Agama diturunkan ke dunia untuk mengajarkan perdamaian, nyaris tidak ada satupun agama yang mengijinkan penganutnya untuk berlaku kerusakan. Mahatma Gandhi misalnya, mengajarkan perdamaian melalui ajaran ahimsa-nya, nabi Muhammad dengan ajaran uswatun hasanah-nya, begitupun dengan tokoh-tokoh besar dalam agama yang lain. Mereka sepakat agama adalah sumber kebaikan. Tetapi yang terjadi akhir-akhir ini benar-benar bertentangan dengan semangat agama. Banyak orang yang mengaku paham, atau bahkan ahli agama, tetapi tidak risih untuk menyakiti sesama. Perbedaan dijadikan sumber pertentangan. Sementara kita yang terbata dipaksa untuk menyaksikan agama sebagai ‘arena’ permusuhan.
Hal ini tidak lantas berarti bahwa agama memang memiliki celah yang memungkinkan pemeluknya untuk berlaku pongah, melakukan pengrusakan, dan menebar permusuhan atas nama Tuhan. Agama sepertinya bukan saja telah disalahartikan, tetapi ia telah pula disalahgunakan. Ayat-ayat agama yang dimaksudkan untuk kebaikan dipelintir sedemikian rupa hanya agar tampak berbeda. Perintah-perintah agama ditafsirkan sekenanya sambil mengira bahwa kebenaran hanya ada pada dirinya. Karenanya, jangan mudah percaya sebelum melakukan koreksi. Karena jika tidak teliti, kita akan bingung. Sementara kalau malas melakukan koreksi, kita akan linglung.
Menerima mentah-mentah suatu informasi tanpa pernah melakukan koreksi adalah awal dari membuncahnya berbagai permasalahan, tidak terkecuali permasalahan yang terjadi antar umat beragama. Terdapat setidaknya lima hal mudah yang dapat kita lakukan agar kita terhindar dari konflik yang tidak mengenal kata ‘sudah’, yaitu:
Intinya, jangan mudah menerima isi dari informasi sebelum dipastikan terlebih dahulu bahwa informasi tersebut benar dan baik. Jika informasi tersebut berisi sesuatu yang benar tetapi tidak baik, maka jangan disebarkan, cukup untuk diketahui saja. Tetapi jika informasi tersebut berisi sesuatu yang baik, maka tentu hal itu pasti dapat dibenarkan.
Kekerasan tidak pernah dapat dibenarkan dalam konteks agama, karena agama justru mengajarkan perdamaian. Begitu juga dalam konteks kenegaraan, perbedaan agama yang ada di negeri ini justru menjadi jalan untuk meretas persatuan. Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia dibangun tidak berdasarkan pada keberpihakan tehadap salah satu agama saja. Negara ini berdiri kuat di atas pengakuan dan penghormatan terhadap perbedaan agama yang ada. Oleh karenanya kecenderungan untuk membeda-bedakan, apalagi dengan memilih jalur kekerasan, bertentangan dengan semangat Indonesia.
This post was last modified on 9 Juni 2015 10:52 AM
Di era digital, arus informasi bergerak begitu cepat hingga sulit dibedakan mana yang fakta dan…
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa dampak signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Pengaruhnya…
Tak ada yang dapat menyangkal bahwa kecerdasan buatan, atau AI, telah menjadi salah satu anugerah…
Presiden Prabowo Subianto kembali melantik Komjen (Purn) Eddy Hartono sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme…
Dunia digital kita sedang menghadapi sebuah fenomena baru yang mengkhawatirkan: krisis kebenaran. Jika sebelumnya masyarakat disibukkan…
Sebagai sebuah ideologi dan gerakan sosial-politik, terorisme harus diakui memiliki daya tahan alias resiliensi yang…