Narasi

Ingin Jihad? Inilah 3 Rekomendasi Jihad Kaum Perempuan di Media Sosial

Ketertarikan perempuan terhadap jihad tentu harus berada dalam wadah yang tepat dan bernilai ibadah. Yaitu memperjuangkan agama-Nya yang bisa membawa dampak manfaat dan maslahat, serta memerangi segala kemudharatan bagi seluruh umat.

Mengingat hari Perempuan International di tahun 2023 yang mengusung tema  “DigitALL: Innovation and Technology for Gender Equality”. Maka, jihad perempuan perlu men-dominasi di ruang digital. Karena segala kemudharatan layaknya paham radikalisme-terorisme tengah mendominasi ruang-ruang digital. 

Apa Saja 3 Rekomendasi Jihad Bagi Kaum Perempuan di Media Sosial?

Pertama, menyadarkan perempuan-perempuan tentang kesadaran (literasi digital). Karena banyak perempuan terjebak ke narasi-narasi jihad/hijrah yang ternyata merupakan jebakan kelompok radikal-teroris. Maka, di sinilah jihad perempuan untuk membangkitkan semangat “melek” informasi/narasi yang tersebar di media sosial.

Membangkitkan semangat perempuan untuk mengkritisi dan saling berbagi informasi (sharing bersama) terhadap segala narasi/informasi yang ada. Jadi, adanya sebuah narasi/informasi di ruang digital bukan langsung diterima dan dicerna sebagai kebenaran. Tetapi perlu mempertanyakan kembali kebenaran fakta serta apakah ada motif ideologis yang bisa memecah-belah atau mengajak ke dalam kemudharatan atau tidak.

Kedua, semangat jihad perempuan dalam menyuarakan perdamaian, bahaya radikalisme-terorisme dan provokasi adu-domba di ruang-ruang online. Mendominasi (kolom status) yang tersedia di media sosial layaknya Instagram, Facebook, Twitter dan media sosial lainnya. Untuk menyadarkan para perempuan di seluruh dunia, utamanya di Indonesia tentang pentingnya perdamaian. Serta menyebarkan paham-paham ber-modus agama yang ternyata kejahatan kemanusiaan itu.

Jihad ini tentunya bernilai ibadah, mengapa? karena telah menyampaikan ajaran/perintah agama dalam menjauhkan umat manusia dari segala fitnah dan kerusakan/perilaku kemudharatan. Karena kejahatan radikalisme-terorisme sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama. Maka, ketika perempuan berperan dalam memberantas paham itu, niscaya sebagai satu jihad membela agama demi kemaslahatan umat.

Ketiga, Menyelamatkan anak-anak agar bebas dari pengaruh kultur kekerasan atau intoleransi yang tersebar di media digital. Jihad ini bersifat edukatif dalam menyadarkan generasi bangsa akan toleransi, perdamaian, pola beragama yang moderat serta kesadaran dalam menumbuhkan potensi ketangguhan anak-anak terhadap narasi radikalisme-terorisme di ruang online.

Anak-anak terkontaminasi paham radikal selain dipengaruhi oleh orang tuanya sendiri atau di lingkungan sekitar. Hal yang sangat dominan karena dipengaruhi oleh ketidakpahaman orang tua untuk mengontrol anaknya di media sosial. Maka, dari sinilah perempuan untuk jihad menjaga anak generasi bangsa di ruang digital. Agar, mereka terselamatkan dari propaganda ajaran radikal serta perlu membimbing mereka agar memiliki wawasan dan prinsip keagamaan yang inklusif serta anti-radikal-teroris.

Karena banyak fakta anak-anak remaja sering-kali terkontaminasi dengan virus kejahatan, kekerasan, anarkisme dan ujaran kebencian lewat media sosial. Anak-anak saat ini begitu fasih memisuhi dan melakukan aksi kekerasan dengan menganggap perilaku yang demikian adalah keren dan membanggakan.

Dengan mendominasi peran perempuan di ruang digital. Untuk mengontrol, mendidik dan membimbing anak-anaknya. Agar, tidak terkontaminasi dengan virus kekerasan, anarkisme atau kenakalan remaja. Sebab, pantauan orang tua menjadi sangat penting dan didikan orang tua juga menjadi sangat penting bagi tumbuh berkembang anaknya agar selamat dari re-generasi ajaran radikal-teroris.

Maka sekali lagi saya katakan, jika perempuan memiliki hasrat mulai untuk tertarik dalam gerakan jihad. Maka, cobalah 3 spirit jihad yang telah direkomendasikan di atas. Tentunya, tak sekadar bernilai ibadah karena menjalankan perintah agama-Nya memerangi kemudharatan mengatasnamakan kehormatan-Nya, tetapi menyelamatkan para perempuan lain, umat manusia dan generasi bangsa dari paham-paham perusak bangsa di ruang digital.

This post was last modified on 31 Agustus 2023 1:53 PM

Nur Samsi

Recent Posts

Menemukan Tuhan dalam Kecerdasan Buatan

Pergeseran budaya digital telah mendorong Kecerdasan Buatan (AI) ke garda depan wacana global, dan kini…

2 hari ago

Post-Truth dan Ilusi Kebenaran Versi AI; Awas Radikalisasi di Media Sosial!

Era digital menghadirkan perubahan besar dalam cara manusia memandang, menyebarkan, dan menerima informasi. Media sosial…

2 hari ago

Menjadikan AI sebagai Senjata Kontra Radikalisasi

Di era digital seperti saat ini, peran media sosial dan teknologi informasi semakin mendalam dalam…

2 hari ago

Prebunking vs Propaganda: Cara Efektif Membendung Radikalisme Digital

Di era digital, arus informasi bergerak begitu cepat hingga sulit dibedakan mana yang fakta dan…

3 hari ago

Tantangan Generasi Muda di Balik Kecanggihan AI

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa dampak signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Pengaruhnya…

3 hari ago

Belajar dari Tradisi Islam dalam Merawat Nalar Kritis terhadap AI

Tak ada yang dapat menyangkal bahwa kecerdasan buatan, atau AI, telah menjadi salah satu anugerah…

3 hari ago