Narasi

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.”

— Herman Broch__

Kita hidup di tengah keramaian digital yang penuh teriakan, tuduhan, dan kemarahan. Linimasa media sosial bergerak cepat, emosional, dan reaktif. Namun justru di sanalah paradoks terbesar zaman ini bekerja: manusia merasa paling sadar, paling kritis, paling “melek”, padahal sedang berjalan dalam tidur. Herman Broch menyebut kondisi ini sebagai sleepwalker—manusia yang terus bergerak dan mengambil keputusan tanpa kesadaran utuh atas sistem yang menggerakkannya.

Seperti diingatkan Broch: “Dalam zaman tanpa nilai sentral, manusia cenderung menciptakan pseudo-absolut.” Di era digital, pseudo-absolut itu sering kali berbentuk kepastian moral digital yang rapuh—marah pada apa yang kita tidak sepenuhnya pahami, membela apa yang kita tidak sepenuhnya kenal.

Di abad ke-21, para sleepwalker itu tidak lagi berjalan di jalanan kota, melainkan di ruang digital, dipandu oleh algoritma yang bekerja senyap namun sistematis.

Ruang digital hari ini bukan sekadar arena pertukaran gagasan, melainkan mesin produksi emosi. Platform media sosial mengukur segalanya dengan satu tolok ukur utama: engagement. Like, share, komentar, dan durasi tonton bukan sekadar ekspresi pengguna, melainkan sinyal bagi algoritma untuk menentukan apa yang layak disebarkan lebih luas.

Masalahnya, data menunjukkan bahwa emosi negatif—terutama kemarahan dan kecurigaan—menghasilkan engagement tertinggi. Konten yang menenangkan jarang dibagikan. Konten yang memicu amarah justru berlipat ganda penyebarannya. Dalam logika algoritma, viral bukanlah yang paling benar, melainkan yang paling memancing reaksi.

Setiap like adalah suara persetujuan.

Setiap share adalah rekomendasi.

Setiap komentar marah adalah bahan bakar.

Dari sinilah siklus bekerja. Konten yang memicu emosi kuat didorong ke lebih banyak layar. Ketika muncul berulang kali, ia menciptakan ilusi kepentingan. Yang sering muncul dianggap penting. Yang dianggap penting perlahan dipercaya. Di titik ini, repetisi menggantikan verifikasi.

Inilah fragmentasi kesadaran yang dimaksud Broch dalam bentuk paling mutakhir. Realitas tidak lagi hadir sebagai gambaran utuh, melainkan sebagai potongan-potongan narasi emosional yang terus diulang. Algoritma tidak bertanya apakah sebuah informasi benar atau salah. Ia hanya membaca satu hal: apakah manusia bereaksi.

Kecurigaan pun menjadi kebiasaan sosial. Ketika narasi “ada yang disembunyikan” terus diulang—melalui meme, potongan video, komentar singkat—ia terasa masuk akal. Klarifikasi kalah menarik dibanding tuduhan. Penjelasan kalah viral dibanding insinuasi. Dalam ekonomi atensi, rasionalitas adalah produk yang kalah bersaing.

Di sinilah sleepwalking berubah menjadi kegilaan massa. Individu merasa sedang berpikir mandiri, padahal pikirannya dibentuk oleh apa yang terus-menerus muncul di hadapannya. Amarah terasa spontan, padahal ia adalah hasil desain sistem yang menghargai reaksi cepat dan menghukum refleksi.

Isu-isu yang secara hukum, data, dan institusi telah selesai tetap hidup sebagai “_zombie digital” _bukan karena daya jelajah kebenarannya, melainkan karena nilai viralnya. Selama sebuah narasi mampu memancing like dan share, ia akan terus direproduksi—dipotong, dikemas ulang, diberi sudut pandang baru—hingga maknanya terlepas dari realitas awal.

Lebih berbahaya lagi, manusia tidak sadar bahwa kesadarannya sedang direkayasa. Seperti peringatan Broch, krisis terbesar bukanlah konflik terbuka, melainkan ketidaksadaran kolektif bahwa kita telah kehilangan jarak kritis terhadap apa yang kita konsumsi dan sebarkan.

Kebangsaan pun menghadapi ujian serius. Bukan karena kurangnya kebebasan berbicara, tetapi karena melimpahnya emosi tanpa refleksi. Warga tetap berbicara, berkomentar, dan memilih—namun sering kali dalam keadaan mental yang dibentuk oleh repetisi algoritmik, bukan pertimbangan rasional.

Maka solusi tidak cukup berhenti pada imbauan “cek fakta”. Yang lebih mendesak adalah kesadaran atas mekanisme emosi: memahami bahwa setiap like dan share bukan tindakan netral, melainkan bagian dari sistem yang memperkuat atau melemahkan nalar publik.

Selama manusia masih merasa bebas padahal dikendalikan oleh logika viralitas, selama itu pula kita akan terus berjalan cepat ke arah yang tidak sepenuhnya kita pahami—merasa terjaga, padahal sedang berjalan dalam tidur.

Dan sejarah menunjukkan, masyarakat yang dipenuhi sleepwalker adalah masyarakat yang paling mudah digiring, sambil yakin bahwa mereka sedang memperjuangkan kebenaran.

Ferry malaka

Seorang analis media di Pusat Media Damai BNPT.

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

1 hari ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

1 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

2 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

2 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 bulan ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 bulan ago