Pustaka

Sketsa Gaza: Sebuah Novel Tentang Kisah-Kisah Tragis Palestina

Penderitaan di Palestina telah menjadi kisah tragis yang terus berlanjut. Konflik yang melibatkan Israel dan Palestina telah menciptakan kondisi sulit bagi warga Palestina. Mereka menghadapi serangkaian ancaman, mulai dari ketidakstabilan politik hingga masalah kemanusiaan. Banyak keluarga kehilangan rumah mereka, dan akses terhadap sumber daya dasar seperti air dan listrik mengalami keterbatasan akibat blokade Israel.

Penderitaan ini bukan hanya masalah fisik, tetapi juga berdampak pada aspek psikologis masyarakat dan anak-anak. Anak-anak tumbuh di tengah konflik, mengalami trauma yang mendalam dan kehilangan akses terhadap masa depan yang stabil. Kisah-kisah tragis itulah yang dikisahkan Kirana Mahdiah Sulaeman dalam novel ini. Kirana  menceritakan tentang nasib dan kehidupan orang-orang Gaza, yang secara sosial politik sedang krisis akut menghadapi kekejaman dan keberingasan tentara zionis Israel.

Kirana, sebagai perempuan yang lahir di Qam, Iran telah mendorongnya untuk turut serta mendokumentasikan apa yang sedang ia saksikan, lihat dan dengar tentang Gaza (negeri tetangga Iran) dalam bentuk karya sastra. Dengan kata lain, narasi-narasi mengerikan yang tersaji dalam novel ini benar-benar dicatut dari sekian peristiwa-peristiwa yang sedang dan sudah menjadi bagian dari nasib buruk orang-orang Palestina di Gaza.

Membaca novel ini, kita akan diajak berpetualang menyusuri Gaza yang penuh dengan ancaman, kegetiran, rasa takut, puing-puing bangunan yang runtuh, dan bercak darah yang berhamburan di sana sini. Dalam novel ini, Kirana menjelaskan, nasib buruk yang menimpa masyarakat Gaza bermula sejak Israel memblokade Gaza pada tahun 2007. Sejak itulah kata Kirana kemerdekaan orang-orang Gaza benar-benar mulai terampas.

Aktivitas-aktivitas yang dinilai menyuarakan perlawanan terhadap kekejaman tentara Israel mendapatkan ancaman. Bahkan, aktivitas di medsos sekalipun juga tak luput dari intaian tentara Israel itu. Dikisahkan, akun Facebook Nisreen, seorag aktivis mahasiswa yang telah memiliki ribuan pengikut tiba-tiba diblokir. Yang letak masalahnya tidak jelas. Katanya postingannya melanggar aturan standar komunitas. Padahal, postingannya—kurang lebih—hanyalah soal kebebasan dan kemerdekaan sebagai manusia.

Terampasnya kebebasan orang-orang Palestina di jalur Gaza pasca blokade Israel (2007)  bukanlah satu-satunya nasib buruk yang dipotret oleh Kirana dalam novel ini. Susahnya air bersih, dan kebutuhan-kebutuhan primer lainnya yang hanya bergantung pada bantuan internasional, dan terganggunya aktivitas kegiatan belajar mengajar adalah sebentuk penderitaan lain yang dialami oleh Palestina pasca-blokade Gaza. Dalam kacamata seorang Kirana, kekejaman tentara Israel adalah bentuk dari kekejaman yang tidak manusiawi yang paling kejam di abad modern kini.

Karena itu, menurut Kirana, dunia harus bersatu (solid) membela Palestina dari kekejaman Zionis Israel. Solidaritas global dalam membela Palestina menjadi kunci penting dalam menegakkan keadilan dan perdamaian di Timur Tengah. Konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina telah menyebabkan penderitaan dan ketidaksetaraan. Dalam melawan penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia, solidaritas internasional dapat memperkuat suara penentang terhadap tindakan yang merugikan.

Melalui dukungan global, tekanan politik dan diplomatik dapat ditingkatkan untuk mendorong dialog damai. Solidaritas Global juga memperlihatkan bahwa masalah Palestina bukanlah hanya tanggung jawab satu negara atau wilayah, melainkan masalah kemanusiaan yang perlu mendapat perhatian dunia. Dengan mendorong solidaritas global, hal itu akan mampu menciptakan solusi dan jalan keluar berkelanjutan dan menekankan pentingnya hukum internasional dalam penyelesaian konflik Palestina.

Ini bukan hanya tentang melindungi warga Palestina, tetapi juga menjaga prinsip-prinsip kemanusiaan secara universal. Solidaritas global memainkan peran krusial dalam mengatasi ketidakadilan dan mencapai perdamaian yang berkelanjutan dalam konflik yang telah mengorbankan ribuan nyawa tak berdosa dan masa depan anak-anak di Palestina.

This post was last modified on 15 November 2023 3:58 PM

Farisi Aris

Recent Posts

Masjid Rasa Kelenteng; Akulturasi Arsitektural Islam dan Tionghoa

Menarik untuk mengamati fenomena keberadaan masjid yang desain arsitekturnya mirip atau malah sama dengan kelenteng.…

2 bulan ago

Jatuh Bangun Konghucu Meraih Pengakuan

Hari Raya Imlek menjadi momentum untuk mendefinisikan kembali relasi harmonis antara umat Muslim dengan masyarakat…

2 bulan ago

Peran yang Tersisihkan : Kontribusi dan Peminggiran Etnis Tionghoa dalam Sejarah

Siapapun sepakat bahwa kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia tidak didominasi oleh satu kelompok berdasarkan…

2 bulan ago

Yang Diskriminatif adalah yang Jahiliyah

Islam melarang sikap diskriminasi, hal ini tercermin dalam firman Allah pada ayat ke-13 surat al-Hujurat:…

2 bulan ago

Memahami Makna QS. Al-Hujurat [49] 13, Menghilangkan Pola Pikir Sektarian dalam Kehidupan Berbangsa

Keberagaman merupakan salah satu realitas paling mendasar dalam kehidupan manusia. Allah SWT dengan tegas menyatakan…

2 bulan ago

Ketahanan Pangan dan Ketahanan Ideologi : Pilar Mereduksi Ekstremisme Kekerasan

Dalam visi Presiden Prabowo, ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas utama untuk mewujudkan kemandirian bangsa.…

2 bulan ago