Narasi

Ronda di Ruang Virtual: Ikhtiar Demi Kerukunan

Ruang virtual kerap dipenuhi dengan beragam kegaduhan. Setiap detik, informasi mengalir ibarat luapan air bah. Nyaris tidak terbendung. Ya, jika informasi tersebut memberikan manfaat kepada kita. Maka layak dikonsumsi. Tetapi masalahnya, diantara beragam informasi tersebut, banyak yang bisa dikategorikan sebagai limbah beracun. Sebab berpotensi meracuni pikiran para pembacanya. Hoax pun dapat disebut limbah beracun. Mereka yang kerajingan membaca hoax, secara perlahan nalarnya akan tumpul. Daya kritis yang dimiliki tidak dimanfaatkan secara optimal. Masyarakat yang kecanduan dengan hoax pun jumlahnya tidak sedikit. Salah satu indikatornya makin menjamur dan eksisnya situs-situs penyebar hoax. Hal inilah yang menjadi pekerjaan kita bersama. Harus segera dituntaskan agar tidak menjadi penyakit kronis di masyarakat.

Salah satu dampak buruk informasi sampah adalah merenggangkan ikatan kerukunan antar anak bangsa. Kehidupan masyarakat yang awalnya cair, tiba-tiba berubah menjadi kaku. Fitnah menjadi pemicunya. Sebab fitnah merupakan bagian tidak terlepaskan dari beragam hoax. Semakin tajam fitnah yang ditempelkan pada informasi hoax, semakin dasyat daya rusaknya. Fenomena ini bisa diamati dengan mudah di sekeliling kita. Saling hujat seolah menjadi karakteristik baru di masyarakat kita. Perbedaan diinjak-injak dan kebanggaan terhadap golongannya makin memuncak. Isu SARA bukannya semakin intensif diperbincangkan dengan akal sehat untuk mendapatkan titik temu, melainkan lebih banyak disebar dengan narasi kekerasan dan permusuhan. Akibatnya, apa yang terjadi di dunia maya terus merembet ke dalam kehidupan dunia nyata.

Sekedar contoh, mari kita tengok isu yang belakangan marak di jagat maya. Yaitu berita tentang penyerangan terhadap ulama. Ternyata, isu ini banyak diberi bumbu penyedap berupa kebencian, fitnah, dan saling curiga. Tengok fakta berikut. Seperti diberitakan oleh tempo.co, Direktur Reserse Kriminal Umum, Kepolisian Daerah Jawa Barat, Komisaris Besar Umar Surya Fana menjelaskan ada 15 kabar bohong atau hoax yang berkaitan dengan penyerangan terhadap tokoh agama. Kasus tersebut kini sedang ditangani oleh kepolisian di Jawa Barat. Dari 15 hoax tersebut, yang benar-benar kejadian ulama/tokoh agama sebagai korban hanya dua. Sementara yang 13 lainnya murni hoax. Masih menurut keterangan kepolisian, berita bohong tersebut disebarkan melalui media sosial Facebook, Twitter, Instagram, dan sejumlah situs. Ironisnya, ada salah satu tersangka yang beraktivitas sebagai guru mengaji. Dan saat ditanya oleh polisi, dia melakukan hal tersebut sekedar untuk iseng.

Pelajaran yang bisa diambil dari kasus tersebut, bahwa siapa pun bisa menjadi korban sekaligus pelaku hoax. Baik kaum cerdik pandai, intelektual, agamawan, pelajar, mahasiswa, dan kalangan lainnya. Semuanya bisa terjerumus dalam hoax. Apalagi sebuah hoax biasanya akan diikuti oleh hoax-hoax lain yang berusaha saling berhubungan dan menguatkan. Maka mereka yang gemar memproduksi dan mengkonsumsi hoax niscaya akan terjerat dalam jaring-jaring hoax.

Lalu, bagaimana cara untuk mengatasi keruwetan hoax di dunia maya? Mengatasi masalah yang pelik tentu membutuhkan energi yang besar. Dan energi ini sebenarnya bisa didapatkan dari partisipasi masyarakat untuk turut menjaga kewarasan dunia maya. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah melakukan ronda di ruang virtual. Ronda merupakan salah satu tradisi unik yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Berdasarkan KBBI, ronda bermakna berjalan berkeliling untuk menjaga keamanan. Ronda juga dapat bermakna berpatroli. Pada masyarakat Indonesia, ronda biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah dewasa dan dilakukan di malam hari. Lalu, bagaimanakah cara untuk ronda virtual?

Ronda di ruang maya bisa dilakukan oleh siapa saja. Khususnya mereka yang melek teknologi. Ronda tidak hanya dilakukan pada malam hari, melainkan selama 24 jam. Hal yang bisa dilakukan saat ronda dunia maya adalah melaporkan kepada pihak berwenang jika ada informasi menyesatkan di jagat maya. Misalnya informasi hoax, kekerasan, fitnah, penipuan, dan sebagainya. Petugas ronda pun perlu langsung merespons jika ada potensi ketidakamanan di dunia maya. Misalnya saat ada yang memposting tulisan provokatif, bisa langsung diredam dengan cara menyampaikan keberatan. Atau memberikan informasi penyeimbang agar tulisan provokatif tersebut tidak viral dan merusak otak pembacanya. Semoga dengan ronda di ruang maya ini, kita mendapatkan manfaat sekaligus bisa menjegal para perusak kerukunan masyarakat.

 

Rachmanto M.A

Penulis menyelesaikan studi master di Center for Religious and Cross-cultural Studies, Sekolah Pascasarjana UGM. Jenjang S1 pada Fakultas Filsafat UGM. Bekerja sebagai peneliti.

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

1 hari ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago