Narasi

Mendamba Khutbah Jumat Bernutrisi, Bergizi

Pulau Lombok yang dikenal dengan pulau Seribu Masjid, tentu penamaan itu bukan semata tanpa dasar. Pulau yang merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan jumlah penduduk lebih dari tiga juta jiwa. Beragam suku, etnis, penganut agama yang mendiaminya. Mayoritas muslim dan suku Sasak. Bagi kami yang mukim di Lombok, ketika ada yang bertanya mengenai patokan penanda rumah, maka kurang tepat jika hanya menyebut “di depan, di belakang atau di samping masjid” tanpa menyebut nama masjidnya. Karena bisa jadi di satu ruas jalan bahkan terdapat dua masjid bersebelahan.

Kubah dan menara menjadi semacam penanda bagi masyarakat sekitarnya. Kita tidak pernahsulit untuk bertanya masuknya waktu sholat. Jika waktunya tiba, suara tarkhim dan azan akan terdengar bersahutan dari toa satu dan lainnya. Saya kira kita tak perlu bingung harus menjawab azan yang mana.

Pun ketika hari Jumat tiba,tidak sulit untuk memenuhi syarat syah pelaksanaan solat Jumat terkait jumlah jamaah yang umumnya mensyaratkan 60 orang mukim di satu wilayah. Dan umumnya, di Lombok jamah perempuan tidak melaksanakan solat Jumat meskipun ada imam yang membolehkan. Kami para perempuan biasanya menyimak khutbah melalui toa masjid yang suaranya menyebar kemana-mana.

Baca juga : Khutbah Jumat Tidak untuk Memecah Belah

Dalam proses penyimakan itulah, melalui tulisan ini saya mengulas beberapa khutbah yang disampaikan khatib. Nyaris khutbah Jumat yang acapkali disimak lebih banyak berisi tentang sesuatu yang “langit” jarang membahas hal yang dekat dengan keseharian dan permasalahan yang dialami umat. berisi ancaman, imbalan surga neraka. seruan jihad di jalan Alloh tanpa menjabar luas makna jihad dalam keseharian yang lebih ramah, dan penuh dengan nilai keIslaman Rahmatan lil Alamin. Tidak dinafikan dalam beberapa Khutbah, ada juga khatib yang menyampaikan pesan-pesan moral, etika, khususnya dalam meminpin  pun ujungnya menyelip pesan politik.

Mengapa khatib sedikit sekali menyadur khutbah berisi nilai toleransi, keberagaman, cinta tanah air, menjaga merawat lingkungan masih minim diusung sebagai wacana khutbah jumat? Di tengah permasalahan umat yang mulai rentan konflik, perpecahan yang mengarah pada disk integrasi bangsa. Atau isu soal lingkungan dimana jamaah, umat mendiaminya. Mengapa demikian? Ini menjadi pekerjaan Rumah bagi ulama, penceramah, pendakwah khususnya khatib solat jumat. Sebab persoalan besar dari bangsa ini berkaitan isu radikalisasi, eksteimisme, kerusakan lingkungan satu paket dengan minimnya eksplorasi narasi yang membumi.

Bagaimana Kita mengukur kepahaman umat terhadap kata cinta agama, tanah air, nusa dan bangsa  tanpa diawali dengan mengembangkan narasi positif tentang itu semua. Dan peran seorang khatib salah satunya adalah menjabarkan tafsir kitab, agama yang sesuai konteks masyarakat dan persoalan besar bangsa. Tidak semata bicara soal surga dan neraka, di satu sisi lingkungan dan alamnya rusak karena ulah manusia. Tidak sekedar bicara membela agama dengan segala cara, tapi disi lain membantai saudara sebangsa. Tidak semata bicara menebar agama Tuhan, sementara semangat ajaran toleransi dari Nabi ditinggalkan, justru lebih gandrung mengusung perang.

Fenomena ini, saya ibaratkan seperti peran seorang koki peramu masakan. Tidaklah cukup ia menyajikan masakan siap saji Yang diramu koki lain yang entah dari mana asalnya. Sebab cita rasa setiap masyarakat akan berbeda menurut permasalahan lokal serta nasional. Terkecuali kita belajar darinya tentang persamaan masalah yang dihadapi sehingga solusi dapat segera dicari, disampaikan. Pun tentang pandangan mengenai makanan, saya ibaratkan masyarakat kita tengah “lapar” dan memerlukan nutrisi, gizi untuk membentengi tubuhnya.Tentu, sebagai seorang peramu makanan tidaklah cukup hanya sekedar menyajikan makanan namun standar gizi, nutrisi, protein, kalori penting untuk dipenuhi. Jangan hanya sekedar enak dan nyaman dinikmati namun micin Dan penyedap rasa berlebih pun mengganggu kesehatan penikmatnya.

Maka standar-standar gizi, protein, nutrisi, zat Dan lainnya ini penting dirumuskan dalam satu kurikulum khusus materi khutbah. Kurikulum Yang terrencana baik, narasi Yang syarat nilai-nilai keIslaman sebagaimana ajaran Rasulalloh yang tegas namun tidak beringas, yang lugas mudah dipahami, menyenruh persoalan keseharian umat, membingkai nilai keberagaman sebagai sebuah bangsa yang majemuk, menentramkan menghindari perpecahan. pun mudah diaplikasi dikehidupan sehari-hari. Tanpa itu semua apa yang bisa dilakukan setelah dibacakan kalimat “Ansitu wasma’u wa atii’u Rahimakumulloh”.

This post was last modified on 27 November 2018 10:32 AM

Maia Rahmayati

View Comments

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago