Narasi

Para Pembajak Agama

Dalam sejarahnya, Iblis adalah orang yang pertama membajak nama Allah demi kepentingan pragmatisnya. Konon, ia menggoda Adam dan Hawa yang berada di Surga untuk memakan buah yang sudah dilarang Tuhan. Dengan retorika yang mantap dihiasi embel-embel nama Allah, Iblis kemudian berhasil merayu bapak manusia itu.

Mengapa Adam dan Hawa bisa tergoda? Sebab Iblis, membajak nama Allah dan merayu Adam dengan nama Allah. Gus Baha dalam salah satu penggajiannya pernah menyatakan bahwa Adam sejatinya tidak salah. “Nabi Adam nggak pernah salah, ketika beliau ditanya Allah kenapa memakan buah yang Saya larang? Nabi Adam menjawab, demi Allah, saya tidak pernah menduga ada orang yang berani berbohong atas nama-Mu.”

Artinya, Nabi Adam adalah korban sumpah Iblis yang membajak nama Allah untuk tujuan liciknya. Pada awalnya, lanjut Gus Baha, Nabi Adam sejatinya tidak pernah tergoda atas rayuan Iblis, cuma karena Iblis bersumpah atas nama Allah dan berbohong bahwa apa yang ia ucapkan adalah sesuai dengan perintah Allah, maka Adam pun terperdaya.

Kerja-kerja Iblis inilah yang dilakukan olah para pembajak agama sekarang. Mereka menafsirkan agama sesuai dengan kepentingan ideologi dan politik mereka. Mereka membujuk umat dengan iming-iming yang bombastis. Mereka tak segan-segan mengatasnamakan semua tujuan mereka atas nama Allah.

Atas Nama Allah

Kesakralan agama pun dibajak oleh kaum radikalis. Berbohong tak apa-apa asalkan tujuannya sesuai dengan kepentingan sesaat mereka. Agama direduksi, seolah-olah agama hanya urusan politik semata. Demi agama, demi nama Allah, berbohong, cara-cara kekerasan, hoax, serta ujaran kebencian adalah halal.

Baca juga : Mencegah Para Pembajak Agama

Para pembajak agama banyak berkeliaran di sekitar kita. Mereka bisa dengan mudah dikenali. Kata kuncinya cuma satu: berbohong atas nama Allah demi kepentingan pragmatis. Tak jarang, kekerasan, pembunuhan, pengeboman, dan segala turunannya dilakukan oleh mereka.

Bila ada pihak-pihak yang menghentikan gerak mereka, pasti dijadikan sebagai musuh bersama. Kaum radikalis adalah para pembajak agama yang lihai beretorika di depan jemaahnya. Mereka mereduksi agama, makna jihad dipersempit, kata umat dibatasinya hanya untuk kelompok mereka saja.

Agama dipersempit sebagai din wa siyasah atau  din wa daulah, agama dan politik atau agama dan negara. Tiap hari mereka sibuk memperjuangkan agar syariah dijadikan sebagai konstitusi bernegara. Padahal kalau dirujuk ke dalam Al-Quran, tidak ditemukan satu ayat pun yang berbicara tentang sistem politik sebagai suatu kewajiban.

Makna jihad direduksi. Seolah-olah jihad adalah perang dan perang adalah jihad. Cara-cara kekerasan tidak menjadi masalah, bahkan dianggap sebagai bagian dari perjuangan, apabila itu dilakukan untuk agama. Jihad pada awalnya adalah perjuangan yang total dalam segala aspek hidup manusia. Kini dipersempit untuk menegakkan khilafah, syariah islamiyah, mengkritisi pemerintah, demo berjilid-jilid, dan sederet lainnya.

Hal yang sama juga dengan kata umat. Mereka mengklaim bahwa yang disebut umat hanya mereka saja. Umat telah dihina, umat telah dizalimi, umat telah diinjak-injak. Umat dinarasikan sebagai pihak yang selalu menjadi korban. Apabila ditelusuri siapa itu umat. Dalam narasi mereka, umat itu adalah setiap insan yang sesuai dengan ideologi politik mereka.

Ketiga kata ini –agama, jihad, dan umat –adalah kata yang sering dibajak demi kepentingan ideologi kaum radikal. Pembajakan itu dilakukan dengan cara-cara Iblis, yakni berbohong atas nama Allah. Nama Allah dibawa-bawa, identitas keislaman diseret-seret sebagai sarana pembohongan publik. Mengatasnamakan Allah diiringi dengan identitas agama sebagai jargon sering membuat manusia terhipnotis. Bisa dilihat saja, berapa banyak yang bersimpati kepada golongan radikal ini.

Bila ada pihak yang mengungkap kebohongan mereka dan menyatakan bahwa mereka sejatinya memperalat agama, mereka akan mencap yang mengkritik itu sebagai anti-Islam, anti-Rasullluh, anti-Arab, anti-ulama, anti-bendera tauhid, dan anti lainnya, yang itu sangat sensitif di kalangan masyarakat. Pemerintah, ormas, atau tokoh yang berani menelanjangi mereka menjadi bulanan-bulanan mereka.

Jika Alquran menyuruh kita agar berlindung dari godaan kejahatan, baik itu Jin dan Manusia, maka kejahatan besar itu adalah membajak agama dengan cara berbohong atas nama Allah. Cara kerja iblis, ternyata dipraktekkan oleh manusia juga sekarang. Semoga kita terlindung dari para pembajak agama ini.

This post was last modified on 21 Oktober 2019 5:29 PM

Ahmad Kamil

View Comments

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

10 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

2 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

2 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago