Narasi

Brantas Hate Speech dengan Kesadaran Diri

Memiliki kepribadian yang lebih baik; sopan, pemaaf, penyabar, dan bijak dalam menyelesaikan setiap persoalan, itu tidak mudah seperti kita membalikkan telapak tangan. Artinya perubahan itu ada dan tumbuh dari kesadaran dalam dirinya. Suatu keburukan yang kita lakukan saat ini jangan sampai menjadi karakter kita di masa depan.

Berubah menjadi pribadi yang lebih baik itu lebih mulia dari pada orang yang selalu merasa lebih baik dari siapa pun tanpa menyadari akan kesalahannya. Karena dengan selalu sadar akan setiap perbuatannya, di situ ada fase yang aman akan muncul kesadaran untuk berubah.

Untuk mengubah kebiasaan buruk kita saat ini, hal utama yang harus  kita pahami adalah kondisi jiwa dan pikiran kita. Artinya, Dengan kita memahami kondisi jiwa kita, rasa sadar akan muncul seketika. Jika kita ingin membenahi diri dengan apa yang telah kita perbuat selama ini terhadap perbuatan yang terjebak dalam jiwa yang penuh dengan kebencian, arogansi, dan egoisme yang sangat tinggi, saatnya kita menata kembali kehidupan kita dengan memiliki kesadaran penuh.

Menyelesaikan masalah tanpa masalah merupakan solusi bagi kita semua untuk merasakan arti sesungguhnya kenyamanan. Jika masyarakat yang terlibat dalam kasus penyebar kebencian di sosial media, tidak ada lain bagi kita untuk saling mengingatkan. Selain itu kita harus sadar akan perjalanan hidup kita yang tertutupi dengan keburukan.

Baca juga : Stop Ujaran Kebencian di Sosmed

 Maka perlunya kesadaran diri, agar masyarakat sadar akan pentingnya perdamaian, kebersamaan, dan bagaimana ke depan masyarakat bisa pintar dalam menyelesaikan setiap persoalan dengan bijak. Dengan pendekatan semacam itu, niscaya kesadaran masyarakat akan tumbuh, sehingga masyarakat terbebaskan dari ujaran kebencian, baik aktivitas di sosial media maupun di kehidupan nyata.

Kesadaran dalam diri bukan mempunyai pemahaman bahwa kita harus mengubah diri kita tanpa ada orang lain. Artinya, kita harus bersatu dan saling memahami satu sama lainnya. Jika ada di antara kita yang berlaku tidak baik, maka sudah seharusnya kita dekati dan mencari puncak dari persoalan tersebut, lalu kita harus memberikan wadah kita untuk mereka yang ingin melapangkan dada. Sehingga kita akan mengetahui keluh kesah saudara kita.

Dengan kita mengetahui setiap keluh kesahnya, kita akan sangat mudah dalam memberikan jalan agar setiap keluh kesah tersebut kita tampung dan kita berikan motivasi bagaimana masyarakat agar setiap keluh kesah tersebut bisa teratasi dengan baik dan bisa memberikan semangat terhadap masyarakat. Sehingga akal, hati, dan pikirannya bisa terkontrol hingga bisa memengaruhi dari setiap tindakannya.

Manusia mempunyai perasaan yang sangat kuat, sehingga setiap sesuatu yang bisa menghancurkan perasaannya, akan ada rasa ketidakterimaan yang akan berujung pada konflik yang berkepanjangan. Sehingga dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak wajar bagi mereka itu bisa memuaskan perasaan tersebut yang tersakiti. Hal semacam ini perlu kita atasi dengan kita memahaminya dan kita mengenalinya agar kita tidak terjebak dalam persoalan seperti itu.

Setiap yang ada dalam diri kita ada sebab dan akibat yang perlu kita pahami. Kondisi kita yang saat ini belum orang lain mengetahuinya. Artinya sosial yang baik itu sangat perlu kita jalin agar kita tidak terjebak dalam permusuhan. Karena sosial kita yang renggang antar sesama akan mengakibatkan kita akan sulit memahami orang lain.

Maka dengan kesadaran diri, kita akan bisa lebih intensif dalam menyelesaikan setiap persoalan dengan berubah menjadi yang lebih baik. Sehingga setiap persoalan-persoalan dalam kehidupan sosial masyarakat, kita mengetahui akar rumput dari permasalahan tersebut, dan kesadaran masyarakat sangat penting demi bangsa yang terbebas dari kebencian satu sama lainnya.

This post was last modified on 11 Januari 2019 1:51 PM

Sitti Faizah

View Comments

Recent Posts

Mengenal Bahaya FIMI dan Pentingkah RUU Antipropaganda Asing?

Negara modern jarang runtuh karena kudeta bersenjata. Ia lebih sering melemah secara perlahan karena dikikis…

16 jam ago

Tidur Panjang di Era Media Sosial: Algoritma dan Ilusi Kesadaran

“__Bahaya terbesar zaman modern adalah manusia tidak sadar bahwa ia tidak sadar.” — Herman Broch__…

3 hari ago

Upacara, Ikrar Pelajar dan Rukun Sama Teman : Revolusi Sunyi Penanaman Karakter Anak Nusantara

Inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menindaklanjuti arahan Presiden melalui SE Mendikdasmen No. 4…

3 hari ago

Menghitung Monetisasi Industri Kecurigaan & Kemarahan Di Ruang Digital Oleh Kreator

Di era Digital, kemarahan dan kecurigaan bukan sekadar reaksi emosional; mereka telah menjadi mata uang…

1 minggu ago

Digital Grooming dan Radikalisasi Anak secara Online : Jejak Ancaman Tersamar di Ruang Maya

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan transformasi digital yang luar biasa, di mana anak-anak…

1 minggu ago

Ketika Algoritma Membentuk Ideologi: Anak dan Ancaman Radikalisme Digital”

Anak-anak Indonesia hari ini tumbuh di tengah dunia digital yang tanpa jeda. Gawai bukan lagi…

2 minggu ago