Narasi

Wajah Ganda Khilafah: Mencari Simpati di Tengah Tragedi Kemanusiaan di Palestina

Masihkah kita ingat? betapa zhalim-nya kaum penegak khilafah yang memanfaatkan sumbangan kemanusiaan untuk Palestina itu? Di tengah kondisi rakyat Palestina yang kelaparan dan membutuhkan uluran bantuan kita. Justru sumbangan itu digunakan oleh mereka yang memiliki  hasrat misi politik untuk menyatukan umat Islam dalam kekuatan di bawah naungan khilafah untuk berkuasa di muka bumi.

Inilah wajah ganda kaum khilafah yang seolah-olah mereka peduli atas tragedi yang terjadi di Palestina. Padahal, mereka hanya mencari simpati umat di tengah tragedi kemanusiaan di Palestina. Di luar wajah mereka seolah menampakkan rasa peduli atas Palestina. Namun dalam hati, pikiran dan tujuannya, mereka hanya ingin sebuah kekuasaan di tengah krisis kemanusiaan yang dihadapi rakyat Palestina.

Apa dasar argumentasi, bahwa kaum penegak khilafah ini hanya mencari simpati di tengah tragedi kemanusiaan? Cobalah pahami seruan aksi yang ada di titik-nol Yogyakarta pada Senin 3 Juni 2024 itu. Orang yang benar-benar peduli dan menyuarakan kebebasan untuk Palestina seharusnya hal-hal yang sifatnya simbolis tentang Palestina itu seharusnya menjadi tujuan di balik aksi itu.

Apa saja hal-hal yang simbolis itu? Dari hal yang paling sederhana, jika kita melakukan aksi solidaritas untuk Palestina seharusnya memakai atribut yang berkaitan dengan Palestina seperti pentingnya mengibarkan bendera nasional Palestina. Ini menjadi nilai fundamental penting dalam sebuah aksi solidaritas Palestina, karena bendera menjadi simbol penting bahwa kita mengakui keberadaan Palestina sebagai sebuah negara yang harus merdeka.

Lantas, bagaimana dengan seruan aksi yang ada di titik-nol Yogyakarta kemarin itu? Tidak ada satu-pun yang memakai atribut seperti baju, bendera atau tulisan-tulisan yang seharusnya menjadi simbol perjuangan untuk kemerdekaan rakyat Palestina. Justru dalam aksi tersebut berkibat bendera hitam dan putih bertuliskan kalimat tauhid dan sambil berteriak dan mengibarkan tulisan untuk menegakkan khilafah da jihad Islam untuk Palestina.

Dari hal-hal yang vital seperti bendera Palestina dan bahkan kalau perlu memakai baju Palestina, mereka justru tak menggunakan identitas semacam itu. Bahkan yang berkibar justru adalah “bendera lain”, motif lain, tujuan lain dan ide politik lain. Yakni memanfaatkan simpati masyarakat di tengah tragedi kemanusiaan di Palestina untuk menegakkan ide khilafah.

Jadi, alasan apa yang membuat kita harus mengatakan mereka (kaum penegak khilafah) itu peduli tentang isu kemanusiaan dan tragedi pembantaian yang terjadi di Palestina? Suara yang lantang berbicara tentang Palestina sangat tak sesuai dengan simbol perjuangan yang mereka bawa. Artinya, mereka seperti berjualan khilafah di tengah penderitaan yang di alami rakyat Palestina, bukankah ini sangat memalukan?

Jangankan hal-hal yang sifatnya simbolis mereka tunjukkan dalam sebuah aksi. Mereka saja menggunakan sumbangan yang seharusnya disalurkan kepada rakyat Palestina. Mereka gunakan sumbangan itu demi memperkuat sebuah misi untuk menegakkan khilafah di seluruh dunia. Maka wajar, mereka berteriak membawa alasan perjuangan Palestina lalu ingin menyatukan umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia.

Jadi di sinilah kita harus cerdas dalam memahami mana yang benar-benar peduli atas Palestina, Juga, kita bisa melihat mana yang “sekadar” mencari simpati di tengah tragedi kemanusiaan di Palestina itu. Sebagaimana yang Saya sebutkan di atas, wajah ganda kaum penegak khilafah ini hanya memanfaatkan tragedi kemanusiaan di Palestina untuk mencari simpati masyarakat agar mengikuti ajakan untuk menegakkan khilafah. Bukankah ini adalah corak dari wajah ganda kaum-kaum munafik yang harus kita hindari?

Nur Samsi

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

1 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

1 bulan ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

1 bulan ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

2 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

2 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 bulan ago