Keagamaan

Beda Pilihan, Tetap Toleran : Berbeda Boleh, yang Haram Perpecahan!

Kita ketahui bersama, calon presiden kita dalam pemilu 2024 itu ada 3; Anies-Amin, Ganjar-Mahfud dan Prabowo-Gibran. Kita semua berhak memilih siapa saja di antara ketiganya itu. Sebab, beda pilihan itu boleh, karena yang haram hanyalah perpecahan akibat beda pilihan yang tidak disikapi secara tolerant.

Satu hal yang harus kita sadari tentang kebijaksanaan kita dalam pemilu 2024. Bahwa, perbedaan pilihan itu boleh sebagai bagian dari (ikhtiar) kita bersama dalam mencari sosok pemimpin demi kemaslahatan bangsa. Seperti dalam (Qs. Al-An’am:48) “Maka barang siapa beriman dan berbuat kemaslahatan, maka bagi mereka tidak akan takut dan sedih”.

Jangan jadikan kebencian kita terhadap mereka yang berbeda pilihan dengan kita, lalu membawa sentiment keagamaan untuk memecah-belah. Sebab, agama diturunkan oleh Nabi bukan untuk dijadikan alat memecah-belah, melainkan untuk tali mendamaikan. Seperti dalam (Qs. Ali-Imran:103) “Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliah) ber-musuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu”.

Dalam prinsip memilih calon pemimpin, kita harus meninggalkan segala hal yang berkaitan dengan prasangka buruk. Prasangka cenderung mengacu kepada perilaku fitnah karena tidak didasari sebuah fakta. Prasangka buruk harus kita hindari terhadap pihak yang berbeda secara pilihan karena ini menjadi sumber perpecahan. Karena prasangka kerap mengadu-domba, saling membenci dan bisa bermusuhan.

Jadi, silahkan gunakan kebebasan kita untuk memilih calon pemimpin siapa saja. Asal, jangan menggunakan prasangka untuk menjatuhkan lawan pilihan pihak lain. Karena itu dilarang dan akan membawa perpecahan. Seperti dalam (Qs. Al-Hujurat:12) “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain”.

Sadari, kita boleh berbeda pilihan dalam memilih calon presiden. Tetapi, kita harus menyadari tujuan dalam memilih pemimpin adalah demi (kebaikan bangsa kita) bersama. Maka, jangan sampai aktivitas pemilu itu justru menjadi (mudharat) bagi perpecahan bagi bangsa ini. seperti dalam (Qs. Al-A’raf:56) “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harapan”.

Sebagai orang yang beriman, tentu kita harus cenderung tidak membawa kerusakan. Maka, esensi kesadaran agama semacam ini harus dihadirkan sebagai spirit dalam meniscayakan perbedaan pilihan agar tetap damai. Sadari (Qs Yunus:41) “Di antara mereka ada orang yang beriman kepadanya dan di antara mereka ada pula orang yang tidak beriman padanya. Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang (berbuat kerusakan)”.

Kejujuran, prinsip keadilan, optimisme dalam memilih pemimpin demi kemaslahatan bangsa. Ini sebagai bagian dari prinsip penting yang harus kita miliki dan jangan sekali membawa kesadaran politik keagamaan untuk memecah-belah. Seperti yang disampaikan dalam (Qs. Al-Baqarah:224) “Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang dari berbuat baik, bertakwa dan menciptakan kedamaian di antara manusia. Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Jadikan pedoman kebenaran ayat di atas sebagai kesadaran penting bagi kita dalam menyikapi perbedaan pilihan dalam pemilu 2024. Bangun komitmen dalam diri, bahwa perbedaan pilihan itu boleh. Karena yang haram hanyalah perpecahan. Maka, rayakan pesta demokrasi ini sebagai ajang kita untuk ikhtiar bersama-sama memilih pemimpin demi kemaslahatan bangsa dan di situlah egoisme kita akan terbunuh sehingga enggan berpecah-belah hanya karena berbeda pilihan secara politik.

This post was last modified on 23 Januari 2024 11:51 AM

Fathur Rohman

Photographer dan Wartawan di Arena UIN-SUKA Yogyakarta

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

3 minggu ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

4 minggu ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

4 minggu ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 bulan ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 bulan ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

1 bulan ago