Narasi

Sudan, Refleksi Cermin Retak: Membongkar Propaganda Disintegrasi Berkedok Ukhuwah

Darah kembali tumpah di Sudan, mengalir membasahi tanah El-Fasher yang sarat sejarah. Nyawa manusia bergelimpangan laiknya barang tak berharga. Sebuah ironi yang kerap terjadi namun selalu dilegitimasi.

Ya, apa yang kita saksikan di layar berita bukanlah sekadar insiden tunggal, melainkan sebuah episode terbaru dari tragedi berulang yang telah menyandera hati nurani global. Suriah, Libya, Yaman, dan Sudan, merupakan potret  parade pilu dari negara-negara yang koyak, hancur lebur oleh konflik internal yang tak berkesudahan. Ini adalah manifestasi tragis dari titik pertemuan dua kekuatan destruktif: kerapuhan ideologi negara yang gagal mengakomodasi pluralitas dan fragmentasi identitas di akar rumput yang sengaja dipertajam.

Di tengah kekacauan yang diciptakan sendiri ini, sebuah narasi lama, namun dengan kemasan baru nan berbahaya, muncul ke permukaan. Ironisnya, di saat sebuah bangsa sedang dirobek-robek, suara-suara sumbang justru mengglorifikasi “Ukhuwah Global” dan “Persatuan Muslim” sebagai pembenaran untuk melegitimasi kekerasan. Ini bukanlah sentimen organik yang tulus; ini adalah propaganda terdesain, sebuah alibi teologis untuk agenda disintegrasi.

Laporan terbaru dari majalah propaganda ISIS, An Naba, tahun 2025, secara gamblang menyerukan untuk berjihad ke Sudan. Seruan ini tidak hanya diamplifikasi oleh jaringan teroris lokal seperti JAD di Indonesia, tetapi juga dikemas sebagai “tanggung jawab” keagamaan. Ini adalah bukti nyata betapa mudahnya narasi dan framing yang mengatasnamakan agama dapat dibajak untuk melegalkan kekerasan dan mengaburkan agenda kekhalifahan semu yang mereka usung.

Seruan jihad ke Sudan bukanlah tentang menyelamatkan atau membantu rakyat Sudan yang menderita. Itu adalah undangan terbuka untuk merekrut pion-pion baru, untuk ikut menghancurkan, dengan iming-iming ilusi sebuah “rumah global” yang suci. Mereka mengeksploitasi konsep mulia ukhuwah (persaudaraan Islam) yang seharusnya menjadi perekat, justru untuk tujuan disintegrasi. Mereka menawarkan identitas yang seolah lebih tinggi, lebih murni, namun sejatinya menihilkan setiap identitas lain yang tidak sejalan.

Ini adalah pola yang terduplikasi. Pola yang digunakan di Irak dan Suriah.  Mereka tidak datang menawarkan kedamaian yang sejati dalam beragama; sebaliknya, mereka menjual lisensi untuk teror, pembunuhan, dan kehancuran atas nama sebuah konsep “ilahiah” yang telah mereka distorsi.

Lalu, apa relevansinya bagi Indonesia?

Di sinilah kita harus bercermin pada Sudan. Jika narasi disintegrasi yang mengusik identitas kebangsaan ini dibiarkan merajalela di Indonesia, maka yang terjadi adalah skenario Sudan: perpecahan, pertumpahan darah antar sesama anak bangsa, konflik horizontal yang tak berkesudahan. Dengan kata lain, Indonesia akan runtuh dengan sendirinya, bukan oleh serangan eksternal, melainkan oleh virus yang sengaja ditanam dari dalam.

Apa yang terjadi di Sudan adalah pengingat yang menyakitkan bahwa kedaulatan sebuah negara adalah barang mahal yang rapuh, bukan warisan yang abadi tanpa perawatan. Kedaulatan tidak dibangun dengan slogan-slogan ideologi transnasional yang memecah belah, melainkan dengan kerja keras merawat fondasi rumah kita sendiri, dengan mengokohkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan persatuan.

Kunci utama untuk membangun dan menjaga kedaulatan sebuah negara bukanlah dengan meruntuhkan batas-batasnya demi ilusi global.  Melainkan, perkuat persatuan bangsa, dan jaga ideologi bangsa. Beruntunglah kita, para pendahulu telah membangun fondasi yang kokoh: Pancasila sebagai ideologi pemersatu, Bhinneka Tunggal Ika sebagai filosofi pluralisme, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk final negara, dan UUD 1945 sebagai konstitusi yang menaunginya. Inilah tameng terkuat kita dari virus disintegrasi. Hanya dengan merekat erat pada pilar-pilar ini lah kita dapat memastikan rumah kita, Indonesia, tetap kokoh berdiri di tengah badai ideologi transnasional yang memecah belah.

Andri Bima

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

2 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 bulan ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 bulan ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

3 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

3 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

3 bulan ago