Narasi

Wakil Tuhan, Bukan Wakil Iblis

Mahluk yang terbuat dari cahaya tersebut terlihat galau. Tuhan yang menciptakan mereka, akan menjadikan manusia sebagai wakilnya di muka bumi. Dalam benak malaikat, manusia adalah mahluk yang akan melakukan kerusakan dan menumpahkan darah. Sementara malaikat, tidak pernah berhenti memuji dan mensucikan penciptanya. Jika sudah jelas karakter manusia seperti itu, lantas untuk apa tuhan menjadikan manusia begitu spesial?

Begitulah keraguan malaikat. Kebimbangan tersebut segera dijawab oleh Tuhan. Bahwa Dia Maha Mengetahui terhadap apa yang tidak diketahui malaikat. Keputusan tuhan memiliki banyak hikmah dari dugaan malaikat. Kisah perbincangan antara Tuhan dengan malaikat ini bisa disimak dalam QS. Al baqarah ayat 30.

Banyak makna yang bisa ditarik dari narasi di atas. Salah satunya, hakekat kehadiran manusia bukanlah untuk berbuat kezaliman dan menumpahkan permusuhan. Tetapi sebaliknya, melakukan kebaikan dan memperkuat perdamaian. Terlebih sebagai perwakilan Tuhan di dunia, manusia harus mempraktekkan sifat-sifat mulia tuhan. Seperti rahman dan rahim.

Setiap insan pun bertanggungjawab mengurus bumi agar kehidupan berjalan sesuai kehendak tuhan. Maka, ketika ada manusia yang  melakukan pertumpahan darah dan kerusakan, baik terhadap sesama manusia maupun alam, dia sama saja mengkhianati amanah yang diberikan oleh Tuhan. Jenis manusia yang telah tercerabut seperti ini perlu disadarkan agar tidak menjadi mahluk yang dikhawatirkan oleh malaikat.

Kini, berbagai kerusakan terpampang di depan mata. Khususnya yang dilakukan manusia. Pertikaian terjadi di berbagai belahan dunia akibat ulah manusia yang ingin menguasai manusia lain. Mereka saling membunuh. Lupa dengan misi mulia khalifah yang diembannya. Terhadap alam, manusia tidak kalah beringasnya. Menebang hutan tanpa kendali hingga menyebabkan timbulnya berbagai bencana. Seperti tanah longsor, banjir, perubahan iklim, dsb.

 Hal ini mirip dengan peringatan Alquran bahwa  telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia. Agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka dan agar kembali ke jalan yang benar (Ar Ruum ayat 41). Jika manusia tidak berhenti dan kembali kepada tuntunan Allah, niscaya berbagai kerusakan akan semakin memburuk dan mengancam eksistensi manusia di muka bumi.

Baca Juga : Khalifah untuk Kesejahteraan dan Perdamaian

Sebagai khalifah, berbagai amanah ada di pundak manusia. Salah satunya menyerukan kebaikan, memerintahkan yang makruf, dan mencegah kemungkaran (seperti dalam QS.3:104). Syubah Asa (2000: 257-258) menjelaskan ayat tersebut mewakili logis ketiga dari trilogi takwa, persatuan, dan misi. Takwa merepresentasikan iman, persatuan merupakan persaudaraan, dan misi adalah tugas untuk memerintahkan yang makruf dan mencegah orang dari yang mungkar.  Dia melanjutkan, amar makruf nahi mungkar sebagai seluruh tugas sosial seorang Muslim.

Konsep tersebut merupakan nama bagi keseluruhan dimensi sosial Islam. Amar makruf nahi mungkar berlandaskan iman dan menjadi perekat sekaligus kesadaran persaudaraan bersama. Tetapi wilayah operasinya tidak dibatasi oleh sektarian golongan atau golongan besar.  Hal tersebut sesuai dengan QS. 21: 107, “Tidaklah kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

Ketika manusia telah sadar dengan segala tanggung jawabnya, niscaya kedamaian perlahan akan muncul di bumi. Apalagi, Islam merupakan salah satu agama yang lekat dengan isu perdamaian. Menurut Azhar Arsyad, Islam sebagai agama yang membawa misi perdamaian memiliki justifikasi yang sangat kuat. Hal ini disebabkan misi perdamaian adalah salah satu dari misi humanis-universal kedatangan Islam ke bumi (seperti tercantum dalam Alquran yang menjadi landasannya).

Dalam penyebaran Islam di nusantara pun, Islam menggunakan cara-cara damai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Arsyad menyanggah tesis sebagian kalangan yang melihat Islam sebagai agama kekerasan yang disebarkan melalui pedang. Misalnya pandangan James C. de Wilde yang mengklaim Islam tidak akan pernah meninggalkan misi penaklukan dunia sebagai sebuah kewajiban suci yang perlu terus dilakukan oleh pengikutnya (2006: 73-75).

Maka, perdamaian adalah kata kunci yang, tidak hanya dirapalkan, melainkan dipraktekkan dalam keseharian. Dia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diri setiap insan yang telah berikrar setiap kepada Allah dan rasulnya. Dengan cara inilah, Islam berkontribusi bagi terciptanya tatanan kehidupan yang berkah dan bermartabat. Sebaliknya, jika manusia terus saja berbuat kerusakan dan menyebarkan kebencian, niscaya dia telah berubah menjadi wakil iblis di muka bumi.

Rachmanto M.A

Penulis menyelesaikan studi master di Center for Religious and Cross-cultural Studies, Sekolah Pascasarjana UGM. Jenjang S1 pada Fakultas Filsafat UGM. Bekerja sebagai peneliti.

View Comments

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

1 minggu ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

1 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

2 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

3 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 bulan ago