Narasi

Hikayat Gelombang Wani Wirang dan 4 Pilar Kebangsaan

Wabah corona yang telah melanda Indonesia beberapa waktu lalu rupanya tak hanya membuat tiarap berbagai aktifitas keagamaan dan kebudayaan yang sifatnya fisik dan massal serta aktifitas perekonomian. Dari beberapa diskursus di tingkat elit dan pergerakan yang ada di kalangan akar rumput, saya melihat ia juga menyibakkan satu fakta bahwa aspirasi dan gerakan yang mengancam 4 pilar kebangsaan tak pernah benar-benar sekarat (Corona, Ancaman Radikalisme, dan Masa Depan Demokrasi Deliberatif Indonesia, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org).

Sebagaimana pada tahun 2017 hingga pasca pilpres 2019, politik yang berkelindan dengan spiritualitas semu cukup vulgar menghiasi ruang publik negeri ini. Pada tataran diskursus apa yang pernah saya sebut sebagai “figurasi” aspirasi dan gerakan politik-spiritual tertentu pada tahun 2019 mengerucut pada sesosok figur Rizieq Shihab (Histeria dan Neurosis Obsesional Dalam Diskursus Politik Kontemporer Indonesia, https://www.idenera.com). Adapun pada tahun 2020, pasca pilpres 2019, “figurasi” itu kembali akan dikonstruksikan pada sosok Bahar bin Smith (Kanan Terantuk, Kiri Terketuk, dan Paradigma Kehidupan Baru, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org) dengan varian yang cukup berbeda: nasionalisme semu.

Saya pernah menyebut gelombang pertama diskursus dan gerakan anti 4 pilar kebangsaan yang memfigurisasikan Rizieq Shihab sebagai gerakan “masturbasi antiklimaks” yang cukup radikal dalam membawakan langgam antikebhinekaan (“Masturbasi Antiklimaks” FPI, Heru Harjo Hutomo, https://geotimes.co.id). Sedangkan gelombang kedua yang bergaya nasionalisme semu, sehabis bubarnya HTI dan FPI secara hukum, pernah saya sebut sebagai diskursus dan gerakan “nasionalisme masturbasif” (Parasit dan “Nasionalisme Masturbasif”, Heru Harjo Hutomo, https://harakatuna.com).

Tapi gelombang “nasionalisme masturbasif” itu tak sesukses gelombang “masturbasi antiklimaks” yang dapat menumbangkan sosok Ahok dan mengantarkan Anies sebagai gubernur Jakarta—meski tak berselang lama nasib mereka hanya berujung seperti halnya “sandal jepit yang sukses mengantarkan seseorang ke kantor Gubernuran dan mesti sadar diri bahwa ia tak mungkin ikut serta masuk istana, ikhlas memberi ruang dan jalan bagi para sepatu” (Reuni dan Kasih Tak Sampai, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.net). Alih-alih menjadi pemenang dan menghasilkan sesuatu, Bahar bin Smith, yang merupakan figurisasi “nasionalisme masturbasif”, justru di-“sekolah”-kan kembali di LP Nusakambangan.

Baca Juga :   Pemuda dan Pembumian Pancasila di Era Digital

Saya mendamik diskursus dan gerakan antikebhinekaan itu semua sebagai sebentuk spiritualisme semu karena memang menggunakan idiom dan simbol keagamaan tertentu untuk membungkus agenda tersembunyinya, dengan melihat rekam jejak mereka, pendelegitimasian 4 pilar kebangsaan. Sifat semu (pseudo) spiritualitas mereka tercermin dari para pengikutnya yang terdiri pula dari oknum-oknum Katolik yang mendukung khilafah islamiyah sebagaimana yang terbongkar sesaat menjelang pilpres 2019. Di samping itu, dari perspektif psikologi sosial, perilaku mereka, alih-alih religus, justru menampakkan gejala histeria dan neurosis obsesional baik pada tataran diskursus (teks dan public statements) maupun psikomotorik di lapangan. Dengan demikian, saya kira, dengan melihat banyak kegagalan agenda mereka pada tataran pusat-nasional, yang belum tentu pada tataran pinggiran-lokal (Atas Nama Jumbleng: Mengulik Politik Wani Wirang di Penghujung Ramadhan, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org), dan sifat gerakan mereka yang patah tumbuh hilang berganti tapi dengan struktur histeria dan neurosis obsesional yang sama, maka secara kebudayaan dibutuhkanlah akal sehat sebagai obor sekaligus insting Semar yang memiliki kejelian dalam membaca sasmita zaman (Berlalu di Zaman [yang Tak Benar-Benar] Baru, Heru Harjo Hutomo, https://jurnalfaktual.id).

This post was last modified on 11 Juni 2020 1:11 PM

Heru harjo hutomo

Recent Posts

Jangan Hanya Awasi Layarnya, Mari Lindungi Anak dari Grooming dan Radikalisasi Online

Anak-anak hari ini tumbuh di dunia yang berbeda dari dunia yang dikenal orang tua mereka.…

4 jam ago

Anatomi Digital Grooming: Kenali Enam Langkah Rekrutmen Ekstremis di Gim Daring

Bagi sebagian besar orang tua, pemandangan anak sedang bermain gim daring barangkali tidak asing. Bermain…

4 jam ago

Dari Teman Mabar ke Ruang Ekstremisme: Modus Digital Grooming dalam Perekrutan Anak

Bayangkan seorang anak yang sedang bermain gim daring. Ia bertemu pemain lain yang ramah, sering…

4 jam ago

Pancasila dalam Wacana Buddha, Resep bagi Dunia yang Kian Gaduh

“Senjata terus diproduksi, kabar bohong menyebar secepat kilat, dan alam dikuras tanpa jeda. Di hadapan…

3 hari ago

Ber-Ber-Pancasila di Media Sosial, Sebuah Keharusan!

Suatu malam, saya melihat sebuah unggahan yang sebenarnya biasa saja. Seseorang membagikan pendapatnya tentang sebuah…

3 hari ago

Wajah Inklusif Mlangi: Menemukan Pancasila di Kampung Pesantren

Di tepi barat Kota Yogyakarta, tepatnya di Desa Nogotirto, Gamping, Sleman, membentang sebuah kawasan yang…

3 hari ago