Narasi

Soft Terrorism; Metamorfosa Ekstremisme Keagamaan di Abad Algoritma

Noor Huda Ismail, pakar kajian terorisme menulis kolom opini di harian Kompas. Judul opini itu cukup provokatif, “Narasi Zero Attack yang Menyesatkan”. Artikel itu ditulis untuk merespons euforia di balik narasi zero attack terrorist yang dalam dua tahun ini menjadi semacam euforia publik. Ia tidak menampik, bahwa selama dua tahun ini Indonesia memang zonder serangan teroris. Namun, ia mengingatkan bahwa hal itu tidak berarti ancaman terorisme itu benar-benar musnah.

Di paragraf awal tulisannya, ia mewanti-wanti dengan serius bahwa terosisme mengalami metamorfosis. Terosisme tidak hanya mewujud pada aksi kekerasan, melainkan menyusup secara halus melalui narasi, komunitas maya, dan algoritma digital.

Noor Huda Ismail juga nenyinggung ihwal pernyataan anggota DPR RI yang menyoal eksistensi BNPT di tengah nihilnya aksi teror. Ia seolah ingin membantah argumen tentang tidak diperlukannya BNPT di tengah kondisi zero attack terrorism. Sebagai pengkaji fenomena terorisme, dan dikenal memiliki kedekatan dengan sejumlah mantan kombatan JI, Noor Huda Ismail tentu paham betul bagaimana gerakan terorisme itu bermetamorfosis. Maka, ia menilai keberadaan BNPT bukan sekedar soal ada atau tidaknya serangan teror. Bukan pula sekadar soal politik anggaran, utamanya di tengah kebijakan efisiensi. Eksistensi BNPT, menurut Noor Huda Ismail, lebih dari sekedar itu semua.

Sebagai bangsa, kita memang kerap berpikir naif dan pragmatis. Pikiran kita kerap kali hanya berorientasi pada kepentingan sekarang, lantas lupa menengok masa lalu, dan abai meneropong masa depan. Dalam penanggulangan terorisme, kita pun berpikir naif dan pragmatis. Dua tahun tanpa aksi teror, sebagian dari kita buru-buru euforia oleh narasi zero attack terrorism. Euforia itu lantas berujung pada wacana bahkan usulan untuk membubarkan BNPT, lantaran dianggap tidak dibutuhkan dan membebani anggaran negara. Dalam hal ini, kita lupa masa masa lalu, masa ketika banyak aksi terorisme menjadi ancaman serius bagi negara. Kita juga abai melihat masa depan. Masa dimana terorisme potensial bangkit kembali. Kita hanya melihat realitas hari ini. Itu pun realitas yang tidak utuh dan hanya di permukaan saja.

Euforia narssinzero attack terrorist itu memang menggambarkan realitas di permukaan. Dimana tidak ada aksi teror terbuka yang terjadi selama dua tahun terkahir. Namun, jika kita jeli melihat ke dalam, realitas yang berbeda akan tampak. Di tengah nihilnya aksi teror itu, kita justru melihat narasi propaganda ekstremisme agama di media sosial kian kencang. Di saat yang sama, fenomena konservatisme agama yang menjurus pada ekstremisme juga kian mengkhawatirkan. Penyebaran pandangan ekstremisme agama kini dibungkus melalui beragam trend budaya populer, seperti talkshow, podcast, film, bahkan stand up comedy. Narasi-narasi ekstrem seperti daulah atau khilafah disamarkan ke istilah baru yang lebih ramah, seperti hijrah, syar’i, kaffah, dan sejenisnya. Semua fenomena itu tidak lebih dari transformasi ideologi ekstremisme yang hadir dalam bentuk yang lebih halus. Fenomena ini diistilahkan sebagai soft terrorism. Yakni terorisme yang tidak mewujud pada aksi kekerasan terbuka, namun bermain pada tataran ide, persepsi, dan pemikiran.

Soft terrorism memang tidak menimbulkan kerusakan fisik seperti aksi hard terrorism. Soft terrorism juga tidak menimbulkan dampak instan yang dirasakan saat itu juga. Efek destruktif soft terrorism tampak pada rusaknya pola pikir umat yang tampak pada perilaku intoleran terhadap perbedaan. Dampak soft terrorism ini akan kita rasakan di masa depan dengan lunturnya nasionalisme dan patriotisme. Metamorfosis hard terorrorism ke soft terrorism inilah yang perlu diwaspadai.

Terlalu mahal eksistensi negara ini untuk digadaikan dengan membubarkan lembaga-lembaga yang selama ini menjadi leasing sector penaggulangan terorisme. Justru sebaliknya, lembag-lembaga tersebut harus dikuatkan.

Pembangunan manusia yang gencar dilaksanakan pemerintahan sekarang tentu patut kita dukung. Namun, definisi membangun manusia tentu tidak sekadar memperbaiki kualitas asupan gizi ke anak dan remaja. Tidak kalah penting adalah memastikan anak dan remaja tidak mengonsumsi propaganda ekstremisme agama yang tersebar luar di medsos.

Di abad algoritma ini, membangun manusia bukan sekedar membangun fisiknya agar sehat, namun juga membangun mentalnya agar tidak mudah terpapar paham ekstremisme dan terorisme.

Sivana Khamdi Syukria

Recent Posts

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 hari ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 hari ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

5 hari ago

Peta Jalan Penanggulangan Terorisme-Jurnal Jalan Damai Vol. 1. No. 10 Desember 2025

Salam Damai, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal…

3 minggu ago

Agama Cinta Sebagai Energi Kebangsaan Menjinakkan Intoleransi

Segala tindakan yang membuat kerusakan adalah tidak dibenarkan dan bukan ajaran agama manapun. Kita hidup…

1 bulan ago

Bagaimana Menjalin Hubungan Antar-Agama dalam Konteks Negara-Bangsa? Belajar dari Rasulullah Sewaktu di Madinah

Ketika wacana hubungan antar-agama kembali menghangat, utamanya di tengah menguatnya tuduhan sinkretisme yang dialamatkan pada…

1 bulan ago