Kebangsaan

Waspada Musuh dalam Selimut

Judul ini terilhami salah satu tulisan KH. Abdurrahman Wahid “Musuh dalam Selimut” sebagai pengantar buku Ilusi Negara Islam. Kalimat tersebut saya kira cukup tepat dan semakin relevan dalam konteks kekinian. Para penyebar ajaran ekstrim dan ideologi anti NKRI telah lama bersembunyi di balik selimut hangat NKRI. Hanya di Indonesia mereka bebas berkeliaran di tengah jalan meneriakkan khilafah bahkan kadang dikawal aparat. Celakanya, pada momentum tertentu mereka justru disediakan panggung resmi untuk mengkampanyekan khilafah yang jelas bertentangan dengan Pancasila dan NKRI. Sangat ironis!

Sejatinya kelompok ini adalah pendatang baru, yang lupa bahkan tidak mengalami pahit getir perumusan konseptual Negara Kesatuan Republik Indonesia. Gerakan semacam ini secara tidak sadar telah merubah Islam dari agama menjadi ideologi politik. Karena itulah, tidak mengherankan di tanah kelahirannya bahkan di beberapa negara Islam, kelompok pengusung khilafah dan ajaran ekstrim lainnya telah diusir karena dianggap merongrong kedaulatan dan keutuhan negara. Lalu kenapa kita masih menerimanya?

Menurut Gus Dur, kelompok dan gerakan ekstrim tersebut memiliki agenda yang sangat berbeda dengan ormas-ormas Islam moderat seperti NU dan Muhammadiyah. Merebaknya gerakan ini pasca reformasi telah sedikit memberi warna wajah Islam yang intoleran, agrsif, politis-ideologis, dan penuh penyebaran kebencian. Pola pikir mereka berasal dari konsep dualisme masyarakat Islam dan jahiliyah. Di luar kelompoknya adalah masyarakat jahiliyah.

Mereka telah lama bersembunyi dalam selimut tebal NKRI. Pertama demokrasi. Meskipun secara lantang mereka meneriakkan anti demokrasi, HAM dan lainnya, tetapi mereka justru berlindung di balik demokrasi dan HAM. Mereka layak menyuarakan khilafah, menebar kata kafir, murtad, jahiliyah karena dianggap sebagai kebebasan yang tidak bertentangan dengan demokrasi dan merupakan hak berbicara.

Kedua, jargon memperjuangkan Islam. Memperjuangkan Islam sejatinya selimut tebal perjuangan agenda politiknya dengan menjadikan Islam sebagai senjata dan komoditas yang layak diperjual-belikan. Sehingga mereka membangun opini siapa yang menghalanginya berarti sedang melawan Islam. Pada saatnya nanti mereka tidak segan menuduh kafir, murtad, bid’ah dan macam label lainnya bagi orang di luar kelompoknya.

Ketiga, mereka juga sedang menggemborkan rahamatan lil alamin yang berbeda dengan konsep Islam mainstream. Konsep rahmatan lil alamin yang mereka dengungkan sebagai dasar melakukan formalisasi Islam dan memaksa pihak lain untuk menerima tafsir tunggal mereka. Ujung dari semua hal adalah khilafah.

Penggunaan term islami seringkali menggoda dan menggiuarkan masyarakat. Dampaknya, tidak sedikit umat Islam yang tergoda dengan janji-janji politiknya. Mereka konon telah melakukan infiltrasi ke beberapa ormas moderat baik melalui individu maupun institusi pendidikannya.

Ormas Islam moderat di Indonesia telah merasa gerah dengan infiltrasi dan merebaknya gerakan Islam transnasional-ekstrimis ini karena mengancam paham alhusunnah wal jamaah dan berpotensi memecah belah bangsa. Bahkan terkait isu Khilafah Majlis Bahtsul Masa’il NU memutuskan bahwa Khilafah Islamiyah tidak memiliki rujukan teologis, baik di dalam al-Qur’an maupun Hadist. Jika demikian, isu ini murni produk pemikiran (ijtihadiyah) yang sangat dipengaruhi oleh ruang, waktu dan subjektifitas produsennya.

Wal hasil, kita harus tetap waspada dengan musuh dalam selimut tersebut. Mereka bersembunyi di balik kebebasan NKRI, tetapi lambat laun dan sistematis mulai meneriakkan yel-yel yang bertentangan dengan NKRI. Banyak kita jumpai jargon keagamaan bukan untuk meningkat ketaatan sebagai umat, tetapi digunakan untuk perlawanan terhadap umat itu sendiri, wabil khusus kepada pemerintah.

Patut kita cermati bersama: orang yang merasa mengerti Islam, tetapi dipenuhi sikap kebencian terhadap mahkluk Allah, sungguh sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi agar tercipta perdamaian dan terhindar dari kerusakan.

This post was last modified on 26 April 2016 11:19 PM

Abdul Malik

Redaktur pelaksana Pusat Media Damai BNPT

Recent Posts

Di Tengah Gencar Ketahanan Pangan dan Energi, Jangan Lupakan Ketahanan Ideologi dan Literasi

Beberapa waktu terakhir, narasi besar pembangunan Indonesia terasa semakin konkret dengan tema ketahanan pangan dan…

1 bulan ago

Game Online, Agresi, dan Krisis Realitas

Indonesia menempati posisi strategis dalam peta ekonomi pasar gim online global. Kompas (2026) menghitung pengeluaran…

2 bulan ago

Menakar Nilai (In)Toleransi Sekolah Agama

Preferensi orang tua memasukkan anaknya ke sekolah agama sangat bisa dipahami. Terutama di Indonesia. Sebagai…

3 bulan ago

White Supremacy dan Gelombang Teror Baru oleh Anak

Serangan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, awal Februari 2026 tak…

3 bulan ago

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

4 bulan ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 bulan ago