Narasi

Internet sebagai Inisiasi Gerakan Perdamaian

Pada hakikatnya, bulan Ramadhan memang seringkali dimaknai sebagai sarana yang ideal bagi seorang muslim untuk menempa dirinya. Sebagai salah satu cara untuk menjaga lisan agar tidak berkata sesuatu yang menyakitkan dan tidak mengenakkan, serta menjaga jiwanya agar senantiasa bersih dalam bertingkah laku.

Ketika hal ini sudah menerpa dalam diri setiap muslim, maka Ramadhan akan memberikan warna dalam kehidupannya. Dirinya akan selalu menemukan kebahagiaan, cinta dan kasih sayang dari orang lain. Kebencian yang sebenarnya sulit diasingkan dalam diri seseorang, akan dengan mudah tersingkir dengan pendekatan ini.

Dalam a-Quran sendiri dinyatakan bahwa melalui puasa di bulan Ramadhan, seseorang mendapat peluang untuk mencapai derajat takwa. Di mana pada tingkatan ini, seseorang akan selalu terdorong untuk berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan yang tercela. Dengan kata lain, Ramadhan adalah sebagai media untuk mendekatkan diri kepada-Nya, agar senantiasa diberikan jalan kebaikan yang penuh rahmat

Hal inilah yang seharusnya menjadi pembelajaran bersama, bahwa bulan Ramadhan tidak hanya sebagai sarana untuk menahan lapar, tetapi kita sebagai sesama manusia harus bisa berempati dengan lingkungan dan orang-orang di sekitar. Melalui bulan Ramadhan ini, setiap orang bisa menyuarakan perdamaian. Baik lewat lisan ataupun lewat media sosial yang memang sudah menjadi kebutuhan pokok manusia sekarang ini.

Sejalan dengan itu, Ramadhan tahun ini menjadi titik balik untuk mengembalikan nama baik agama Islam. Hal ini dikarenakan maraknya aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan atau menggunakan identitas agama Islam. Sehingga membuat nama baik agama Islam tercoreng dan menyebabkan ketakutan  untuk beberapa orang yang beraktivitas.

Bisa dikatakan, Ramadhan sekarang ini menjadi momentum untuk mengembalikan citra agama Islam yang sedikit ternodai oleh aksi-aksi orang-orang yang tidak bertanggung jawab tersebut. Sebab, sejatinya ketika kita memahami konsep keagamaan, baik mereka yang beragama Hindu, Kristen, Budha sampai dengan Islam, tidak ada kekerasan di dalamnya. Agama adalah ajaran kasih sayang, untuk menyuarakan kebaikan antara sesama manusia dan menjaga keakraban untuk kebaikan diri sendiri dan untuk orang-orang yang ada di sekitarnya.

Untuk saat ini, spirit mengembalikan citra agama Islam bisa dilakukan dengan penguatan nilai-nilai kebaikan di bulan Ramadhan. Di mana seseorang yang berpikiran negatif harus memahami, bahwa orang Islam memiliki kebudayaan puasa dalam satu bulan penuh. Seperti yang sudah kita ketahui, puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu cara orang muslim untuk mengendalikan diri, menahan amarah dan menjaga dirinya dan kebaikan bertingkah laku ataupun berbicara.

Dan, untuk menyuarakan perdamaian ini, setiap orang dapat memanfaatkan media dengan bijak. Yaitu menjadikan media sebagai alternatif untuk berkomunikasi yang positif  dan menghilangkan spam-spam yang memang bisa membuat seseorang berpikir negatif. Misalnya membuat kata-kata seperti, Ramadhan menumbuhkan kembali citra baik Islam, dan kembali Indonesia yang damai.

Kata-kata sederhana ini, apabila dilakukan bersama memiliki makna yang mendalam untuk direnungkan. Seseorang akan menemukan perdamaian yang sebenarnya, dan dirinya pasti akan bisa menghargai orang lain. Sesuai dengan ideologi Pancasila, yang mengutamakan meskipun kita berbeda-beda, tapi tetap satu jua. Untuk berjuang menuju Indonesia yang sejahtera dan damai.

Menguatkan Solidaritas, Menumbuhkan Perdamaian

Puasa memiliki seignitifikasi yang jelas, yaitu ikut mendorong terciptanya perdamaian dan mengikis kekerasan. Visi perdamaian dalam ibadah puasa menuntut untuk menghindari kebencian, kedengkian, provokasi, fitnah, serta sikap permusuhan. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya memiliki makna perdamaian. Agama yang rahamtal lil alamin. Memberikan rahmat bagi semua manusia yang ada atas bumi ini.

Itulah mengapa, sudah seharusnya semangat Ramadhan digunakan untuk memupuk solidaritas di media. Seorang harus bisa berempati terhadap sesama dan orang yang ada di sekitarnya. Karena hal ini akan menumbuhkan kerukunan untuk hidup yang damai. Dalam memupuk kebersamaan ini, juga tidak hanya dilakukan di lingkungan, melainkan harus dilakukan lewat dunia maya. Sehingga akan banyak orang yang memahami pentingnya kebersamaan dan jiwa nasionalisme, untuk membangun Indonesia yang indah dan damai.

Apabila kita mencintai Tuhan, lewat praktik berpuasa di bulan Ramadhan dan disertai dengan keikhlasan. Maka cinta dan ketenangan akan senantiasa bersemayam dalam diri kita. Hanya kebahagiaan yang akan menerangi kehidupan ini. Hingga perdamaian akan selalu terjaga dalam lisan ataupun tindakan.

Suroso

Recent Posts

Ksatria dan Pedagogi Jawa

Basa ngelmu Mupakate lan panemu Pasahe lan tapa Yen satriya tanah Jawi Kuno-kuno kang ginilut…

23 jam ago

Ketika Virus Radikalisme mulai Menginfeksi Pola Pikir Siswa; Guru Tidak Boleh Abai!

Fenomena radikalisme di kalangan siswa bukan lagi ancaman samar, melainkan sesuatu sudah meresap ke ruang-ruang…

23 jam ago

Pendidikan Bela Negara dan Moderasi Beragama sebagai Benteng Ekstremisme

Indonesia, sebagai negara dengan keberagaman etnis, agama, dan budaya, menghadapi tantangan besar dalam menjaga persatuan…

1 hari ago

Narasi Tagut : dari Doktrin ke Aksi Teror-Jurnal Jalan Damai Vol. 1. No. 9 November 2025

Salam Damai, Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal Jalan…

1 hari ago

Guru Pendidik: Menanamkan Budi Pekerti dan Nalar Kritis Ektremisme

Dalam dinamika sosial yang semakin kompleks, peran guru pendidik tidak hanya berkutat pada transfer pengetahuan…

2 hari ago

Menyelami Peran Guru di Era Serba ‘Klik’

Dulu, untuk mengetahui penyebab Perang Diponegoro atau memahami rumus volume kubus, seorang siswa harus duduk…

2 hari ago