Narasi

Merawat Pancasila dan Agama dengan Menolak Rasisme

Awal mulanya Sila pertama tertulis, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Lalu, kita mungkin bertanya-tanya, kenapa bisa diganti dengan, “Ketuhanan Yang Maha Esa?” Jawabannya adalah supaya adil dan damai. Seandainya pada Sila pertama tidak diganti, tentu tidak mungkin orang Kristen, Hindu, Budha, Katolik, dan Konghucu mau memakai Pancasila. Sebab, mereka akan beranggapan bahwa Pancasila hanya milik orang Islam. Bisa jadi mereka akan membuat Pancasila sendiri, keluar dari Negara Kesatuan Rakyat Indonesia (NKRI). Karenanya, supaya Pancasila dapat digunakan oleh semua agama, maka digantilah Sila pertama menjadi empat kata. Dari empat kata itulah, Indonesia menjadi bersatu walaupun berbeda-beda, baik agama, kekayakinan, suku, dan ras.

Sungguh benar apa yang dikatakan Gus Dur, bahwa “Negara tanpa Pancasila akan bubar,” jadi tak hanya retak, tapi pecah, bahkan akan terjadi pertumpahan darah yang terus menerus. Sebab itulah, kita sebagai bangsa Indonesia harus menanamkan Pancasila dalam hati serta tak lupa untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Anehnya, mengapa semakin bertambahnya manusia di bumi ini, semakin banyak juga orang yang saling membenci, saling beranggapan bahwa orang lain lebih rendah darinya, dan saling mengaku paling benar dan unggul? Parahnya lagi, mengapa kita kadang terlibat dalam hal ini? Padahal, masalah di dunia ini sudah sangat banyak, lalu kenapa kita masih sering mendukung ataupun terlibat dalam aksi-aksi kebencian atau kekerasan yang bersifat rasisme?

Melalui pertanyaan di atas, mari kita pelajari atau pahami mengenai akar dari kebencian itu sendiri. Tujuannya, supaya kita tidak selalu terjebak pada keadaan yang menuntut untuk menebar kebencian dan rasisme. Sehingga, Pancasila dan agama yang kita anut tetap utuh meski dimiliki oleh orang yang berbeda-beda suku, ras, keyakinan, bahasa, dan sebagainya.

Sebenarnya, kebencian itu  berakar dari manusia sendiri. Terbukti, manusia membenci perbedaan, tetapi tidak sepenuhnya mencintai persamaan. Contoh, apakah kita sepakat kalau orang di dunia semuanya kaya? Tidak ada yang bertani, tidak ada yang bekerja di pabrik, dan tidak ada yang namanya pemulung. Pada intinya, semuanya kaya. Tentu jawabannya tidak setuju, dan hal ini merupakan bukti bahwa kita juga tidak seutuhnya mencintai persamaan.

Contoh lain, ketika kita berbicara tentang keadilan, di waktu yang lain kita melakukan pengerdilan dan bertindak kejahatan. Kita berkeinginan disanjung-sanjung, tapi di sisi lain malah selalu menghujat. Kita berharap semua orang patuh, tapi kita sendiri sering melanggar. Kita ingin dicintai, sayangnya hati hanya digunakan untuk iri dan dengki. Jadi, hal ini juga merupakan bukti nyata bahwa akar kebencian itu adalah bersumber dari diri kita sendiri, sehingga rasa merasa paling unggul dan benar tertanam dalam diri.

Jika demikian, maka bisa dipastikan bahwa ketika kita membiarkan dan mendukung adanya kebencian karena perbedaan pandangan atau keyakinan, maka artinya kita belum bisa mengondisikan kebencian yang ada pada diri kita. Sehingga, kita pun akan terus-menerus terlibat dalam kriminalitas kebencian dalam kehidupan sehari-hari.

Sungguh celaka ketika kebencian yang menjadi penyemangat hidup ini, karena menurut Nelson Mandela (presiden Kongres Nasional Afrika (ANC) pada tahun 1991), kebencian itu diibaratkan kita sedang meminum racun dan berharap sesuatu yang kita benci itu terbunuh. Pertanyaannya, mana mungkin orang atau kelompok tertentu bisa terbunuh kalau kita sendiri yang meminum racun. Tentu kita sendiri yang akan mati. Jadi, selama dalam diri kita ada benih-benih kebencian terhadap sesuatu, maka bersiaplah untuk dibunuh oleh kebencian itu sendiri.

Karenanya, menjaga dan merawat Pancasila dan agama demi menolak rasisme harus kita tekankan dalam hidup. Bahkan, harus kita jadikan tujuan utama dalam menjalani aktivitas sehari-sehari. Dalam hal ini, kita harus mengamini perkataan Gus Dur yang mengatakan bahwa, “Agama mengajarkan pesan-pesan damai, tetapi ekstremis memutarbalikkanya”. Juga dengan perkataan Buya Syafii (mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah), bahwa “Islam itu damai, konstruktif dan dapat mengayomi bangsa ini dengan tanpa membeda-bedakan suku, agama, afiliasi politik dan lain-lain. Dan, inilah Islam yang sebenar-benarnya.”

Sekarang menjadi jelas, ketika kita menyukai kekerasan dan kebencian, maka sebenarnya kita adalah bagian dari orang-orang yang menjungkirbalikkan makna-makna perdamaian. Lalu coba kita pikirkan, jika perbedaan pandangan dan keyakinan tidak dijadikan sebagai jalan menuju perdamaian, Pancasila dan agama yang mengajarkan untuk damai mau dijadikan apa? Mari renungkan!

Ach Fawaid

Keagamaan di Garawiksa Institute, Yogyakarta

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

17 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago