Categories: Kebangsaan

Antara Islam, Pancasila, dan Indonesia

Sudah sepatutnya bagi kita untuk bersyukur, karena sebagai Muslim kita tinggal dan hidup di negara bernama Indonesia. Meskipun negara ini dipenuhi dengan penganut agama Islam terbesar di dunia, namun negara ini menggunakan ideologi pancasila, bukan ideologi berdasar pada tafsiran atas ajaran agama tertentu (formalisasi agama).

Beberapa negara dengan basis penduduk Muslim yang kuat telah ‘mencoba’ melakukan formalisasi ajaran agama yang mereka sebut “syariat” itu, hasilnya justru diluar dugaan. Alih-alih memunculkan kemakmuran bagi masyaraktnya, formalisasi ajaran agama sebagai ideologi negara justru melahirkan malapetaka.

Bangladesh, Pakistan, Marocco, Tunisia, Iran, Irak dan beberapa negara lain yang semakin kelihatan getol memberlakukan formalisasi agama sebagai landasan dalam bernegara justru kerap terperosok dalam rangkaian kekerasan dan permusuhan yang tidak berkesudahan.

Bahkan fenomena formalisasi di atas justru melahirkan frustasi besar-besaran dari para Muslim yang kecewa melihat agama yang mereka puja kini diubah menjadi senjata perang untuk merebut kekuasaan.

Maka ketika muncul wacana untuk memberlakukan syariat Islam di Indonesia, bayangan kekerasan dan permusuhan langsung merebak di sebagian masyarakat. Mereka khawatir Indonesia akan mengalami nasib yang serupa dengan negara-negara Timur Tengah yang kini dilanda konflik.

Contoh paling sederhana adalah perpecahan faksi yang terjadi pada sesama pengusung gagasan nagara Islam. Para pengusung gagasan negara Islam itu justru terlihat sangat sibuk untuk saling mengkafirkan satu sama lain. Minimal mereka menganggap fasik kelompok lain yang berbeda.

Mari rehat sejenak dari bayangan mengerikan di negara lain dan melihat ke sekeliling kita, di negara Pancasila ini umat Islam justru begitu bebas beribadah. Pemerintah memberikan fasilitas yang sangat istimewa bagi kita. Mushalla dan masjid disediakan di tempat-tempat umum untuk digunakan beribadah oleh siapapun.

Muslim dari aliran apapun dapat bebas bersekolah di madrasah-madrasah yang dibiayai oleh negara. Di negeri ini kita tumbuh menjadi Muslim yang berjiwa besar, yang mengutamakan persatuan di atas segala perbedaan. berbagai perbedaan yang ada tidak pernah membuat kita tega untuk berlaku buruk terhadap sesama.

Dengan berdasar pada fakta ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk bersyukur bahwa Indonesia memilih Pancasila sebagai dasar negara. Hal ini tidak lepas dari peran para pendidiri bangsa yang dengan segala kerendahan hati dan kebijaksanaanya menyingkirkan berbagai godaan formalisasi agama. meski andi mereka kehendaki, formalisasi agama bukan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Namun mereka telah berpikir begitu jauh kedepan, mereka tidak ingin terjerembab dalam perebutan simbol laiknya binatang berebut tulang. Para pendiri bangsa yang mayoritas Muslim itu telah mengantisipasi berbagai ancama konflik perpecahan sesama anak bangsa andai formalisasi agama dipaksakan menjadi dasar negara, karenanya mereka memilih dasar negara yang paripurna, yaitu Pancasila.

Marilah kita wujudkan rasa syukur ini dengan tetap menjaga sistem yang telah berjalan baik. Ke-muslim-an tidak semestinya hanya didasarkan pada simbol-simbol dan formalitas saja. Akan tetapi, yang lebih penting adalah berlaku menjadi Muslim dengan nilai-nilai subtansial Islam.

Ke-muslim-an bukan saja tentang rajin bersarung dan memiliki jenggot panjang, bukan pula tentang kemampuan baca dan hafal Alqur’an ataupun hadis Nabi semata, lebih dari itu semua, ke-muslim-an adalah kemampuan untuk mengamalkan nilai-nilai pokok yang bersifat subtansial-universal yang tentu bertalian dengan etika ketuhanan (hablun minallah), etika kemanusiaan (hablun minan-nas) dan etika terhadap alam (hablun minal-bi’ah).

Wallahu A’alm.

This post was last modified on 30 September 2016 5:52 PM

Imam Malik

Adalah seorang akademisi dan aktifis untuk isu perdamaian dan dialog antara iman. ia mulai aktif melakukan kampanye perdamaian sejak tahun 2003, ketika ia masih menjadi mahasiswa di Center for Religious and Sross-cultural Studies, UGM. Ia juga pernah menjadi koordinator untuk south east Asia Youth Coordination di Thailand pada 2006 untuk isu new media and youth. ia sempat pula menjadi manajer untuk program perdamaian dan tekhnologi di Wahid Institute, Jakarta. saat ini ia adalah direktur untuk center for religious studies and nationalism di Surya University. ia melakukan penelitian dan kerjasama untuk menangkal terorisme bersama dengan BNPT.

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

19 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago