dengan mudah diakses pada belahan bumi yang lain.

Ayman al-Zawahiri, pemimpin Al-Qaeda pengganti Osama, pada 2005 menuliskan pesan kepada pimpinan Al-Qaeda di Irak (AQI), Abu Musab al-Zarqawi: ”Kita sedang dalam peperangan dan separuh lebih dari peperangan itu terjadi di media. Kita sedang dalam peperangan media demi merebut hati dan pikiran umat kita”. Jelas sekali, peperangan media telah lama ditabuh oleh kelompok teroris sebagai medan dan sekaligus strategi baru.

Pada 1988 Osama bahkan telah membentuk Departemen Media di dalam struktur organisasinya. Kini kehadiran media internet telah membuat medan perang itu semakin rumit. Media internet dimanfaatkan oleh kelompok teroris sebagai kontranarasi dari media mainstream.

Jika media mainstream meliput kekerasan terorisme, media teroris menarasikannya sebagai tugas suci dan legitimasi tindakan dengan harapan mendapatkan simpati publik. Internet dengan demikian dijadikan jalan pintas untuk menyampaikan pesan langsung ke audiens tanpa melalui media mainstream.

Selain website, media sosial juga telah menjadi alat cukup efektif bagi kelompok radikal terorisme sebagai instrumen propaganda, pembangunan jaringan, dan rekrutmen keanggotaan yang bersifat lintas batas negara. Kelompok ISIS menjadi satu model gerakan terorisme yang secara cerdas dan fasih menggunakan kemajuan teknologi dan informasi, khususnya media sosial sebagai alat propaganda dan rekrutmen keanggotaannya.

Melalui media sosial seseorang dapat menjadi radikal dengan tidak harus keluar rumah. Kelompok teroris telah menyediakan berbagai situs dan media sosial yang memandu seseorang secara online.

Pengalaman dari berbagai negara termasuk tiga remaja dari Inggris yang kabur untuk bergabung dengan ISIS menjadi salah satu bukti betapa efektif proses radikalisasi yang terjadi di dunia maya. Seseorang bisa menjadi radikal dan memutuskan untuk mengambil tindakan bergabung dengan kelompok teroris akibat infiltrasi terorisme di dunia maya.

 

Tulisan ini pernah dimuat di koran sindo, 05 Maret 2015

This post was last modified on 22 Juni 2016 2:47 PM

Agus SB

Pangdam VII Wirabuana, mantan Deputi Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

1 bulan ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

2 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

3 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

3 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 bulan ago