Narasi

Tiga Kunci Mengarungi Pandemi; Toleransi, Resiliensi, Kolaborasi

Pandemi telah merebut sebagian dari hidup kita. Pembatasan sosial membuat kita harus melakukan kegiatan dengan penuh keterbatasan. Pandemi tentu bukan semata persoalan kesehatan, namun juga ekonomi, sosial, politik bahkan agama. Secara individu, kita tentu kerap gamang, cemas dan gelisah menatap masa depan. Cemas karena sewaktu-waktu bisa terpapar virus. Gelisah karena menghadapi situasi yang serba tidak pasti.

Setahun setengah mengarungi pandemi pandemi ini membuat saya yakin bahwa kunci mengarungi badai pandemi ada tiga hal, yakni toleransi, resilisiensi dan kolaborasi. Toleransi berakar dari Bahasa Yunani, tolerare yang berarti sabar dan menahan diri. Maknanya ialah kemampuan setiap orang untuk bersabar dan menahan diri terhadap hal-hal yang tidak sejalan dengannya. Toleransi diperlukan agar kohesi sosial tetap terjaga dan perbedaan tidak berujung pada perpecahan atau konflik.

Di masa pandemi, toleransi pada sesama masyarakat maupun terhadap pemerintah ialah keharusan. Mengatasi pandemi tidak mudah. Seluruh negara di dunia pun mengalami dilema yang sama, yakni menyelamatkan warganya sekaligus menjaga ketahanan ekonomi. Bongkar pasang kebijakan dan gonta-ganti strategi pun dilakukan. Hal itu bukan bentuk inkonsistensi, melainkan upaya untuk beradaptasi dengan keadaan.

Di tengah situasi itulah, masyarakat perlu bersikap toleran. Perbedaan pandangan atas kebijakan pemerintah tentu hal yang wajar. Kita tidak bisa menampik kenyataan bahwa sebagian masyarakat terdampak ekonomi akibat kebijakan pembatasan sosial. Namun, perbedaan pandangan itu hendaknya disampaikan secara bijak dan persuasif dan menghindar dari narasi provokatif. Bersikap toleran di masa pandemi ialah bersikap sabar dan menahan diri untuk tidak melakukan tindakan yang kontra-produktif terhadap upaya mengatasi pandemi..

Selain toleransi, kunci mengarungi badai pandemi ialah resiliensi. Yakni kemampuan bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan dan dinamika yang muncul di masa sulit atau krisis. Di masa pandemi, resiliensi sangat penting. Seperti disebut di muka, pandemi melahirkan semacam kelelahan mental (mental fatigue) yang mewujud pada perasaan cemas, takut, panik, frustasi bahkan depresi. Jika tidak dikelola dengan baik, hal itu akan menghancurkan tubuh dan jiwa kita dari dalam. Hal paling berbahaya dari pandemi ini ialah hilangnya optimisme dan harapan yang membuat masyarakat kian cuek dan abai pada keadaan. Agar hal itu tidak terjadi, kita perlu menguatkan resiliensi.

Caranya ialah dengan membangun kepercayaan antarmasyarakat dan antara masyarakat dengan pemerintah. Di tengah situasi ketidakpastian ini, kita membutuhkan apa yang disebut sebagai caring relationship yakni hubungan horisontal (antarmasyarakat) dan hubungan vertikal (antara pemerintah dan masyarakat) yang bertumpu pada sikap kesaling-perhatian. Maka, sudah sepatutnya kita menghilangnya prasangka dan curiga baik terhadap sesama anggota masyarakat, terlebih pada pemerintah.

Terakhir, kunci mengarungi badai pandemi ialah kolaborasi. Yakni kerjasama antarberbagai elemen bangsa, mulai dari pemerintah pusat, daerah, lembaga kemasyarakatan, keagamaan dan masyarakat umum untuk bersama-sama mengatasi pandemi. Strategi kolaboratif ini diperlukan lantaran pandemi merupakan persoalan multisektor. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian mengatasi pandemi.

Inilah waktunya bagi bangsa untuk saling bekerjasama dan membangun sinergi antarlini dalam mengatasi pandemi. Bukan waktunya bagi kita untuk saling menyalahkan satu sama lain. Alih-alih saling melempar tuduhan dan saling menyalahkan, idealnya kita membangun budaya dialog, mengembangkan simpati-empati serta menyumbang andil kontributif pada upaya menghadapi pandemi. Dengan begitu, maka beban bangsa ini akan lebih ringan.

Arkian, kita harus menyadari bahwa pandemi ini bisa menjadi pintu masuk bagi kelompok tertentu yang ingin mengadu-domba dan memprovokasi masyarakat. Di saat yang sama, kita juga patut menyadari bahwa di tengah krisis akibat pandemi, masyarakat menjadi rentan terpapar narasi provokatif. Tugas kita ialah memastikan jangan sampai pandemi bereskalasi ke dalam munculnya praktik-praktik intoleransi, kekerasan apalagi teror. Disinilah pentingnya kita membumikan sikap toleransi, resiliensi dan kolaborasi.

This post was last modified on 3 Agustus 2021 3:30 PM

Nurrochman

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago