Narasi

Teroris Telah Membajak Islam

Kali ini boom bunuh diri telah menyasar tempat ibadah kristiani. Tepanya di depan gereja Katedral Sulawesi Selatan pada hari minggu 28-03-2021 yang telah mengakibatkan korban sebanyak 24 orang.

Tindakan biadab ini dilakukan oleh anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang merupakan pasangan suami istri yang baru menikah enam bulan yang lalu. Ironisnya kelompok ini mengaku dirinya sebagai orang islam dan beragama islam, tetapi tindakan yang dilakukan tidak islam bahkan lebih parah dari pada hewan buas yang menekam mangsa tanpa ada rasa kasihan.

Masih membekas dibenak kita boom bunuh diri yang dilakukan satu keluarga, Dita Oeprianto, istri dan keempat anaknya di daerah Surabaya tahun 2018 silam. Kekejian dan kebiadaban ajaran teroris sungguh nyata dan menjadi ancaman bagi keberlangsungan kehidupan umat manusia. Ajaran teroris dapat menutup hati seorang untuk memiliki rasa kasih sayang dan rasa cinta kepada kepada sesama manusia.  

Aksi boom bunuh diri merupakan tindakan biadab yang tidak satu agamapun dunia ini membenarkanya. Agama islam yang merupakan agama ramah dan rahmah, agama damai dan membawa kedamaian mengutuk keras tindakan biadab boom bunuh diri ini. Kelompok teroris menjadikan islam sebagai tameng untuk menghalalkan tindakan radikal, boom bunuh diri, dan aksi kekerasan lainnya.

Kepicikan kelompok teroris telah membajak kata “islam” agar orang islam mau mengikuti apa yang diinginkan. Padahal kelompok teroris dan sekutunya bukanlah islam. Berikut bukti-bukti bahwa Teroris telah membajak Islam.

Pertama, dengan embel-embel Islam, banyak orang tertarik untuk berbaiat dan mengikuti jejak teroris. Padahal kata “islam” berasal dari akar kata aslama yuslimu islaman yang memiliki makna perdamaian, kedamaian, dan kenyamanan. Tindak teroris tidak memberikan kenyamanan dan kedamaian tetapi memberikan ketakuatan, menakut-nakuti dan kerusakan.

Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat rahmah bagi siapapun, ras apapun, dan etnis manapun. Berbagai literatur menjelaskan bahwa nabi Muhammad SAW diutus ke dunia membawa risalah perdamaian dan kedamaian, diutus untuk menjadi rahmah bagi seluruh jagad raya (al-anbiya’ ayat 107). Lantas, jika nabi Muhammad membawa pesan-pesan perdamaian, mengata teroris yang mengaku islam membuat kerusakan? Maka sudah dipastikan kelompok teroris yang membuat kerusakan tidak beriman kepada Nabi Muhammad. Inilah bukti bahwa kelompok teroris telah membajak islam dan teroris bukan islam.

Kedua ideologi teroris tidak menghargia dan menghormati manusia. Hal ini terlihat dengan tidakan biadab boom bunuh yang menyasar tempat-tempat ibadah. Padahal islam merupakan agama yang sangat menghargai dan menghormati orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran yang artinya “sesungguhnya kami memuliakan anak adam (al-isra’ ayat 70)”. Arti memuliakan dapat pula dimaknai sebagai larangan untuk menyakiti, menyiksa, dan membunuh orang lain ( (Hassan, 2007) karena orang yang membunuh satu orang manusia sama halnya dengan membunuh seluruh umat manusia. Begitu juga sebaklinya, orang yang memelihara kehidupan seorang manusia maka dia seakan telah memelihara kehidupan semua manusia (Al-Maidah ayat 32).

Ketiga, kelompok teroris menyasar anak muda islam yang memiliki paham keagamaan yang sempit sehingga bagi kelompok teroris sangat mudah untuk dicekoki paham radikal. Anak muda ini menjadi target utama agar dapat melalukan apapun yang diinginkan dengan iming-iming surga dan 70 bidadari telah menunggu di surga. Padahal islam sangat melarang manusia untuk menjatuhkan diri dalam kebinasaan (Al-Baqorah ayat 195) termasuk tindakan melukai diri seperti boom bunuh diri. Orang yang melalukan boom bunuh, maka balasannya adalah api neraka selama-lamanya. Nauzdubillah.

Teroris tidak akan pernah berhenti untuk mengajak dan mengelabuhi umat islam agar dapat bergabung dengan kelompoknya. Berbagai cara dilakukan agar orang lain tertarik untuk mengikuti langkah teroris. Maka dibutuhkan kewaspadaan bersama agar seluruh sanak keluarga dan tetangga dapat terhindar dari ajarkan kelompok teroris yang selalu merugikan masyakat.

Oleh karena itu, seluruh element agar masyarakat tidak lengah dan selalu wasapada terhadap ajaran teroris baik melalui media social atau melalu pendekatan personal. Semoga bangsa Indonesia terselamatkan dari ajaran teroris yang dapat mengancam keutuhan bangsa Indonesia. Wallahu a’lam bissowab.

This post was last modified on 31 Maret 2021 12:26 PM

Samsul Ar

Samsul Ar. Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Aktif di FKMSB (Forum Komunikasi Santri Mahasiswa Banyuanyar). Tinggal di Yogyakarta.

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago