Narasi

POLITIK BIDADARI KAUM TERORIS

Banyak pandangan yang mengomentari soal terorisme baik dari aspek teologis maupun dari aspek sosial. Sebagian orang misalnya beranggapan bahwa secara doktrin keagamaan, lahirnya terorisme berangkat dari pemahaman yang tekstual. Begitu juga yang berpendapat bahwa secara sosiologis terorisme merupakan efek samping dari modernisasi dan globalisasi. Menurut saya terorisme tidak sesimpel itu. Terorisme lahir dari gejolak hati untuk menguasai dunia secara keseluruhan. Dan ambisi kekuasaan itu dibungkus dengan dalih agama. Doktrin-doktrin teologis tekstualis yang seringkali mereka kemukakan tidak lebih dari benteng untuk menjaga keyakinan mereka tentang perebutan kekuasaan. Mari kita lihat.

Propaganda kaum teroris itu yang seringkali didengung-dengungkan adalah kehidupan ini akan berakhir dengan perang dan akan dimenangkan oleh orang-orang yang beriman. Dalam peperangan itu, teroris mewakili dirinya sebagai yang beriman. Sementara yang lain dianggap sebagai kaum yang telah jauh melenceng dari sendi agama. Tidak heran jika yang diperangi bukan hanya non muslim tapi juga muslim yang berbeda pandangan dengan mereka. Lebih-lebih muslim yang telah berpikir kritis soal cara mereka beragama. Dan, dengan demikian baik non muslim maupun muslim yang tidak sealiran dengannya wajib diperangi.

Dalil-dalil al Qur’an maupun hadits sengaja mereka suguhkan kepada komunitas dan orang-orang yang menjadi objek dakwahnya dalam kondisi telanjang tanpa tafsir. Teks-teks itu diramu dengan berbagai peristiwa yang terjadi guna menumbuhkan daya ledak bagi kaum teroris. Bahwa penindasan terhadap umat Islam yang terjadi saat ini tidak lebih dari gerakan pembenci Islam yang harus dilawan dan dikalahkan dengan cara apapun. Tidak hanya itu, mereka juga ditawari janji-janji tentang indahnya surga dan bidadarinya. Guna menumbuhkan semangat membunuh.

Setelah pembunuhan atas nama agama itu dilakukan dimana-mana, mereka kemudian menghendaki adanya satu kekuasaan tunggal bernama khilafah. Dimana di dunia ini hanya boleh ada satu khalifah dan itu harus beragama Islam. Tidak dijelaskan bagaimana pengangkatan khilafah ini, yang pasti hukum-hukumnya berdasarkan hukum Allah. Sementara hukum-hukum yang berlaku dimana pun tidak diakuinya. Demi ambisinya, mereka tidak setuju dengan pendapat ulama yang menempatkan Undang-Undang yang adil merupakan hukum Allah. Bahkan mereka tidak segan-segan membunuh para ulama yang menghalangi kerakusannya akan kekuasaan.

Terus terang, upaya merebut kekuasaan dengan memakai simbol-simbol agama ini bukanlah hal baru dalam Islam. Demi kekuasaan, mereka membunuh orang lain baik muslim maupun bukan. Sayyidina Ali Karramallah Wajhahu terbunuh oleh orang pencari kekuasaan ini. Tersebutlah Abdurahman bin Muljam, orang yang fasikh membaca al Qur’an dan banyak menghafal hadits-hadits Nabi. Tapi dialah yang membunuh Sayyidina Ali. Dalam pembunuhan yang sadis itu dia juga banyak mengeluarkan dalil-dalil al Qur’an. Ucapannya yang paling populer ketika menebas leher Ali adalah bahwa hukum hanya milik Allah, bukun milik manusia. Bahkan kepada Syabib bin Bajrah al-Asyja’i al-Haruri, Ibn Muljam menyebut perbuatannya tersebut sebagai kemuliaan di dunia da akhirat.

Oleh karena itu dalam Shahih Ibn Hibban, Rasulullah pernah bersabda, “sesungguhnya sesuatu yang aku takutkan atas kalian adalah seorang laki-laki yang membaca al Qur’an, sehingga setelah ia kelihatan indah karena al Qur’an dan menjadi penolong agama Islam, kemudian dia mengubahnya pada apa yang telah menjadi kehendak Allah. Dia melepaskan dirinya dari Al Qur’an, melemparnya ke belakang dan menyerang tetangganya dengan pedang dengan alasan syirik.” Kemudian Nabi ditanya, “wahai Nabi Allah, siapakah di antara keduanya yang lebih berhak menyandang kesyirikan, yang dituduh syirik atau yang menuduh?” Rasulullah menjawab, “Justru yang menuduh syiriklah sebenarnya yang syirik”.

Dari kasus Sayyidina Ali dan hadits Nabi di atas apabila dicerna lebih dalam, tidak kurang tidak lebih sama dengan apa yang dilakukan kaum teroris saat ini. Atas dasar hukum Allah mereka membunuh orang lain tanpa pernah diketahui kesalahannya apa. Mereka, sekali lagi, bukan orang yang tidak paham akan agama tetapi lebih mendahulukan kekuasaan duniawi dengan menghancurkan sendi-sendi agama khususnya Islam yang penuh rahmat ini. Na’udzu billah!

Abdul Muiz Ghazali

Pegiat sosial-keagamaan dan aktif mengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Cirebon.

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago